AES 250 What Am I Going To Write?
joefelus
Friday January 28 2022, 12:32 PM
AES 250 What Am I Going To Write?

Saya sudah duduk di depan komputer selama lebih dari 2 jam. Sudah beberapa ide dan judul saya tulis, lalu dihapus kembali karena ternyata tidak dapat saya kembangkan. Beberapa bulan terakhir ini saya lancar-lancar saja dalam menulis walau tentu saja mutunya masih dipertanyakan meskipun sesungguhnya saya tidak mau hanya asal menulis tanpa ada isinya yang jelas.

Iseng-iseng saya lihat-lihat lagi semua judul esai-esai yang sudah saya tulis. Baru sadar bahwa ada 2 tulisan dengan judul sama dan isinya sangat mirip! Wah, kacau ini. Apakah mungkin karena saya sudah menulis hingga hampir 250 esai, hingga tanpa sadar saya seolah-olah mendaur ulang ide yang sama. Bayangkan jika penulis esai profesional, apakah mereka juga mengalami hal serupa? Bagaimana menghindari ini agar tidak terjadi lagi?

Keinginan saya menulis tidak pernah surut dan seringkali begitu ada ide langsung tangan saya bergerak dan karena kebetulan pekerjaan saya adalah di depan komputer, maka tidak ada yang bisa menghalangi saya untuk mulai menulis. Nah masalahnya kadang kala karena ide tiba-tiba muncul dan saya langsung menulis, saya tidak ingat bahwa ide tersebut sebetulnya sudah basi, alias sudah pernah saya tulis. Nah baru kemudian ketika ditelusuri, saya menemukan 2 tulisan serupa dengan judul yang sama!

Beberapa bulan terakhir ini saya sepertinya tidak menghadapi banyak kesulitan dalam menemukan ide. Kalau saya perhatikan, terakhir kali saya bengong dan tidak mempunyai ide menulis adalah di awal bulan Oktober, jadi artinya selama 4 bulan terakhir saya lancar-lancar saja. Kebetulan hari ini memang banyak sekali kesibukan di tempat kerja, sehingga saya hanya memiliki sedikit waktu jeda untuk memikirkan ide yang bisa saya kembangkan menjadi sebuah esai. Ketika sampai di rumah, tubuh sudah lelah karena tadi pagi saya berangkat kerja dalam cuaca sangat dingin dan diguyur salju yang lumayan deras hampir seharian sehingga agak sulit berpikir untuk mencari ide.

Satu hal mengenai salju. Hening! Apa hubungan antara salju dengan keheningan? Ya, salju itu tidak memiliki suara, tidak seperti hujan! Coba bayangkan hujan di Bandung, hujan belum tiba suara nya sudah terdengar dari kejauhan. Pernah memperhatikan itu? Tidak hanya suara, seringkali melihat ke angkasa saja sudah terlihat akan ada hujan yang datang. Ya khan? Nah beda dengan salju, walaupun turun salju dengan sangat deras, tidak ada suara apapun yang terdengar! Yang terdengar hanya suara kaki ketika menginjak salju. Jadi kalau salju turun tengah malam, hampir tidak ada yang tahu kecuali jika memandang keluar melalui jendela karena tidak ada suara sedikitpun yang dapat di dengar. Lebih sering justru ketika bangun pagi dan membuka tirai jendela, lalu barulah kita tahu bahwa semalaman turun salju dengan melihat halaman semuanya sudah putih.

Hari ini sebetulnya kalau mengikuti ramalan cuaca salju yang turun tidak akan lebih dari 1cm, ternyata ramalan salah! Siang hari ketebalan sudah hampir 10cm! Sejak saat saya meninggalkan rumah menuju kantor, salju sudah mulai turun dengan deras, bahkan ketika tiba di kantor saya harus mencari handuk karena sekujur tubuh basah. Jalan di atas salju itu butuh usaha ekstra karena sepatu amblas juga harus ekstra hati-hati apalagi jika baru mulai turun karena banyak lapisan es yang licin tertutup butiran salju yang tipis jadi masih licin tapi tidak terlihat, ini yang banyak membuat orang jatuh terjerembab. Ya berjalan di atas salju itu melelahkan! Dan lebih menjengkelkan lagi ketika memasuki ruangan atau gedung, kaca mata langsung penuh dengan embun sehingga saya tidak bisa melihat apa-apa lagi, lebih repot lagi karena sekarang dimana-mana menggunakan masker, sehingga uap yang dikeluarkan hidung kemudian menutupi kaca mata! Saya selalu membawa lap untuk kaca mata, dan di tempat kerja ada semacam tissue yang bisa digunakan untuk mengurangi pengembunan di kaca mata, semacam anti fog gitu lah. Tapi masakan saya harus menggunakan tissue itu terus menerus? Mobilitas saya di tempat kerja lumayan tinggi, ada minimal 3 hingga 4 tempat yang harus saya kunjungi dan kadang tidak cukup hanya sekali, jadi saya banyak keluar masuk gedung. Ya begitulah keseruannya tinggal di daerah yang memiliki 4 musim.

Baiklah, sesuai dengan judul esai kali ini, What am I going to write? walaupun sudah beberapa paragraf, terpaksa saya harus menjawab pertanyaan itu, dan jawabannya adalah: Nothing! Ya hingga di kalimat terakhir, saya belum tahu harus menulis apa. Saya hanya membuat jari-jari menari di atas keyboard tanpa ada ide utama, saya hanya mengeluarkan apa yang saya pikirkan saja. Jadi maafkan jika isinya mutar-mutar tidak karuan tanpa alur dan ide yang jelas.***