Sudah sekian lama saya tidak menyempatkan diri duduk di kedai kopi di pagi hari, karena berbagai kesibukan. Hari ini saya menyempatkan diri dan memutuskan pergi berolahraga lebih siang.
Saya memesan Green Chile and Corn quiche dan mushroom chedar Tart, disamping kopi kegemaran saya. Saya sudah pernah cerita tentang quiche dari kedai ini yang sangat light dan lembut, tapi ini pertama kalinya saya memesan tart keju jamur! Dan saya begitu terpesona karena walaupun sangat sederhana tapi rasanya buka main, orang bule bilang,"It'll blow your mind!"
Saya membayangkan jamur ditumis lalu diberi sedikit krim dan keju cheddar, lalu ditaruh di atas puff pastry dan dipanggang hingga keju meleleh. Sudah begitu saja, sangat simple, sangat sederhana tapi entah mengapa dan bagaimana, rasanya begitu luar biasa. Kesimbangan rasa keju dan kelembutan jamur yang ditumis dengan sempurna, lalu ada rasa gurih dari krim dan juga ada sedikit keasaman dari keju, semua bercampur dengan sangat sempurna, saling melengkapi, dan saling menonjolkan keistimewaan setiap ingredient yang digunakan. Ini betul-betul membuat saya terpesona karena masing-masing bahan begitu menonjol tapi tidak saling mengalahkan. Pendek kata setiap bahan yang digunakan seolah-olah menonjolkan keluarbiasaan masing-masing! Bukan main! Mind Blowing! Singkatnya, sesuatu yang sangat sederhana jika diolah dengan sempurna maka akan menjadi sebuah sajian yang sangat luar biasa! Tidak perlu yang complicated, tidak perlu yang "wah", yang dibutuhkan adalah keseimbangan dan harmoni. Sesuatu yang sederhana jika memiliki keseimbangan dan harmoni, maka akan menjadi sesuatu yang sangat luar biasa! Bahan sederhana, penampilan biasa bukan berarti tidak istimewa!
Dari Sajian sederhana ini justru saya jadi berpikir tentang banyak gaya hidup yang rumit hanya sekedar mencari sebuah kepuasan. Banyak orang yang berusaha meningkatkan imaji mereka dengan cara melakukan banyak tindakan yang irasional. Kata Nina ketika saya mengungkapkan pemikiran saya, di dalam ilmu ekonomi ada yang disebut dengan irrational behaviour. Melakukan sesuatu yang diluar akal sehat demi pandangan masyarakat terhadap dirinya agar dia bisa merasa puas, satisfied. Seperti misalnya sengaja menyebrang jalan di tempat ramai dimana kendaraan bergerak sangat cepat agar supaya dianggap sebagai pemberani, atau membeli kendaraan super mewah walau sebetulnya tidak mampu hanya sekedar ingin dianggap sebagai orang kaya.
Berbeda halnya jika memang pribadi tersebut memang mampu. Namanya bukan irrational behavior, tapi conspicuous consumption, yang kalau saya kutip adalah sebagai berikut; Conspicuous consumption is the purchase of goods or services for the specific purpose of displaying one's wealth. Conspicuous Consumption is a means to show one's social status, especially when publicly display goods and services are too expensive for other members of a person class. Di sini bukan berarti semua orang yang melakukan tindakan ini ingin membangga-banggakan diri, tapi banyak juga yang melakukan ini karena mereka memang mampu. So basically they do not try to show off, but simply because they can. Namun, jika orang tersebut tidak mampu lalu memaksakan diri, ini baru disebut irational behavior, seperti film Inventing Anna yang saya ceritakan beberapa waktu yang lalu di AES 269, Con
Dari pemikiran sejenak saya gara-gara makan pastry isi jamur dan keju (hehehe), saya kira ujung-ujungnya memang tujuan dari perilaku itu adalah demi mencari kepuasan. Karena mungkin seseorang begitu kaya, dan mampu membeli barang-barang mewah, maka dia melakukan tindakan conspicuous consumption untuk menunjukkan kelas sosial, prestise sosial, dan public display of economic power. Namanya konsumsi, selalu ada kaitannya dengan kepuasan! Dan kalau memang mampu maka tidak ada salahnya dan sah-sah saja. Kalau mau pamer demi kepuasan dan memang dia mampu, itu juga boleh-boleh saja! Tapi pendapat saya mencari kepuasan tidak perlu jauh-jauh, hal yang sederhana bisa saja memberikan kepuasan yang sangat maksimal jika seandainya dikelola dengan sangat baik, contohnya Mushroom and Cheddar Tart yang saya nikmati pagi ini.
Peningkatan kemakmuran memang mengubah life style, secara otomatis juga tingkat kepuasan berubah. Hal-hal tertentu menjadi inferior ketika ada peningkatan kualitas hidup. Jika sebelumnya makan di warung tegal cukup memuaskan, begitu penghasilan meningkat, maka mulai makan di restoran dan seterusnya. Jika sebelumnya cukup dengan pakaian buatan lokal, dengan peningkatan kemakmuran maka mulai membeli barang-barang dengan kualitas yang lebih baik. Begitulah hidup, kepuasan menjadi sangat relatif. Sesuatu yang sederhana yang sebetulnya sudah dapat memberi kepuasan, lalu menjadi tidak cukup lagi.***