AES 282 Pain Is Inevitable
joefelus
Tuesday March 1 2022, 3:57 AM
AES 282  Pain Is Inevitable

Sambil beristirahat melepas lelah, saya mulai berpikir. Kenapa ketika ingin menjadi sehat dan bugar kok tubuh seperti dihukum habis-habisan hingga sakit. Semenjak mulai kembali berolahraga beberapa bulan yang lalu, saya merasa tidak pernah hidup tanpa rasa sakit. Ini berlangsung setiap hari, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. saya tidak merasa sakit jika sedang pulas tertidur. Saya kembali berkata,"This is so wrong! Why do we have to feel pain when we want to be healthy?"

Pertanyaan ini terus menerus hadir dalam benak saya sambil terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang jelas. Kalau dipikir-pikir banyak sekali yang menyenangkan dalam hidup itu tidak baik. Makan enak terus maka kolesterol langsung naik, gula naik, lemak berlimpah (hahaha), sementara untuk menghilangkan kolesterol, gula dan lemak butuh banyak usaha. Makan hamburger hanya butuh 15 menit paling lama, tapi untuk mengimbangi harus berkegiatan membakar kalori setidak-tidaknya 90 menit. HANYA UNTUK SEBUAH HAMBURGER!

Sepertinya tubuh manusia memang dirancang untuk aktif. Kalau kita hanya tidur-tiduran, atau seperti saya duduk bekerja di depan komputer lebih dari 8 jam sehari, maka tubuh menjadi tidak bugar. Itu sudah saya buktikan walau saya tetap berkomitmen untuk melangkah setidak-tidaknya 10,000 langkah setiap hari. Tidak Cukup! Saya harus lebih aktif jika ingin tetap bugar.

Saya akhirnya kembali aktif seperti beberapa tahun yang lalu. Risikonya: saya harus menerima kenyataan dan berdamai dengan rasa sakit yang selalu hadir setiap saat. Kenapa ya? Apa karena usia? mungkin juga sih. Saya ingat ketika masih anak-anak saya sangat aktif. berenang setiap hari, main basket setiap hari badminton setiap hari dan saya tidak ingat bahwa saya terus menerus merasakan rasa sakit seperti sekarang ini.

Akhirnya saya mencari informasi. Ternyata rasa sakit itu tujuannya untuk menjaga keselamatan manusia terhadap hal-hal buruk yang membahayakan. Contohnya jika tangan ditaruh di atas kompor maka akan merasa sakit, tujuannya agar tangan tidak terbakar. Jadi rasa sakit itu semacam alarm yang mengingatkan akan adanya bahaya.

Rasa sakit itu sangat berguna. Ketika tubuh berteriak karena rasa sakit karena berjalan terlalu jauh, maka itu semacam peringatan untuk berhenti dan beristirahat, sebab jika dilanjutkan maka akan ada bahaya menanti. Jika seperti saya berolahraga terlalu bersemangat, 3 atau 4 hari berturut-turut, maka tubuh saya merintih-rintih memohon belas kasihan dan minta berhenti untuk pemulihan. Bagaimana jika diteruskan? Saya akan celaka! Saya akan cidera! Jadi rasa sakit itu sangat berguna.

Rasa sakit secara emosional juga sama. Rasa sedih misalnya; jika kita tidak menyayangi seseorang, maka kita tidak akan bersedih jika yang bersangkutan meninggal. Rasa sakit secara emosional mengingatkan apa yang penting dalam hidup kita. Kesedihan juga merupakan tanda bahwa kita membutuhkan hiburan dan dukungan orang lain dan berlaku secara timbal balik. Ini merupakan dasar dari empati.

Jatuh cinta, misalnya. Jatuh cinta bukan perasaan yang menyenangkan. Rasa sakit ketika jatuh cinta menunjukkan bahwa ada koneksi yang kita harapkan yang tidak atau belum terwujud. Rasa cinta pada orang tua yang tinggal berjauhan, sangat tidak menyenangkan. Cinta pada pasangan, anak, adik atau kakak, semuanya sama. Jika hubungan kita tidak terjalin dengan baik dengan orang-orang yang kita cintai, maka akan ada penderitaan yang kita rasakan. Cinta itu penting dalam hidup kita, dan rasa sakit karena cinta memang tidak terhindarkan.

Dalam Budhism, ada yang dikenal dengan istilah Dukkha, yang artinya kesedihan, ketidakpuasan atau bahkan stress. Yang dimaksud adalah perasaan tidak puas, sedih, kecewa bahkan stress bila sesuatu tidak terjadi sesuai dengan yang diharapkan, sesuatu yang kita inginkan tidak terjadi, atau justru sesuatu yang tidak kita inginkan malah terjadi seperti misalnya kematian, kekalahan, kegagalan, dan sebagainya. Mungkin juga kata "duka" dalam bahasa Indonesia berasal dari dukkha, mungkin saja, tapi masih harus ditelusuri apakah begitu.

Dukkha terjadi ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak kita harapkan tapi kita tidak mau menerima kondisi itu. Misalnya diberhentikan dari pekerjaan akan membuat kita menderita, tapi jika kita terus menerus tidak menerima kenyataan, maka penderitaan tidak akan pernah berakhir.

Lalu bagaimana menanggulangi rasa sedih, rasa sakit, rasa kecewa? Sekali lagi, itu perasaan yang tidak dapat kita hindari. Pain is inevitable, but suffering is optional! Rasa sakit itu tidak dapat kita hindari, tapi penderitaan itu adalah pilihan. Menerima rasa sakit dan move on lalu mengambil tindakan yang positif, maka penderitaan akan dapat kita akhiri.

Rasa sakit adalah fakta bahwa ada sesuatu yang penting yang harus kita sadari sementara penderitaan adalah persepsi dan interpretasi yang merupakan hal pertama yang kita rasakan secara fisik dan mental terhadap pengalaman yang yang tidak menyenangkan yang tidak kita inginkan. Jika persepsi dan interpretasi kita baik, maka rasa sakit yang kita rasakan akan kemudian disalurkan dalam bentuk penerimaan lalu melakukan sesuatu untuk memperbaiki kondisi dan situasi itu. Reaksi kita terhadap rasa sakit bahkan pikiran kita terhadap rasa sakit dapat mengubah semuanya. Reaksi kita akan menentukan apakah penderitaan kita akan semakin besar, semakin berat atau dengan menerima kenyataan dan melakukan perbaikan maka penderitaan kita akan berangsur-angsur meninggalkan kita. Kata ahli psikologi, rumusnya adalah:

Pain + Resistance = Suffering

Jadi akhirnya terserah pada diri sendiri apa yang akan kita lakukan ketika mengalamai rasa sakit. Kuncinya sekali lagi: Pain is inevitable but suffering is a choice. ***

Foto: spineuniverse.com