You prolly think that you are better now, better now
You only say that 'cause I'm not around, not around
You know I never meant to let you down, let you down
Woulda gave you anything
Woulda gave you everything
You know I say that I am better now, better now
I only say that 'cause you're not around, not around
You know I never meant to let you down, let you down
Woulda gave you anything
Woulda gave you everything, oh-oh
Di atas adalah sebait syair dari sebuah lagu yang dulu sering Kano dengarkan, dinyanyikan oleh penyanyi rapper, Post Malone yang wajahnya banyak tattoo.
Saya bukan penggemar musik rap yang sangat digemari oleh Kano. Dia bisa tertidur pulas dengan lagu-lagu rap yang dia dengarkan dengan menggunakan earbud nya. Buat saya jenis lagu semacam ini bukan lagu yang enak untuk menemani tidur. Ini membuat saya bertanya-tanya, mengapa dia menyukainya. Apakah kisah yang disampaikan lagu-lagu ini merupakan teriakan dari dalam hati yang disalurkan melalui lagu? Ini sebuah misteri yang sampai sekarang masih membuat saya terus mempertanyakan.
Pagi tadi saya agak malas bangun. Hari Senin biasanya adalah hari saya ke kolam renang. Akhir pekan ini memang sangat dingin, demikian juga pagi ini, jadi ketika weker berbunyi, saya mematikan dan berpikir akan menggunakan sekitar 5 hingga 10 menit untuk berbaring. Dan saya terlambat bangun, kolam renang hanya menjadi angan-angan.
Di tempat kerja saya mulai berpikir apakah saya tadi itu malas? Lalu saya juga berpikir soal Kano yang dulu sering melakukan prokrastinasi. Apakah itu bentuk kemalasan? Saya juga menyaksikan seorang sahabat, dia punya gelar master, tidak ingat apakah dia selesai program Phd nya, sekarang dia tinggal di shelter sebagai homeless. Apakah dia pemalas? Padahal dulu dia begitu semangat, pernah tinggal di China dan bisa bahasa mandarin. Saya selalu memanggil dia sister karena nempel terus dengan Nina yang kemudian kami anggap kembarannya.
Saya sempat frustrasi dengan Kano. Terus terang saya tidak mengerti karena jika dilihat, dia anak yang super cerdas dengan IQ di atas superior bahkan katanya melihat potensi dia, IQ nya di atas 150! Jauh lebih tinggi dari saya yang tidak sampai 130! Tapi saya tidak pernah gagal di sekolah, saya terhitung sebagai murid yang penuh prestasi juara dibidang akademik. Ada apa ini?
Saya juga pernah menulis soal prokrastinasi yang terus-terusan Kano lakukan. Kemudian saya dengar dia berkata soal motivasi. Hmmm... Ini pernah menjadi pengalaman saya pribadi ketika masih di SMA. Saya kehilangan motivasi karena dari sekolah Katolik yang terkenal dengan disiplinnya, lalu di SMA saya masuk sekolah negeri yang jauh berbeda atmosfirnya. Ada istilah jika guru tidak masuk maka pelajaran berikutnya digeser agar bisa pulang awal. Otomatis guru tidak dapat berada di dua tempat yang sama, jadi kami dapat tugas, salah satu murid menulis di papan, teman-teman sekelas duduk mencatat. Sekolah macam apa ini? Saya marah, saya jengkel, motivasi hilang dan saya "malas" sekolah!
Apakah saya malas? Tidak! Saya bukan orang yang malas. Seingat saya, tidak pernah saya melalaikan tugas. Hanya sekali saya tertidur ketika mengerjakan tugas statistik semalam suntuk ketika masih kuliah. Tertidur hingga kesiangan dan tugas tidak terkumpul. Hanya itu! Toh saya masih memperoleh nilai A. Tapi kenapa saya terkenal sebagai tukang bolos sekolah? Karena saya benci dengan sekolah yang saya masuki dan tidak punya pilihan lain karena itu satu-satunya sekolah yang orang tua saya mampu. Saya tidak bisa mencerna dan menerima kondisi itu sehingga akhirnya saya lebih memilih duduk di dapur milik kenalan orang tua saya yang punya bisnis berjualan makanan. Saya duduk mengupas kentang, atau memukul-mukul daging yang sudah direbus agar lebih gepeng dan serat-seratnya lembut sebelum dimasak dengan bumbu. Senin saya tidak masuk sekolah karena saya benci upacara. Pidato di upacara membuat saya berpikir para guru itu adalah kelompok hipokrit yang mencela serta memarahi murid yang malas tidak berprestasi, sementara guru-guru sendiri pekerjaannya memberi tugas dan mereka menghilang! Selasa saya tidak masuk karena kepala sekolah memanggil dan menghukum para siswa yang tidak ikut upacara hari Senin. Rabu saya masuk dan kabur sesudah istirahat pertama karena saya benci pelajaran Bahasa Indonesia dan PMP. Benci bahasa Indonesia karena gurunya hobi membaca koran ketika mengajar. Lalu mengutip 1 paragraf yang dia baca di koran lalu suruh para murid menganalisa sementara dia lanjut membaca koran! Hari Kamis saya masuk sekolah hingga akhir karena ada matematika, fisika dan Kimia. Walau guru-gurunya gila karena hobi memberi nilai 3 pada setiap ulangan minimal saya belajar sesuatu. Hari Jumat hanya sekolah setengah hari karena sesudah pukul 10 saya ada kelas Agama katolik di gereja diajar oleh mendiang pastor favorit saya yang wajahnya seperti Agen 007, James Bond, saking gantengnya. Apalagi paginya ada pelajaran Biology yang ibu gurunya kecil dengan betis sangat besar, tapi sangat rikuh jika terus saya pandangi dan membuang muka karena tidak nyaman dipelototi. Saya bukan murid yang tidak sopan, tapi sangat iseng karena jika gurunya rikuh, saya jadi jarang ditanya Hahahaha... Ya saya bukan pemalas karena walau masuk sekolah hanya 1 1/2 hari seminggu saya masih tetap sering juara kelas karena semua catatan saya lengkap dan saya belajar sendiri di rumah. Oh, orang tua saya tidak pernah tahu, karena buku absensi kelas saya buang ke sungai, sehingga catatan kehadiran tidak muncul di rapor.
Kano sudah melewati masa-masa tidak ada motivasi. Tadi pagi malah dia minta diantar ke sekolah 1 jam lebih awal karena ingin menyelesaikan proyek yang harus masuk 4 hari lagi. Dia lebih memilih mengerjakan tugas-tugas di saat makan siang dan saat istirahat. Dia tidak pernah membawa tugas pulang. Semua sudah selesai dan Nilai dia semua A. Dia akan lulus 1 tahun lebih cepat dari teman-teman seangkatannya. Bulan Mei ini dia lulus SMA! Hampir setiap hari kami mendapat surat undangan dari universitas untuk mendaftar dan mengunjungi kampus. Sayangnya saya miskin tidak mampu membayar uang kuliah di Amerika!
Saya pernah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang profesor psikologi. Beliau berkata bahwa kemalasan itu tidak ada. Banyak mahasiswa gagal karena masalah motivasi, masalah mental, dan kendala-kendala lain. Para gelandangan itu sangat tidak beruntung harus menghadapi birokrasi, petugas sosial dan sebagainya disamping tuntutan untuk bangkit kembali mandiri disamping harus menghadapi kelaparan dan kedinginan. Mengapa mereka merokok? Katanya itu salah satu cara menahan rasa lapar berkepanjangan, mengapa mereka minum alkohol? Karena mereka kedinginan dan kesakitan karena tubuh mereka harus beristirahat di tempat-tempat yang tidak nyaman! banyak hal yang tidak kita mengerti karena tidak mengalami sendiri hidup di jalanan. Kita dengan mudah melabeli mereka sebagai pemalas.
Saya kembali mendengarkan lagu Post Malone. Apakah Kano banyak mendengarkan lagu lagu rap sebagai penyaluran frustrasinya? Apakah dia ingin mengatakan sesuatu yang tak terucapkan? Saya sering berandai-andai dan berkata pada diri sendiri,"I wish I could read his mind because I really want to help. I had some period of time struggling with frustration and nobody was there helping me." Dia sekarang rajin belajar, tidak ada tugas tertunda, tapi ini bukan indikasi 100% bahwa dia sudah melewati masa-masa beratnya, bukan? Yang saya yakin adalah dia bukan pemalas, sebab malas itu tidak ada! Mungkin saja saya hanya terlalu khawatir! Orang tua perlu memberi space so teenagers can sort everything out and get over with all their problems and challenges!***