Pernah berpikir bahwa liburan itu melelahkan? Tidak hanya fisik loh, tapi hampir semuanya. Padahal sebetulnya tujuan utama dari liburan dan berpergian adalah untuk refreshing, untuk penyegaran kembali untuk me-reset segala sesuatu, menjauh dari rutinitas menjauh dari beban kerja dan beristirihat sejenak. Tapi alas... apakah betul begitu? tidak semuanya!
Memang menyenangkan melupakan sejenak masalah-masalah harian, menjauh dari pikiran tentang pekerjaan serta beban pekerjaan yang setiap hari kita hadapi, menjauh dari lingkungan yang sudah melekat dalam kegiatan sehari-hari kita. Itu menyenangkan, tidak bisa saya pungkiri. Berada di suatu tempat yang tidak kita kenal dan setiap orang yang kita jumpai juga tidak mengenal kita, itu sangat melegakan dan memberikan sejenak perubahan yang bisa kita nikmati. Melihat tempat-tempat yang tidak biasa kita hadapi, melakukan kegiatan-kegiatan di luar rutinitas itu menyenangkan. Tapi sudah merupakan kecenderungan kita bahwa beberapa hari pendek yang kita miliki untuk liburan dipadatkan dengan berbagai macam kegiatan. Nah ini salah satu yang melelahkan bukan? Bayangkan saja jika setiap hari biasanya kita berjalan kaki mencapai 10 hingga 12 ribu langkah, selama liburan kita mencapai diatas 25 ribu. Itu saja sudah bisa menjadi ukuran bahwa keita melakukan kegiatan fisik lebih banyak. Tentu secara fisik akan melelahkan kita, bukan?
Hal lain, jika ada perbedaan waktu, ini juga akan merusak rutinitas metabolisme tubuh. Entah ada istilah itu atau tidak. Katanya melatonin dalam tubuh kita distimulus dengan kebiasaan kita. Biasa tidur jam tertentu, makan pada jam yang biasa kita lakukan dan sebagainya. Pada saat liburan semuanya kacau balau. Beberapa hari yang lalu saya selalu tidur di atas jam 2 pagi, bahkan ada satu hari menjelang matahari terbit. Jangankan melatonin, saya sendiri kebingungan karena jadwal rutin saya hancur lebur. Makan pagi yang biasa saya lakukan ketika masuk kantor, sekarang terlewatkan, makan hanya 2 kali sehari sebab bangun selalu siang karena tiduirnya sangat terlambat. Nah, kalau saya katakan liburan melelahkan jelas bisa terjawab mengapa-nya sebab kegiatan harian begitu padat, jam tidur berkurang, jadwal makan kacau dan banyak kegiatan fisik.
Itu yang saya alami beberapa hari terakhir. Sekarang tubuh saya harus dikembalikan ke semula, jadwal tidur dan bangun, jadwal makan dan juga jadwal kegiatan akan dikembalikan seperti semula. Nah beberapa hari mendatang tentunya tetap akan melelahkan karena harus menyesuaikan kembali.
Dari yang saya alami beberapa hari terakhir, apa yang saya pejalari? Bahwa liburan yang pendek dan sarat kegiatan, bukan jenis liburan yang saya gemari. Tujuan istirahat saya gagal total. Melepaskan diri dari rutinitas memang berhasil, tapi jika saya bisa memilih dan diberi kesempatan untuk itu, maka saya akan memilih liburan yang panjang dan semua kegiatan diatur dengan banyak keleluasaan tanpa harus dipaksakan dan dipadatkan. Akan lebih menyenangkan jika kegiatan utama hanya 1 atau 2 saja, sisanya untuk beristirahat seperti berenang, atau bersantai sambil membaca buku dan minum minuman segar. Saya tidak mau dalam 1 hari mengunjungi 5 tempat, misalnya. Itu yang akan melelahkan. Jadi kegiatan diatur dengan baik, jangan terlalu padat dan banyak waktu istirahat. Hanya saja liburan semacam itu tentunya mahal karena akan menghabiskan waktu yang panjang. Nah, oleh sebab itu saya sama sekali tidak pernah tertarik liburan dengan bergabung bersama tour. Satu hari kegiatannya banyak sekali. Saya pernah punya pengalaman menjadi tour guide selama beberapa tahun. Memang semua orang yang ikut tour ingin mendatangi semua tempat yang menarik, oleh sebab itu 1 hari bisa banyak sekali tempat yang dikunjungi dengan waktu terbatas. Tidak ada yang bisa bersantai sama sekali, kecuali memang waktu bebas yang telah dijadwalkan. Memang seru jika kita menyaksikan foto-foto yang diunggah teman-teman kita yang ikut tour liburan, Tapi apakah sebetulnya mereka bisa sungguh-sungguh menikmati? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kalau buat saya, mungkin lebih baik liburan sendiri. Pasti lebih mahal, tapi saya bisa mengatur sesuai dengan yang saya sukai dan saya inginkan.
Foto credit: healthdigest.com