(Repost from Ning)
Kalau sedang iseng atau jeda dari kesibukan pekerjaan, Saya sering membuka diskusi yang ada di Quora atau membaca berita tanah air entah di Detik atau Kompas dan media lainnya hanya sekedar meng-update kondisi saat ini. Yang menarik perhatian biasanya masalah politik dan pendemi yang selalu ramai.
Saya perhatikan, perdebatan tidak banyak berbeda di Amerika atau di tanah air. Mereka semua sama, ada yang berargumen berdasarkan fakta, saintifik, cerdas berbobot dan banyak yang berargumen secara emosional, tanpa dasar yang jelas dan bahkan menyerang hal-hal yang personal, tidak berbobot dan sering malah kampungan sehingga mempertontonkan level pendidikannya. Semua sama!
Kalau sudah begitu saya mulai berpikir mengapa ekspatriat yang bekerja di Indonesia diperlakukan secara istimewa? Saya dulu seminggu 2 kali pergi terapi ke seorang dokter ortopedik yang mempunyai kompleks perumahan yang isinya orang-orang ekspatriat. Mereka tinggal di gedung yang mewah, gated community dengan dijaga oleh satpam secara bergilir 24/7, punya sopir pribadi dan sebagainya. Pokoknya keren! Kalau mereka adalah atase budaya, eksekutif atau korps diplomatik saya mengerti, tapi saya juga tau ada keluarga yang berada di sana karena semata-mata berprofesi sebagai pengajar bahasa! Banyak contoh pekerja asing di Indonesia memperoleh perlakuan istimewa.
Anak saya dulu pernah sekolah di sekolah Internasional karena pada saat itu sulit masuk sekolah nasional karena kendala bahasa. Alasannya, supaya anak saya bisa belajar bahasa Indonesia lalu masuk sekolah nasional. Di sana saya lihat bahwa kualitas guru ekspatriat tidak istimewa, bahkan ada yang akhirnya dipecat karena disinyalir sebagai sex offender! serius! Saya tidak bohong! Lalu saya tanya, mengapa tidak merekrut guru-guru orang Indonesia saja, toh tidak ada bedanya bahkan banyak guru Indonesia yang saya kenal justru punya kualitas yang lebih baik bahkan memiliki tingkat pendidikan luar biasa. Alasannya karena sekolah Internasional jadi harus ada staf dari luar. Padahal kalau diperhatikan yang namanya staf dari luar kebanyakan dari Philipina, India, Singapura dan Taiwan. Orang Philipina dan India bahasa Inggrisnya ya begitu-begitu saja, orang Indonesia banyak yang jago bahasa Mandarin tidak kalah dengan orang Taiwan. Orang Singapura bahasa Inggrisnya juga lucu. Lalu apa bedanya dengan guru dari Jawa Barat? Pendek kata, menurut saya staf ekspatriat hanya untuk menaikkan "status" atau gengsi sehingga bisa disetarafkan sebagai sekolah Internasional. Begitu saya lihat kurikulumnya, memang dulunya kurikulum dari Singapura, mereka bayar royalti beberapa tahun lalu berhenti, mereka meng-hire seorang konsultan dari Singapura dan mengadaptasi kurikulum yang dulu mereka pakai (meniru?) karena lebih murah menggunakan konsultan daripada bayar royalti. Sesudah hampir 2 tahun sekolah di situ anak saya memang bisa bahasa Indonesia, jadi bisa masuk Smipa. Tapi kemudian memanggil saya dalam bahasa Inggris dengan dialek Sunda," Dedddddiiiiiiiihhhhhh!!!" Pake "h" serius! Padahal sebelum masuk sekolah situ anak saya bikin guru-gurunya agak jiper karena ngomongnya seperti bule hahahaha.
Keinginan saya menulis masalah ekspatriat hanya semata-mata ingin mengatakan bahwa orang-orang dari Indonesia tidak kalah hebatnya dengan orang-orang dari negara lain. Orang Amerika banyak sekali yang oon, tidak mau divaksin, tidak percaya Covid dan bilang bahwa vaksinasi adalah konspirasi pemerintah. Percaya atau tidak jika saya katakan bahwa direktur CDC (pusat kontrol dan pencegahan penyakit di Amerika) Dr Fauci, merasa prihatin mengetahui orang-orang di konvensi politik partai tertentu bersortak sorai ketika mendapat berita bahwa target pemerintah untuk vaksinasi tidak mencapai 70%! Bayangkan! Orang-orang Amerika dari kelompok politik tertentu yang sekarang tidak berkuasa di pemerintah merasa senang ketika mengetahui bahwa upaya vaksinasi tidak mencapai target? Bahagia jika negara kerepotan karena pandemi! Kok ada orang yang bahagia ketika negara, warga negara kesusahan? Ini serius terjadi, Di konvensi kelompok konservatif di Dallas belum lama ini. Kelompok konservatif dikenal sebagai kelompok yang banyak anggotanya anti vaksin.
Ekspatriat memang membantu jika memang memiliki kualifikasi yang baik. Banyak sekali orang Indonesia menjadi Ekspatriat di negara-negara lain. Jangan anggap remeh loh, orang Indonesia dicintai perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang Hospitality, hotel dan sebagainya karena terkenal sebagai pekerja keras, kompeten, tidak banyak mengeluh dan menuntut! Saya pernah kenal banyak orang Indonesia lulusan sekolah/universitas pariwisata yang bekerja di Hotel terkenal dan mereka sangat dihormati dan dicintai! Banyak diantara mereka yang bekerja di kapal pesiar dan dianggap sebagai karyawan yang unggul! Di Universitas tempat saya bekerja saja saya kenal beberapa orang Indonesia yang bekerja di sini dan mendapat penghargaan entah employee of the year, atau penghargaan seperti Above and Beyond Award! Orang Indonesia itu bibit unggul loh hahahaha, jadi sudah saatnya kita berhenti menganggap orang lain lebih superior karena terbukti bahwa kita juga superior***