Untuk merayakan kelulusan dan ulang tahun-nya, Kano memilih untuk berkumpul dengan sahabat-sahabat terdekatnya di rumah sambil ber-Bbq-an. Kano dan teman-temannya itu penggemar makan terutama yang berbau Asia dan yang terdengar agak eksotik bagi teman-teman bulenya. Nah selama ini mereka kalau mampir ke rumah saya siapkan spicy ahi poke bowl yang merupakan nasi sushi, potongan tuna segar yang saya buat seperti spicy tuna, kepiting imitasi yang saya buat salad, potongan mentimun inggris (English cucumber), rajangan daun cilantro (daun ketumbar) seaweed salad, furikake lalu diberi saus unagi dan spicy mayo. Ini kegemaran Kano, lalu akhirnya merembet ke teman-temannya yang selalu beranggapan bahwa masakan saya adalah masakan kelas dunia! Hahaha... Maklumlah anak-anak bule yang makanannya ya begitu-begitu saja seperti pizza, burger, kentang goreng dan pasta. Atau kalau di acara spesial mereka makan potroast, bbq brisket dan sebagainya, oleh sebab itu begitu mencoba makanan yang buat mereka eksotis, menjadi tergila-gila. Kano sering sekali ditraktir makan siang ketika mereka ke gerai fastfood di jam makan siang sekolah (Saya baru tahu bahwa mereka boleh nyupir keluar sekolah untuk beli makan siang! hmmm...) kerena mereka selalu berterimakasih sudah sering dijamu di rumah. Setiap kali Kano ingin bayar, mereka selalu melarang dan berkata,"You always treat us with 5 stars food at your house!"
Nah, Kano ingin menjamu teman-temannya dengan makanan yang lebih spesial lagi, yaitu BBQ-an gaya Korea! Saya di rumah memang punya grill listrik portable, jadi nanti saya akan menyiapkan di meja panjang di belakang rumah dan mereka bisa berpesta sepuasnya sementara saya dan Nina diusir! Hahahaha...
Untuk menyiapkan pesta itu, yang akan diadakan hari minggu sore, Sabtu ini saya dan Nina harus keluar kota sekitar 1.5 jam perjalanan yang jaraknya hampir sama dengan jarak Bandung-Jakarta. Nama kotanya Aurora. Di sana ada supermarket Korea yang lengkap menjual kalbi (iga sapi yang diiris tipis-tipis untuk dipanggang), potongan tipis daging sapi dan sebagainya seperti kalau makan di Hanamasa di Bandung atau restoran-restoran Korea atau Jepang. Saya juga membeli Kimchi karena tidak sempat membuat sendiri, lagian di toko itu kimchi banyak sekali dan tidak terlalu mahal. Nanti di rumah daging-daging itu akan saya bumbui dan direndam semalaman agar besok tinggal dibakar dan rasanya pasti sedap. Saya akan menyiapkan juga bayam yang dimasak dengan saos wijen, kimchi dari timun, dan salad pedas dari romaine lettuce dan wortel. Pokoknya anak-anak muda itu akan bisa menikmati makanan sedap ala Korea.
Sesudah belanja saya mampir disebuah toko es krim dan donut. Ini gerai yang dikelola oleh anak-anak muda generasi millennial. Ada beberapa gerai semacam ini yang pernah saya kunjungi. Berbeda dengan gerai-gerai yang biasa, mereka jauh lebih kreatif dalam banyak hal. Toko mereka didisain sehingga istilahnya "instagramable" hahaha.. Jadi tidak aneh toko-toko mereka ini sering jadi tempat selfie! Mampir, beli produk yang dijual lalu para pelanggan berfoto-foto. Nah makanan yang dijual sebetulnya tidak aneh, tapi memiliki konsep yang sangat kreatif sehingga makanan yang biasa saja dengan sentuhan mereka menjadi memiliki nilai tambah yang luar biasa. Anggap saja istilahnya makanan kampung tapi dibuat sedemikian rupa hingga menjadi makanan bintang 5, makanan seribu rupiah sesudah mereka olah menjadi makanan elite!
Yang saya perhatikan pertama kali saya membeli waffle di salah satu kampung mahasiswa di Seattle di University of Washington, di toko millennial ini waffle yang bisa saja kemudian dibentuk secara unik hingga rasa dan penampilannya sangat jauh berbeda. Harganya juga jadi berbeda pula hahaha... Mereka, sekali lagi, sangat kreatif dan memiliki konsep bisnis yang buat saya sangat luar biasa. Nah di Aurora ini saya mengunjungi toko yang konsepnya serupa tapi menjual donut dan es krim. Donutnya dibuat dari ketan jadi rasanya mirip gemblong hahahaha... Hebatnya gemblong ini sangat lembut dan tidak disalut dengan gula merah tapi coklat, macha, oreo, pistachio, ubi ungu dan sebagainya! Saya membeli karena tertarik pada penampilannya. Begitu saya makan, saya merasa pernah merasakan jajanan serupa, seperti bola-bola ubi di jalan ABC dan juga mirip gemblong yang dijual emang-emang yang ditaruh di kontainer alumunium jadul!!! Rasanya mirip kedua jajajan kampung itu! Ketika saya mencoba lalu memejamkan mata dan berusaha mengingat-ingat makanan apa di tanah air yang rasanya mirip ini. Dan ya itu tadi.. bola ubi dan gemblong! 1/2 lusin donat dan 2 eskrim, saya harus merogoh dompet dan membayar sekitar $40! Jagonya generasi Millennial, gemblong 2000 rupiah sesudah mereka sulap jadi gemblong millenial menjadi seharga 250 ribu! hahahaha...