"I don't cook. The machines do that for me at work!" Kata Kano
"What do you mean the machines? You are still in control, you operate the machines, so yea, just like me, I let the stoves do the work, I let the food processors chop or puree the sauce but I am in control of choosing the ingredients, portioning the spices, etc. And I call myself to do the cooking" Jawab saya
"All I do is just press the button. Like when I am grilling hamburger patties. All I do is just throw the patties on the flat surface then press the button. The thing on top goes down by itself, presses the hamburger patties, and starts cooking. I just stand and watch. When it is done, the thing on top goes up by itself and I just scoop the cooked hamburger and put it on the bread. Add all the toppings and wrap it and I am done." Kata Kano lagi
"Oh, I didn't know that you guys use a smash burger machine." Kata saya
"Yes, we do. Also when I have to fry french fries, I just dump the frozen fries into the basket on top of the frier and press the button. The basket goes down by itself to the hot oil and starts frying. When it is done, it goes up by itself. Cool huh?" Cerita Kano lagi
Saya menyerah. Kalau begitu caranya saya memang harus mengakui bahwa itu bukan memasak. Itu hanya mengoperasikan mesin yang bertugas memasak makanan hahaha..
Tadi memang sebelum pulang kerja Nina SMS saya dan mengatakan untuk bertemu di Lory Student Center. Itu nama gedung pusat kegiatan mahasiswa yang ada foodcourt nya. Kano dan Nina duduk di sana menunggu saya sambil makan. Kano membawa makanan dari tempat kerjanya, masih memakai seragam, kaos berwarna hitam, celana panjang hitam dan juga topi hitam.
"Try this daddy. I made all of these." Kata Kano
"What's this?" Tanya saya sambil memegang sebuah makanan sebesar ibu jari, mirip seperti risoles tapi lebih kecil dan lebih padat.
"It is like potato bites. Basically small diced potatoes, green chilies, and cheese. We freeze them then dip in bread crumbs and fry them. They are pretty good. I also made this hamburger. Let me know how you like those." Kata Kano
Saya mencicipi makanan-makanan itu. Enak! Saya lirik Kano yang menyaksikan saya menikmati makanan yang dia buat dengan mata yang memancarkan kebahagiaan dan kebanggaan. Sekilas kemudian saya tercenung. Jadi selama siang ini, pikir saya, ketika saya sedang bekerja di Kantor, pada saat bersamaan Nina juga bekerja mengajar para mahasiswa dan Kano juga bekerja membuat hamburger. Hmmm.. lucu dan seru juga, pikir saya. Lucu karena tidak pernah saya bayangkan bahwa kami bertiga akan bekerja di sini. Saya memang dari awal sudah membayangkan akan bekerja karena tanpa saya bekerja maka kami bertiga tidak akan pernah dapat bertahan hidup karena biaya hidup di sini tidak kecil. Tapi tidak sedetikpun terlintas dalam pikiran saya bahwa Kano juga akan ikut bekerja. Aneh rasanya.
Di sini sebetulnya, menurut saya, kami tidak betul-betul "hidup". Maksudnya semua yang kami lakukan selama 6 tahun terakhir ini adalah untuk semntara. Tujuan awal Kano dan saya adalah hanya sekedar menemani Nina yang sedang mengejar cita-citanya menyelesaikan pendidikan. Saya dan Kano hanya "berlibur". Ya, kami hanya "berlibur" panjang. Oleh sebab itu kami tidak banyak membeli barang-barang yang permanen, maksudnya bukan untuk dimiliki selamanya. Beda jika memang kami menetap di sebuah tempat sepanjang hayat, maka barang yang kami akan miliki juga yang tentunya bisa bertahan selama mungkin dan kalau mampu ya yang sebagus mungkin kualitasnya. Yang selama ini di Fort Collins kami miliki hanyalah yang fungsional. Beli piring yang murah-murah, beli peralatan dapur bahkan ada yang kami peroleh di trift store, alias toko barang bekas. Untuk apa beli barang yang istimewa jika nanti akan ditinggal? Ya, kami hanya tinggal di sini untuk sementara waktu. Ini hanya salah satu perhentian dalam perjalanan panjang hidup kami.
Nah untuk dapat "berlibur" selama bertahun-tahun, tentunya butuh biaya bukan? Untuk itulah saya bekerja. Saya bekerja bukan untuk menabung kekayaan, tapi untuk membiayai liburan kami ini, agar bisa berpergian ke berbagai tempat dan memungkinkan berbagai macam petualangan yang bisa kami alami. Seperti sebuah ungkapan yang pernah saya baca:
“Take vacations, go as many places as you can. You can always make money, you can’t always make memories.”
Yang selama ini selalu saya lakukan adalah melakukan petualangan sebanyak mungkin. Pernah juga saya menulis, entah judulnya apa, tapi juga di AES, saya pernah mengatakan bahwa saya bekerja bukan untuk memperkaya diri. Selama lebih dari 10 tahun dulu saya di rantau hampir tidak banyak membawa apa-apa ketika kembali ke Indonesia. Yang saya bawa adalah banyak cerita, banyak kenangan dan banyak petualangan. Yang saya lakukan saat ini juga hal yang sama. Nanti jika saya pulang juga saya tidak akan membawa banyak. Yang saya hasilkan di sini hampir seluruhnya saya habiskan di sini untuk meraup seluruh pengalaman, untuk membangun kenang-kenangan sebanyak-banyaknya. Yang selalu saya katakan pada diri sendiri adalah bahwa saya memang terdampar di sini. Tidak pernah dalam benak saya bercita-cita untuk berada di sini. Tapi persis seperti Douglas Adams, seorang penulis dan essayist dari Inggris katakan:
“I may not have gone where I intended to go, but I think I have ended up where I needed to be.”
Ya, saya memang tidak pernah disengaja untuk berada di sini tapi memang saya perlu berada di sini. Oleh sebab itu saya ingin memanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sebentuk liburan yang memorable. Ini adalah Jocation, liburan ala Jo! hahaha...