Saya duduk di kedai kopi sambil memandang keluar jendela. Sebuah snow sweeper bobcat sedang membersihkan trotoar yang penuh dengan salju. Bobcat ini mempunyai sebuah sikat besar yang berputar sehingga menyapu trotoar dari tumpukan salju sehingga para pejaan kaki dapat berjalan dengan aman di trotoar yang sudah bersih dari salju.. Lampu-lampu jalanan dan juga lampu kecil yang menghiasi pepohonan di seluruh pusat kota masih hidup. Matahari baru muncul sedikit dan hanya sesekali terlihat orang berjalan kaki dengan mantel yang tebal dan topi di kepala menutupi telinga. Saya melepas sarung tangah dan topi yang masih sedikit lembab karena terkena salju dan duduk menghadapi kopi panas yang baru saja saya pesan.
Hari ini hari terakhir saya bekerja sebelum libur musim gugur dan Thanksgiving selama 1 minggu penuh. Ini adalah hari dimana saya ingin sekali segera berangkat kerja, menyelesaikan semua tugas-tugas saya lalu sesegera mungkin pulang dan memulai liburan yang lumayan panjang.

Sambil menikmati kopi yang saya pesan, yaitu snickerdoodle yang merupakan campuran espresso, sedikit coklat, caramel, dan hazelnut, saya juga memesan blueberry scone. Ini adalah kue yang kalau dipikir-pikir konsistensinya antara cookie yang tebal, biscuit dan pie crust. Scone ini sangat crumbly karena bahan utamanya adalah baking powder, tepung, mentega dingin, telur, gula dan sedikit krim lalu ditambah pilihan buah seperti blueberry, raspberry, cranberry, dan sebagainya. Sering juga sebagai varisasi menggunakan cream cheese. Biasa scone dijadikan menu sarapan karena scone termasuk sebagai quick bread. Semua bahan dicampur di food processor lalu dibentuk dan dipanggang. Selama tidak overmix, scone sebetulnya sangat mudah dibuat. Adonannya tidak terlalu manis, oleh sebab itu scone seringkali diberi icing gula.
Tiba-tiba saya medengar sebuah musik yag sangat saya sukai. Sebuah karya komposisi Antonio Carlos Jobin. Girl from Ipanema yang dinyanyikan menggunakan bahasa aslinya, yaitu Portugis.
Olha que coisa mais linda, mais cheia de graça
É ela a menina que vem e que passa
Num doce balanço a caminho do mar
Moça do corpo dourado do sol de Ipanema
O seu balançado é mais que um poema
É a coisa mais linda que eu já vi passar...
Saya tidak tahu siapa yang saat ini membawakan lagu yang sangat terkenal ini. Yang saya tahu, lagu berirama bossa nova ala Brazil ini mulai terkenal sejak pertengahan tahun 1960-an. Menceritakan seorang wanita dari Ipanema, sebuah lokasi dekat Rio De Jainero, Brazil. Sudah banyak sekali artis yang menyanyikan lagu ini, termasuk salah seorang diantaranya adalah Frank Sinatra.
Jazz bossa Nova ini terus mengalun menemani pagi saya. Di luar salju masih turun walau hampir tidak terlihat karena sangat kecil. Hanya sekali-kali tampak seperti kristal kecil dan ringan berkilat ketika tertimpa sinar matahari dan terbang ke sana ke mari terhembus angin. Ini pemandangan yang sangat dramatis, cocok dengan iringan musik yang lembut, suara penyanyi yang mendayu-dayu serta indra penciuman yang dibelai semerbak harum kopi yang memenuhi ruangan. Ini momen dimana hampir semua indra yang saya miliki terbuai banyak hal.

Kedai ini belum terlalu ramai karena tidak banyak orang mau keluar rumah di suhu -17 derajat Celsius. Saya juga sebetulnya lebih memilih untuk diam di rumah dibawah selimut sambil minum minuman hangat. Tapi karena harus mengantar Kano ke tempat kerja, maka Nina dan saya memutuskan untuk menghabiskan sedikit waktu di kedai kopi sambil menunggu saat saya masuk kerja.
Kopi, jazz dan salju adalah kombinasi yang menakjubkan. Bagi saya ini merupakan pagi yang sangat menyenangkan dan saya rela tadi harus bangun jauh lebih pagi sehingga akhirnya dapat menikmati suasana seperti ini. Awal yang menyenangkan biasanya merupakan sebuah penyemangat untuk menjalani sisa hari dengan suasana hati yang sangat baik.***