Hari ini hari Jumat. Tidak banyak yang bisa saya kerjakan di kantor karena kebanyakan unit baru akan mulai buka hari Minggu nanti, itu juga perlahan-lahan karena para mahasiswa belum kembali dari liburan musim dingin. Semester musim semi baru akan dimulai akhir bulan. Saya mulai bosan.
Tadi sepagian saya menunggu pergantian hari waktu Indonesia supaya saya bisa menggunggah jatah esai saya untuk tanggal 14. Sambil menunggu saya berusaha membaca-baca. Tidak banyak yang saya lihat di Ririungan karena mungkin masa libur sehingga tidak banyak yang menulis. Saya tahu juga kakak-kakak di Smipa sedang sibuk mendesain program belajar semester depan. Hal ini yang selalu membuat saya kagum karena desain belajar di Smipa tidak pernah sama! Namanya juga pendidikan holistik yang mencakup segala aspek kehidupan, tidak mudah mendesainnya. Kenapa tidak mudah? Coba saja jawab dulu pertanyaan saya: Apa itu kehidupan? Seperti apa itu hidup? Apa tujuannya? Hahaha.. Pertanyaan sederhana, butuh waktu seumur hidup untuk menjawabnya. Betul khan? Serius loh, saya yang sudah lebih banyak uban daripada rambut hitamnya saja masih bingung apa tujuan saya hidup di dunia ini, apalagi mendesain program belajar buat anak-anak yang kasarnya belum tahu apa-apa. Ini kegiatan luar biasa ajaibnya!
Saya pernah jadi guru. Guru biasa! Bukan sekolah yang menggarap pendidikan holistik. Jadi sebagai guru biasa, kalau libur ya libur! Saya tidak memikirkan pekerjaan. Toh program setiap semester sama saja, kurikulum sudah ada, silabus sudah ada. Saya cukup mendaur ulang semua yang sudah saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Enak banget bukan? Saya jadi kaya robot karena menjalankan yang itu-itu saja dari tahun ke tahun sehingga saya merasa kehilangan identitas. Saya kehilangan idealisme, kehilangan semangat, kehilangan "panggilan" saya sebagai guru. Bubar jalan dan saya tidak mau lagi melakukan hal seperti itu. Buat apa jadi pendidik kalau saya sudah tidak mempunyai jiwa pendidik? Karena tidak bersedia jadi hipokrit, lebih baik saya hidup jujur dengan melakukan hal lain yang tidak dituntut tanggung jawab moral yang tidak bisa saya jalankan. Jadi guru itu bukan cari duit, tapi mengabdi. Kalau mau cari duit, jadi saja pengusaha. Kalau mau jadi pendidik, lebih baik tidak memikirkan uang hehehe..
Itu cerita kehilangan saya yang pertama. Memang saya dulu belajar untuk jadi guru. saya sempat menikmatinya, sempat hidup dalam idealisme hingga kemudian luntur dan kecewa karena berada di tempat yang salah dan merasa tersesat.
Kehilangan kedua, merasa menjadi dewa atau super hero! Hahaha.. ini memang agak hiperbola. Yang saya maksud adalah saya pernah merasa sebagai seseorang yang super dalam segala hal dimata anak saya! Pernah memperhatikan bagaimana mata seorang anak berbinar-binar karena begitu bangga bahwa orang tuanya segala bisa? Nah itu kenikmatan tiada taranya. Saya merasa seperti dewa yang bisa mengadakan hal-hal yang tidak ada. "Dad, I want sushi!" dan poof! sushi tersedia di meja dan anak saya dengan lahap menikmatinya walau bentuknya tidak karuan dan tidak seindah sushi di restoran terkenal. "Dad, I want chicken katsu don!" Kata Kano suatu hari, dan satu dua jam kemudian sebuah mangkuk atau piring dengan nasi hangat diberi furikake lalu diatasnya diberi potongan-potongan goreng ayam yang tersalut tepung roti kasar (panko) dengan saos unagi dan mayonnaise sesuai dengan kesukaannya tersedia di atas meja. Dia makan dengan lahap seperti makan makanan yang disajikan untuk para raja. Kepuasan menyaksikan hal-hal sederhana semacam itu tiada tara! Saya merasa seperti orang hebat yang mampu mengadakan sesuatu yang tidak ada. Sekarang peristiwa-peristiwa seperti itu mulai jarang saya rasakan, bahkan banyak hal yang saya lakukan kadang-kadang "dicela" karena Kano tidak setuju. Dia sudah punya pendapat sendiri! hahaha..
Yang ketiga, saya kehilangan teman-teman menulis! Hahaha.. Ini bukan usaha saya untuk menegur, sama sekali tidak. Setiap orang punya kesibukan masing-masing, saya termasuknya beruntung bisa selalu menyempatkan diri untuk menulis, jadi sebetulnya tidak hebat seperti yang dikatakan kak Andy, saya hanya beruntung. Nah saya kehilangan karena saya senang membaca. banyak hal yang saya peroleh dari membaca pengalaman-pengalaman teman-teman. Saya senang membaca opini tentang banyak hal, dan akhir-akhir ini memang sering tidak saya jumpai. Jangan salah, banyak tulisan yang sangat sederhana sekalipun dapat menginspirasi saya dalam menulis. Seringkali ketika sedang buntu dan tidak mempunyai ide, saya mulai membaca-baca lalu dari sana ada inspirasi yang muncul lalu tercetus ide untuk menulis. Nah saya benar-benar kehilangan ini. Mudah-mudahan saja ketika sekolah dimulai nanti, banyak teman-teman menulis lagi dan memperoleh keseruan-keseruan baru. ***
Catatan: Gambar ilustrasi hanya pemanis saja hahahaha
Foto Credit: wtoc.com
Betul Joe, saya juga kehilangan teman-teman yang menulis. Sampai sejauh ini masih terus mencari ide bagaimana memotivasi rekan-rekan orangtua dan kakak-kakak untuk menulis di AES. Masih penasaran dan akan terus mencoba nih. Akhir Februari kita akan gelar Festival Literasi. Mudah2an bisa mulai bergerak dari sana. Salam.
Pasti nanti rame lagi π Saya optimis, karena Smipa selalu spesial π
colek lagi kak @innocentiaine. Hayu ka Ine nulis lagi seperti saya aja 2 hari satu tulisan. βπΌπ
Hehe.. iya ya kelamaan berhenti, butuh usaha lebih untuk memulai kembali π€βπΌ