Jujur saja, tidak setiap hari saya memikirkan tentang pelajaran apa yang bisa saya ambil dalam menjalani hidup setiap hari, saya juga yakin tidak setiap orang begitu serius untuk merencanakan atau bertanya pada diri sendiri akan sesuatu yang ingin dia pelajari setiap hari. Banyak sekali pelajaran yang terpapar di hadapan kita, tapi seringkali kita tidak melihatnya. Baru pada suatu ketika, disaat yang tepat, kita baru bisa melihat sesuatu dan belajar darinya. Menarik bukan? Saya akan bercerita tentang sebuah contoh, dari film yang dibintangi oleh Tom Hank, The Terminal. Film tahun 2004 yang sudah saya tonton berkali-kali karena lucu dan juga berisi. Maklum sutradaranya saja Steven Spielberg!
Eniwei, di film itu seorang turis bernama Victor Navorski terlantar di JFK airport di New York karena di negara asalnya terjadi peperangan sehingga selama 9 bulan dia menjadi seseorang yang tidak punya negara. Artinya dia tidak dapat pulang karena negaranya sedang perang dan tidak bisa masuk kota New York karena jika dia tidak punya negara maka paspornya tidak berlaku. Dia keukeuh menunggu di airport dengan satu tujuan, menuntaskan janji kepada ayahnya yang baru saja meninggal untuk melengkapi 56 tanda tangan musisi Jazz yang menjadi koleksinya seumur hidup. Yang menarik adalah petualangan dia tinggal di Airport selama 9 bulan, dari kelaparan hingga menemukan cara mengumpulkan uang receh dari kereta untuk memberi sebuah hamburger hingga akhirnya menjadi pekerja konstruksi karena kebetulan ada kegiatan renovasi di bandara tersebut.
Berkali-kali saya menonton hanya sekedar untuk hiburan, baru hari ini sepertinya saya mempelajari sesuatu karena mungkin kebetulan ada hikmah yang bisa saya tarik berkaitan dengan hal-hal yang saya pikirkan belakangan ini. Yaitu mengenai tujuan dalam hidup. Yang saya lihat dari film ini, Victor begitu fokus dalam memegang teguh usaha dia untuk bisa ke New York. Beberapa kesempatan terbuka, diberi jalan yang ilegal, dia menolak dan hanya berkata," I wait!" Siapa yang tidak tergoda untuk mengambil jalan pintas yang terbuka lebar walau itu secara hukum tidak baik? Ada saat ketika dia memutuskan untuk menghapus mimpinya, mengubur rencana dia untuk ke New York demi menyelamatkan sahabat-sahabat barunya yang bekerja di airport. Keputusan yang mulia.
Kalau teman-teman belum menonton film ini, memang tidak akan mengerti apa yang saya beberkan di sini. Ini juga merupakan spoiler alert jika memang berencana menonton. Ini film lama, lebih tua dari Kano hahaha..
Asosiasi psikolog Amerika mendefinisikan purpose sebagai berikut: "a mental goal or aim that directs a person’s actions or behavior.” Jadi saya tangkap sebagai bentuk inspirasi dan motivasi yang merupakan misi untuk kita bertindak, alasan untuk kita berusaha.
Goal yang kita canangkan tidak perlu muluk-muluk, yang sederhana saja sudah cukup untuk memotivasi kita. Seperti misalnya goal saya adalah berjalan kaki sebanyak 10 ribu langkah setiap hari. Ketika sudah malam dan lelah dan saya lihat jam tangan saya haya menunjukkan 8000 langkah, maka saya termotivasi untuk menyelesaikan misi saya. Sesudah makan malam saya jalan-jalan keliling kompleks, bisa sambil merenung, atau hanya sekedar melihat-lihat. Itu juga merupakan kegiatan yang baik untuk dilakukan sesudah makan.
Tujuan Victor memang untuk melengkapi usaha mendiang ayahnya. Tinggal 1 tanda tangan lagi yang dia butuhkan untuk melengkapi misi puluhan tahun ayahnya. Bandingkan dengan pengorbanan terlunta-lunta selama 9 bulan di bandara di negara asing. Alasan dan tujuan dalam hidup tidak harus selalu yang muluk-muluk bukan?
Kita memang cenderung mencanangkan tujuan hidup yang begitu tinggi. Itu baik. Tapi hari ini saya mendapat pelajaran bahwa tujuan sederhanapun dapat mendorong kita untuk menjalani hidup dengan fokus dan determinasi yang luar biasa. Nah saya yang akhir-akhir ini merasa sedikit tersesat, mungkin sangat baik untuk mencoba hal seperti ini.
Foto credit: imdb.com