AES 825 Pegangan
joefelus
Sunday August 27 2023, 11:04 AM
AES 825 Pegangan

Sabtu pagi yang sejuk karena sejak kemarin cuaca panas yang tidak tertahankan itu berakhir dan diganti dengan udara sejuk dan hujan, bahkan ada warning dari kampus untuk berhati-hati karena ada kemungkinan banjir. Banjir tidak terlihat tapi katanya ada bocor di sana sini di gedung-gedung tua di kampus. Pagi ini saya duduk menemani Nina di depan TV, sebetulnya hari ini ada tour the fat, orang-orang naik sepeda keliling kota menggunakan kostum aneh-aneh. Hampir setiap tahun saya menyaksikan itu, kali ini saya lebih memilih menemani Nina.

"Hey Dad, can you help me moving stuff while I am vacuuming?" Tiba-tiba Kano menjulurkan kepalanya dari anak tangga.

"Sure." Kata saya tersenyum.

"See how much he's changed now about resposibilities?" Nina yang duduk di samping saya komentar sambil tersenyum. "I am so proud of him." Sambungnya lagi.

"Well, not much. I am still lack of a lot of stuff. Look how many dirty plates I have in my room." Kata Kano merendah. Hahaha.. memang iya sih, dia masih sering menunda-nunda, tapi ada banyak perubahan. Itu saya akui. Banyak inisiatif dia lakukan dan seringkali untuk kepentingan orang lain. Untuk kepentingan dia sendiri memang masih repot, cuci pakaian saja menunggu hingga segunung, misalnya. Tidak apa-apa, perubahan itu butuh waktu dan pada saatnya nanti semua akan beres. Saya juga mengalami hal itu bahkan hingga sekarang.

Saya memang berusaha bersantai hari ini. Istirahat. Banyak kejadian berturut-turut yang harus saya hadapi akhir-akhir ini. Saya ingin ketenangan, saya membutuhkan clarity agar mampu menghadapi segala sesuatu dengan prioritas yang jelas. Ada teman-teman yang mengatakan bahwa dalam kondisi di bawah seperti ini kok saya bisa tenang, sebenarnya tidak juga. Masih ada rasa khawatir dan cemas. Tapi buat apa memupuk perasaan negatif, yang penting adalah bagaimana saya menghadapinya. Ada satu hal yang menjadi pegangan saya, dan sejauh ini masih sangat membantu. Saya akan ceritakan.

Sambil duduk, iseng-iseng saya membaca sesuatu. Ada sebuah diskusi di Reddit tentang bagaimana orang-orang menghadapi kesulitan hidup. Saya kutip satu:

Last f$%#g April.

My dog died. He was only about 7 years old, and an undiagnosed tumor ruptured and he died within a few hours. And then my dad's cancer started growing again. And then my mom was diagnosed with cancer. And then my father-in-law was diagnosed with cancer. All within a few weeks.

Beberapa waktu kemudian dia menulis:

Edit: Thanks for the love everyone, Reddit can be a really nice place at times. It's actually going pretty well these days. I still miss the dog, but our other dog has now become outrageously spoiled. My father-in-law ended up having a completely curable form of cancer, and while chemo sucks, he's going to make a full recovery. My dad switched doctors and treatments and his cancer is back to inactive, my mom ended up having cancer with a rare mutation that's treated by a single pill per day with minimal side effects.

Sambil membaca saya mulai membandingkan dengan kondisi yang sedang saya hadapi. Wah, yang saya hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan orang itu! Begitu yang ada di benak saya. Banyak orang yang jauh lebih runyam situasinya. Saya termasuknya masih beruntung. Sedikit terhibur, walau saya terus terang merasa bersalah membandingkan diri sendiri yang tidak seberapa situasinya dibandingkan dengan orang lain. Ini hal yang normal, hampir setiap orang melakukan itu. Misery loves company, and seeing worse thing other people has to face actually makes us feel better! Itu yang saya rasakan. Tapi ada hal lain yang sebetulnya membuat saya tetap tegar, yaitu saya masih punya hope, harapan! Tidak ada yang kekal di dunia ini, bukan? Yang yang baik pada saatnya akan berakhir, demikian juga kesulitan. Selama kita masih punya harapan, maka kita akan mampu tetap berdiri tegar. Bukan menghibur diri, tapi siapa yang tidak pernah menghadapi kesulitan? Tidak ada! Semua pernah mengalaminya. Apakah terus menerus begitu? Tidak, ada saatnya semua usai.

Yang jelas, dengan mempunyai harapan, cara berpikir, cara kita bertindak juga akan berbeda. Saya ambil contoh: orang yang tidak mempunyai harapan akan berpikir secara negatif: Ah, saya tidak bisa! Saya tidak dapat mencari jalan keluar! Ini semua menjengkelkan, mengapa saya terus menerus mengalami hal ini? Nah kadang kita berpikir begitu bukan? Dan itu membuat kita putus asa. Tapi jika kita tetap mempupuk diri sendiri dengan penuh harapan, maka akan muncul hal-hal positif, seperti misalnya: Kita akan melewati kondisi ini, ini hanya ujian dan kita bisa menyesuaikan diri, atau saya yakin akan ada yang bisa membantu. Itu hanya beberapa contoh.

Hal lain. Berkaitan dengan perasaan. Orang yang putus harapan akan merasa ketakutan, khawatir dan putus asa, sementara orang yang memegang teguh harapan akan tetap fokus, mempunyai tekad yang bulat bahwa hal-hal ini pasti akan bisa ditanggulangi.

Bagaimana kita bertindak juga ditentukan dengan punya atau tidaknya kita akan harapan. Orang yang putus harapan akan lebih berdiam diri, mengurung diri dan berusaha mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain, sementara orang yang penuh harapan akan berusaha mencari jalan keluar. Jika tidak mampu bertindak sendiri maka akan berusaha mencari bantuan, mencari dukungan. Bukan minta-minta loh, dukungan bisa saja berbentuk dukungan moril atau ide dan pikiran, tidak hanya selalu dalam bentuk meteriil.

Nah sepertinya saya juga belajar dari banyak pengalaman sejak dulu. Saya bahkan ingat di jaman muda ketika masih di bangku kuliah saya mengalami hal yang jauh lebih parah, bingung bayar uang kuliah, tidak punya uang untuk bayar kos bahkan hanya punya uang 11 ribu rupiah untuk hidup selama beberapa bulan! Buktinya saya tidak pernah kelaparan dan saya bisa lulus menjadi sarjana. Saya malah tidak ingat lagi bagaimana bisa meleati itu semua. Tidak ada pengalaman traumatik bahkan seingat saya dulu itu bahagia-bahagia saja. Yang menjalaninya tenang-tenang saja mengalir sementara ibu dan adik saya yang tanpa setahu saya menengok, konon katanya menangis dalam perjalanan pulang. Anehnya justru saya menganggap masa kuliah adalah masa-masa yang penuh kebahagiaan. Aneh bukan? Ya sekali lagi tergantung bagaimana persepsi kita pada situasi yang sedang dihadapi. Bukan menyombongkn diri, tapi hanya sekedar berbagi bahwa dengan adanya harapan yang kita pegang teguh, karakter, attitude dan tindakan kita juga akan mengarah pada kondisi yang lebih baik. Pada intinya, saya selalu bilang, jangan mendahului Tuhan! Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang bisa kita lakukan adalah mengambil tindakan yang bisa kita lakukan saat ini. Harapan, hope, selalu mengarahkan pada hasil yang jauh lebih positif!

Foto credit: 12stepphilosophy.org