Sudah beberapa hari sejak @kak-andy mencolek saya untuk urun pendapat soal mencari pemimpin. Berhari-hari saya berpikir bagaimana akan merespon, sulit. Kenapa sulit? Karena saya sangat tidak menyukai politik, saya benci keruwetan yag terjadi setiap 5 tahun sekali ketika akan diadakan pemilu. Saya tidak suka politikus, saya tidak suka para pengikutnya, dan saya tidak suka dengan arak-arakan yang seringkali hanya membuat kacau.
Sekarang begini. Ini hanya ilustrasi. Misalnya10 tahun yang lalu calon A melawan calon B, mereka saling menjelek-jelekan. Mungkin A atau B nya tidak terlalu vokal, tapi pengikutnya, pendomplengnya, keroco-keroconya bercuap-cuap. Kubu satu berusaha memberikan gambaran buruk tentang kubu lain. Salah satu kemudian terpilih dan selama 5 tahun kubu yang kalah terus berceloteh menjelek-jelekan prestasi pemenang. 5 tahun kemudian kubu A dan kubu B bergabung, berkoalisi untuk mendukung calon baru! WTH??? Silakan komentari ungkapan saya ini, betul tidak atau saya hanya mengada-ada? Apa-apaan ini? Lalu selama ini saling menjelek-jelekan tapi kemudian mereka berteman. Ini sih seperti kerjaan anak-anak TK yang suka musuhan lalu kemudian bersahabat lalu musuhan lagi, terus berulang-ulang. Semuanya karena satu hal: KEPENTINGAN!
Nah yang lucu, imbasnya kemana-mana. Saya pernah ikutan grup ngobrol di salah satu platform ngobrol di internet. Grup itu kemudian pecah, hancur lebur. Yang tadinya bersahabat kemudian sampai sekarang gara-gara mendukung calon berbeda jadi bermusuhan. Terus terang saya tidak melihat ada keuntungan mendukung siapapun. Saya hanya diam dan tidak perlu memberitahu siapapun apa pilihan saya. Aman tentram dan berhenti membaca berita! Hahahaha
Jangan memarahi saya dahulu ya. Ini cuma unek-unek. Ada hal baik yang nanti akan saya ungkapkan di akhir tulisan ini. Sekarang saya hanya sekedar mengeluarkan kekesalan mengapa saya benci masa pemilu. Tidak hanya di Indonesia, saya tinggal di Amerika juga begitu. Negara terpecah dua hingga sekarang. Orang pakai masker karena sakit lalu dituduh sebagai orang Liberal, karena mereka yang konservatif sering membenci masker, alasannya karena mereka punya hak bebas memilih! Ya Tuhan! Serius loh, saya pakai masker selama beberapa hari terakhir ada teman yang komentar begitu,"Ah dasar lo liberal!" Loh tahukan dia bahwa saya memakai masker semata-mata menjaga keselamatan dia agar tidak tertular? Ya begitulah imbas dari politik dan dampak pada mereka yang miskin pengetahuan dan intelektual, lalu hal-hal sederhana dikaitkan dengan urusan politik yang dangkal.
Dulu saya sering bergurau. "Mas Jo pilih apa pemilu kemarin?" Tanya kenalan-kenalan saya. Lalu tahu apa jawaban saya? Begini:" Saya menunggu 5 tahun untuk menggunakan hak saya, masa cuma nyoblos satu? Gak puas dan juga tidak adil. Saya coblos sebanyak-banyaknya biar puas dan juga adil semua kebagian!" Hahaha..
Terus terang, saya seumur hidup hampir tidak pernah memilih perwakilan. Dari pengalaman selama ini mereka ini hanya orang-orang oportunistis yang seringkali hanya mementingkan urusan pribadi. Pernah lihat para pejabat yang foto-foto untuk menjual diri? Hahaha.. Itu sama rendahnya dengan mereka yang menjual diri di jalanan! Oh ya! Saya punya kemarahan hingga sekarang. Mereka menjual omong kosong selama kampanye dan sesudah terpilih tidak terdengar lagi suaranya. Mungkin ada beberapa yang tidak begitu. Saya kenal seseorang yang pernah bersama-sama tinggal di rantau. Saya menyaksikan sendiri kiprahnya turun ke kampung-kampung dan membenahi komunitas. Sayangnya dia wakil rakyat di Jawa Timur. Saya akan pilih dia kalau di wilayah saya. Tapi di wilayah saya tidak ada yang seperti itu. Jadi seringkali surat suara saya coblos tanpa saya buka.
Apakah saya pernah memilih dengan baik? Tentu saja. Itu hak saya dan juga saya ingin ada perubahan menuju kondisi lebih baik. Saya ingin pemimpin yang benar-benar bekerja untuk kemajuan masyarakat, bukan tukang bual, bukan tong kosong, bukan pengumbar janji, bukan penjual ludah dan bukan penipu. Pemimpin saya harus orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk rakyat, bukan untuk dirinya atau kelompokya. Ya begitulah politik, sangat tidak menyenangkan. Politik itu mahal, tidak hanya materiil tapi juga berdampak pada moral. Melelahkan. Perhatikan saja drama yang terjadi saat ini. Lihat calon-calon yang muncul. Lucu! Tapi saya akan pilih yang terbaik, walaupun tidak sempurna, tapi akan saya pilih yang terbaik dari sekian yang buruk-buruk. Tujuannya agar saya tidak dipimpin yang ngawur. Jangan tanya siapa, itu punya saya dan hak saya untuk tidak memberitahu siapa-siapa sebab saya tidak mau kehilangan teman atau sahabat. Hehehehe...
Foto credit: darrenwilsonglobal.com