AES 912 Dibawah Belas Kasihan
joefelus
Wednesday November 22 2023, 12:00 AM
AES 912 Dibawah Belas Kasihan

Cegukan saga saya masih terus berlangsung, malah seringkali semakin parah, dalam 1 detik bisa beberapa cegukan yang intens. Saya belum pernah mengalami hal ini seumur hidup. Kondisi ini harus segera ditanggulangi tapi saya tidak memiliki banyak resource yang bisa saya manfaatkan. Seperti cerita kemarin saya memang berusaha mencari klinik atau dokter yang menawarkan pelayanan tanpa harus memiliki asuransi. Sulit. Akhirnya Nina menemukan sebuah tempat pelayanan di kota tetangga sekitar 30 menit dari rumah yang dikelola oleh sebuah gereja. Mereka kelompok sukarela yang menawarkan pelayanan kesehatan tanpa memungut biaya.

Merasa berada di bawah bukan hal yang menyenangkan, beberapa tahun yang lalu saya pernah juga merasakan hal yang sama, bahkan saya menulis dalam blog pribadi yang kalau tidak salah berjudul Hitting Rock Bottom. Ketidak-berdayaan bukan hal yang mudah untuk dihadapi, tapi dalam hidup kadang kita terpaksa harus manghadapinya, entah kita mau atau tidak,

Di rantau saya juga pernah hidup dari makanan pemberian Food bank. Saya tidak malu mengungkapkan ini, sebab situasi seperti ini memberikan pengalaman pada saya sehingga saya selalu mampu bersyukur dalam kondisi apa saja. Pada saat mampu, saya tersadarkan dari pengalaman pada saat tidak berdaya untuk lebih menjadi manusia yang rendah hati serta selalu bersyukur dan kalau diberi kesempatan berusaha mengulurkan tangan untuk membantu orang lain yang berada di kondisi ketidak-berdayaan. Seperti analogi klise yang banyak digunakan, hidup itu seperti roda pedati, kadang di atas tapi juga kadang dibawah. Roda terus bergulir dan semua ada saatnya.

Eniwei, sekitar pukul 6 sore, ketika hari sudah gelap saya ditemani Nina dalam kendaraan melalui highway menuju Loveland, nama kota yang kami tuju untuk mendapat pelayanan kesehatan. Saya sudah mempunyai daftar pertanyaan dan begtu tiba di pintu yang terkunci, seorang opa-opa membukakan pintu dan menyambut.

"Are you Mr. Felus?" Tanyanya sambil mengeluarkan thermometer untuk mengambil temperatur tubuh.

Wah, dalam hati. Penyambutan ini membuat saya merasa lebih baik karena bahkan di rumah sakit besar sekalipun saya tidak disambut seperti ini. Seringkali security diam saja, kecuali kalau didekati dan ditanya. Ini sebuah permulaan yang baik! Pikir saya. Kemudian saya diantar ke meja dimana seorang oma-oma bertugas. Saya disambut dengan sangat ramah, diberi beberapa lembar kertas yang harus diisi, walau sebetulnya saya sudah isi di rumah dan saya kirim lewat email. Oma-oma itu meminta maaf bahwa saya harus mengisinya kembali. Tak apa, ini hal termudah yang bisa saya lakukan.

Ketika kertas-kertas itu selesai saya isi dan saya kembalikan, seorang opa-opa lain bernama Gerry mengajak masuk dan duduk di sebuah meja. Ternyata beliau adalah spritiual counselor.

"I need to ask you some question, and before we start, I need to tell you that there is no right or wrong about the answers. So you can tell me whatever suitable for you." Katanya menjelaskan.

Saya menyambut dengan anggukan mengerti.

"First question, Do you believe in God?"

Saya tidak menyangka akan ditanya ini. Saya sedikit terperangah, tapi kemudian saya mengerti. Fasilitas ini dibawah naungan gereja, sehingga mereka pasti saja punya misi pelayanan. Jadi saya memaklumi. Obrolan kami tentang sekitar kepercayaan dan tekanan hidup, sepertinya fasilitas ini banyak menghadapi orang-orang yang bermasalah dalam hidup, sehingga mata saya sedikit terbuka dan mengerti mengapa pertanyaan-pertanyaan ini mengerahkan pada sebentuk harapan.

Selesai ngobrol, saya diajak seirang suster untuk ke ruang periksa. Kemudian seorang dokter yang juga sangat tua masuk dan memeriksa. Saya merasa dirawat oleh para pensiunan. Lumayan lama dokter dan saya ngobrol, tidak ada resep yang harus dibeli, saya hanya diminta untuk banyak minum, makan obat yang sudah saya miliki dan ada beberapa latihan untuk mengurangi cegukan, dan saya dipersilakan pulang dengan senyuman semua orang bahkan ucapan terima kasih sudah datang dan bersedia mereka layani.

Sambil berjalan saya merasa tercenung. Ketika berangkat saya merasa agak ragu-ragu, ogah-ogahan karena merasa akan memohon belaskasihan orang. Ini perasaan yang sangat inferior dan tidak menyenangkan. Tiba di fasilitas itu saya disambut dengan ramah, penuh senyuman bahkan diantar keluar juga dengan senyuman. Mereka telah mengembalikan perasaan tidak berdaya saya dan menjadikan seseorang yang utuh kembali. Saya berjanji ketika semua tantangan ini berlalu, saya akan berusaha melanjutkan kebaikan yang telah mereka tularkan dalam diri saya. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka semua.

Foto credit; collinsdictionary.com