Tahukah apa yang memberikan kebahagiaan luar biasa, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata? Perasaan ini tidak dapat diciptakan, tidak dapat dibuat-buat bahkan tidak dapat diterka kapan datangnya. Yaitu ketika serang ayah sedang duduk di dalam kendaraan yang dengan tidak sabar menunggu anaknya yang masih bersiap-siap di rumah. Pada saat itu mungkin kesabaran sedang diuji karena waktu tersisa tidak lebih dari 10 menit dan artinya nanti di jalan akan bergegas menembus lalu lintas agar tidak terlambat. Ketidak sabaran itu tiba-tiba lenyap ketika melihat sesosok manusia muda yang berjalan seolah-olah waktu itu tidak pernah ada, seakan-akan dunia dia bergerak lebih lambat dari dunia di luar dia. Berjalan dengan gontai tidak ada sense of urgency sama sekali. Ketidak sabaran tadi berubah menjadi sebentuk kebahagiaan ketika tanpa sadar dalam sepersekian detik terbayang sebuah perjalanan panjang yang dialami oleh sosok yang semakin mendekat dengan senyum, sambil membawa makan siang dia.
Selama sepersekian detik yang terbayang ketika anak ini masih merah, setengah telanjang karena hanya mengenakan pampers telungkup memeluk lengan ayahnya sambil tertidur pulas sesudah sebotol susu hangat ludes dia hisap karena begitu laparnya.
Selama sepersekian detik membayangkan anak ini berlari tertatih-tatih dengan pakaian overall putih bergaris-garis hitam sementara ayahnya ikut berlari-lari kecil dibelakangnya. Anak itu menoleh kebelakang sambil tertawa-tawa penuh kemenangan karena merasa dikejar oleh ayahnya yang tidak pernah mampu menyusul dia.
Selama sepersekian detik membayangkan dia dituntun di hari pertama menuju sekolah bermainnya lalu di dalam kelas mengabaikan gurunya karena sibuk mengejar bola dan bermain sendirian. Dia memiliki dunianya sendiri dan bagi dia hanya bola dan dirinya. Di luar itu sama sekali tidak penting kecuali ketika gurunya membuat bubble maka dia akan segera bergabung dengan teman-temannya berusaha memecahkan bubble itu di udara sambil tertawa-tawa dan kadang bertabrakan dengan temannya lalu jatuh terduduk tapi langsung berdiri lagi berusaha memecahkan bubble sebanyak-banyaknya.
Selama sepersekian detik membayangkan mencari sekolah untuk anak ini lalu melakukan uji coba, tapi mengabaikan semuanya, mengabaikan gurunya dan teman-temannya karena lebih tertarik pada seekor kambing di kandang di depan kelas.
Selama sepersekian detik mengingat anak ini berlari di lorong sebuah universitas lalu duduk diantara para mahasiswi yang malu dan terbengong-bengong karena tidak mampu menjawab ketika diajak biacara dalam bahasa Inggris, lalu para mahasiswa itu saling menunjuk satu sama lain untuk menjawab.
Selama sepersekian detik mengingat seorang ibu-ibu warung segera mematikan rokoknya karena merasa entah takut atau malu karena selalu ditegur anak ini yang anti dengan rokok karena di tahu dan paham bahwa rokok itu merusak tubuh bahkan membunuh.
Selama sepersekian detik menyaksikan anak ini menangis tanpa ingin diketahui siapa-siapa sambil memandangi foto-foto teman-teman karibnya karena akan berpisah dan pergi meninggalkan mereka untuk waktu lama karena akan pindah bermukim di belahan bumi yang lain.
Dan selama sekian menit menyaksikan sesosok di awal masa dewasanya memakai seragam kerja berjalan sambil memegang makan siangnya dan bersiap-siap untuk berangkat menuju pekerjaanya. Tubuhnya yang tinggi dan kekar penuh dengan kepercayaan diri. Dalam beberapa hal sudah melampaui ayahnya. Seseorang yang sangat bertanggungjawab dan suka mengulurkan tangan untuk membantu rekan-rekannya agar pekerjaan mereka selesai dengan baik walau dia tahu bahwa itu bukan tugasnya. Seseorang yang sangat berdedikasi dan rela mengorbankan waktu istirahatnya demi kelancaran pekerjaannya.
Hanya sekian menit ketidak sabaran seorang ayah pupus karena melihat bahwa anaknya ternyata baik adanya. Tidak perlu teguran, yang ada hanya senyuman karena 10 enit ternyata masih cukup waktu untuk merasakan sebuah perjalanan cinta.
“A son is a love letter that a father writes to his heart.” – Prince Rogers Nelson, The Beautiful Ones (2019)