AES 1055 Kerja Keras
joefelus
Sunday April 14 2024, 12:46 PM
AES 1055 Kerja Keras

Hari ini saya menyaksikan 2 peristiwa yang inspiratif. Terus terang, hal itu membuat saya agak mempertanyakan jalan hidup yang saya pilih selama ini. Tentu saja saya akan selalu bersyukur dengan segala sesuatu yang sudah saya alami, banyak hal luar biasa yang tidak pernah saya sangka sebelumnya sudah terjadi. Saya juga tidak pernah menyesal akan segala keputusan dan pilihan yang sudah diambil.

Mempertanyakan sesuatu menurut saya sah-sah saja, dan sangat wajar. Bahkan kalau boleh saya berpendapat, sudah seharusnya kita selalu berusaha mempertanyakan segala sesuatu. Itu salah satu kunci dari kemajuan, keberhasilan dan menemukan hal-hal yang sangat berharga dalam hidup. Nah saya mengalami lagi hari ini, untuk kesekian kalinya.

Siang atau bahkan sore tadi saya pergi keluar kota bersama sahabat saya untuk mengambil pesanan makanan. Seperti biasa yang namanya hidup di rantau, kita selalu menginginkan banyak hal yang mengingatkan kita akan kampung halaman. Itu salah satu cara agar kita selalu ingat dan memiliki keterikatan dengan akar, dengan asal muasal keberadaan kita. Nah salah satunya adalah dengan makanan. Hahaha. Kesannya filosofis sekali, tapi ini merupakan sesuatu kebenaran. Jadi ceritanya saya pergi untuk mengambil makanan yang sudah kami pesan. Ada arem-arem, ketimus (atau kalau di Jawa namanya lemet) dan nasi liwet komplit dengan potongan daging empal, ayam goreng, tahu goreng, oseng tempe dan sebagainya.

Mengambil makanan itu sudah biasa kami lakukan, dan setiap minggu selalu ada warga Indonesia yang menawarkan menu makanan yang bisa dipesan. Nah hari ini saya agak terpukau. Sesudah melakukan perjalanan sekitar 1,5 jam Kami tiba di rumah orang yang membuat makanan itu. sebuah rumah yang besar, dengan garasi yang setidak-tidaknya cukup untuk 3 kendaraan ditambah carport yang juga luas. Kami masuk ke rumah itu ketika sudah dibukakan pintu dan dipersilakan duduk di sofa yang terbuat dari kulit, indah dan besar. Rumah keluarga itu bagi saya sangat mewah untuk ukuran kebanyakan orang, ada sebuah piano, televisi ukuran raksasa, dapur yang mewah dengan perabotan muktahir, serta sebuah island merangkap pantry dimana keluarga itu bekerja sama menyiapkan semua makanan yang dipesan oleh banyak warga Indonesia.

Di rumah yang luas dan besar itu saya juga lihat 2 bungkusan besar yang dibungkus plastik yang bisa saya baca dengan mudah dan saya tebak isinya, yaitu pampers untuk orang dewasa. Lalu saya ingat ketika akan memasuki rumah, ada jalan dengan railing yang disiapkan untuk kelompok disabilitas maupun orang yag mempunyai kebutuhan khusus seperti misalnya manula. Dari yang saya lihat itu bisa disimpulkan bahwa keluarga ini juga melakukan pelayanan perawatan bagi pasien yang live in. Nah ini memang banyak dilakukan oleh warga Indonesia sebagai salah satu bentuk usaha mata pencaharian. Banyak manula dan orang-orang yang berkebutuhan khusus tinggal di satu keluarga dan dirawat oleh mereka. Pemerintah akan memberikan kompensasi yang memadai bagi keluarga yang merawat pasien-pasien ini. Saya bahkan pernah melihat keluarga yang merawat 6 pasien sekaligus. Mereka tinggal bersama keluarga seperti bagian dari anggota keluarga itu. Penghasilan yang sangat lumayan, tapi juga rumah keluarga itu harus memenuhi standar persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah.

Saya tidak tahu berapa orang pasien yang tinggal di keluarga ini. Tapi dari situ saya tahu bahwa mereka bekerja keras. Dan yang lebih mengagumkan lagi, satu keluarga dan 3 orang anak bersama-sama menyiapkan makanan yang dipesan oleh warga.

"Minggu depan kami akan buat nasi padang, jika berminat. Kebetulan ada pertemuan dengan Konjen yang melayani warga jika ingin memperpanjang paspor." Kata bapak empunya rumah itu.

Kami mengangguk mengiyakan sambil terus memperhatikan mereka yang sibuk menyiapkan makanan dan memasukkan kedalam kontainer.

"Mas, saya kok jadi merasa jadi pemalas jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja dengan sangat giat. Sudah merawat pasien, dan juga menjual makanan di akhir pekan. Kalau dipikir-pikir kita juga bisa loh berbuat seperti itu." Kata saya yang merasa bahwa selama ini banyak membuang-buang waktu di akhir pekan dengan tidak melakukan hal-hal yang produktif.

"Kita khan kerja dari Senin hingga Jumat. Kemungkinan besar keluarga ini hanya merawat pasien di rumah. Jadi bisa nyambi masak makanan yang bisa dipesan." Kata sahabat saya ini.

"Tapi kita juga bisa masak dan terima pesanan, bukan? Sate misalnya. sate kita khan terkenal." Kata saya sambil tertawa.

"Ya sok, atuh." Jawab sahabat saya ini.

Saya hanya tertawa tapi juga terus berpikir apakah selama ini memang saya banyak membuang-buang kesempatan? Apakah berusaha menikmati hidup, menikmati akhir pekan dengan beristirahat itu juga merupakan hal yang baik? Hidup bukankah harus seimbang, tidak hanya dihabiskan dengan bekerja dan mencari penghasilan? Itu terus berkecamuk dalam pikiran saya. Berusaha mempertanyakan apakah segala keputusan yang saya buat selama ini benar. Apakah saya harus berbuat lebih? Saya tidak bisa menjawab. Bisa saja sih saya menghabiskan akhir pekan untuk hal-hal yang produktif, tapi saya juga berhak memilih untuk beristirahat dan mempergunakan waktu d akhir pekan untuk melakukan banyak hal yang bukan merupakan pekerjaan.

Malam harinya saya duduk dan bermain-main dengan telepon pintar dan menyaksikan banyak ptongan-potongan film. Salah satunya seseorang yang berusaha memberi hadiah pada seorang pelayan kedai kopi. Di tangan orang itu ada selembar uang sebesar $50, sementara di telapak tangannya yang dirahasiakan dari pelayan itu, tulisan $1K atau seribu Dollar. Orang itu menawarkan tips ke pelayan itu, seorang wanita, untuk memilih: $50 atau yang ada ditelapak tangan dia (yang tidak diketahui oleh pelayan itu).

Pelayan itu mengatakan bahwa $50 merupakan uang yang tidak sedikit, tapi dia merasa tidak berhak memperoleh tips sebesar itu karena hanya menyajikan segelas kopi senilai $3. Dia mengatakan bahwa uang sebesar $50 itu bisa diberikan pada orang lain yang lebih membutuhkan. Dia memilih apa yang ada ditelapak tangannya karena dia sangka tidak ada apa-apa, karena memang tangan itu kosong sedangkan uang 50 Dollar itu ditempelkan di punggung tangan.

Pelayan itu duduk sambil bercerita bahwa dia memiliki 2 pekerjaan. Dia lakukan untuk bisa membantu keluarga terutama adik perempuannya yang terkena penyakin kanker. Dia bekerja keras pagi hari bekerja di kedai kopi dan sore hari dia bekerja di gudang menurunkan barang dari truk dan menyimpannya dalam gudang serta menaikkan muatan ke truk barang yang akan dikirim.

Pelayan itu merasa yakin dia tidak berhak memperoleh $50 karena yang dia kerjakan menyajikan kopi tidak sepadan dengan tips yang ditawarkan. Dia merasa tidak berhak dan dengan jujur lebih memilih tidak mendapat apa-apa dan membiarkan orang lain yang lebih berhak untuk memperoleh $50. Seorang pekerja keras yang jujur dan tidak serakah.

Akhirnya dia diperlihatkan apa yang ada ditelapak tangan orang itu, yaitu tulisan $1K. Lalu dia disodorkan setumpuk uang senilai $1000. Pelayan kedai kopi itu menangis terharu. Saya juga terharu. seorang pekerja keras yang jujur memang layak memperoleh penghargaan yang setimpal. Hal itu mengingatkan saya bahwa kejujuran, kerendahan hati dan jauh dari ketamakan adalah nilai-nilai yang perlu dijunjung tinggi dalam hidup. Saya juga merasa sebagai orang yang beruntung, banyak kebaikkan yang saya terima dari banyak orang dalam perjalanan hidup ini dan berdoa serta berharap jika ada kesempatan saya bisa lebih banyak memberi karena sesungguhnya saya juga sudah sangat banyak menerima, dan yang penting juga adalah selalu berusaha untuk selalu bekerja keras.

Foto credit: quora.com

You May Also Like