AES 1115 Proud Dad
joefelus
Friday June 14 2024, 10:56 AM
AES 1115 Proud Dad

"Hi Chef, How's it going?" Tanya saya. Saat itu saya sudah pulang kerja tapi masih punya waktu 1 jam sebelum menjemput Nina di tempat kerjanya, jadi saya mampir ke unit Kano bekerja untuk bertemu sahabat saya.

"Hi! You should try Kano's ribs! It's amazing. Right on the money!" Kata chef Chavez yang membalas sapaan saya.

"Really?" tanya saya balik.

"Yes! It's perfect!" Kata Chef lagi dengan wajah gembira dan bangga.

Saya ingat dulu sebelum Kano mulai bekerja di unit itu, saya pernah ngobrol dengan Chef ini. Saya berusaha menitipkan Kano yag pada saat itu masih sangat hijau, belum lagi 18 tahun umurnya dan hampir tidak memiliki pengalaman bekerja di dapur. Memang dia selama hampir setengah tahun bekerja di restoran hamburger, dan menurut cerita Kano (yang tentu saja saat itu saya masih agak sangsi) bahwa dia sangat disukai karena penuh tanggung jawab dan sangat tangkas. Nah, chef ini berjanji bahwa jika memang Kano suka bekerja di dapur, dia akan mengajarkan segala hal yang dia ketahui hingga mahir. Mungkin itu yang membuat dia begitu gembira dan bangga bahwa didikannya berhasil.

Saya sangat penasaran. Memang Kano beberapa waktu terakhir ini mengajak saya untuk mampir di tempat kerjanya lewat pukul 4 sore. Dia bercerita bahwa selama musim panas ini dia setiap hari membuat BBQ ribs. Dia juga bercerita bahwa akhir-akhir ini banyak rekan kerjanya termasuk chef yang memuji hasil kerjanya. Kano ingin saya mencicipi dan memberikan pendapat. Karena begitu penasaran, saya langsung ke tempat dia menjalankan tugasnya dan saya lihat dia sedang mengeluarkan iga yang sudah diasap dan dibumbui dan dipotong-potong sesuai denga porsinya untuk menu makan malam.

"Saaaap?!" Sapa saya.

"Hi dad, please try this!" Kata Kano sambil menunjukkan sepotong iga bagian ujung. Ini bagian yang tidak akan disajikan karena terlalu kecil. Saya ambil potongan iga tadi dan langsung saya cicipi. Dagingnya begitu empuk dan lembut, sausnya meleleh ketika masuk ke dalam mulut. Ada rasa asap, manis, gurih, dan sangat harum.

"This is very good. Juicy, not dry, perfectly cooked, and fell off the bone!" Kata saya sambil dengan lahap menikmati iga tadi. Potongan yang sangat sempurna karena ada kadar lemak yang cukup, bumbunya begitu meresap dan sangat empuk hingga dagingnya lepas dari tulang begitu saja.

"Right?" Jawab Kano dengan bangga.



Saya segera bergegas sambil masih memegang sep[aruh daging itu ke kantor sahabat saya.

"What are you eating?" Tanya sahabat saya.

"Ribs!" Jawab saya pendek

"Kano's? Is it good?" Tanya sahabat saya

"It's excellent! You should be proud, Jo!" Tiba-tiba Chef Chavez sudah ada di belakang saya dan menjawab pertanyaan sahabat saya itu sebelum saya mampu berkata apa-apa.

Chef ini kemudian mengambil tempat duduk dan kami bertiga berbincang-bincang. Dia bercerita bahwa Kano mengerjakan semuanya itu dari nol. Kemarin dia membuat bumbu perendam lalu merendam 18 slabs iga. Sejak dia memulai shift tadi pagi, dia mulai membuat bumbu barbeque dan mengasap iga-iga itu, lalu entah apa lagi, mungkin dipanggang. Yang jelas iga panggang itu sangat luar biasa bahkan harus saya akui bahwa yang Kano buat ini jauh lebih enak dari pada iga-iga yang pernah saya buat.

"You should bring some for mbak Nina." Kata sahabat saya.

Saya agak termanggu juga mengalami peristiwa ini sore tadi. Siapa pernah menyangka bahwa Kano mempunyai bakat luar biasa di dapur. Selama ini dia hampir tidak pernah berada di dapur. Membuat indomie saja saya tidak pernah melihat! Memang ketika kecil saya sering mengajak dia "bermain" di dapur, membuat sushi bahkan membuat bapau. Tapi itu seperti bermain-main sebab saya harus memasak dan ingin tetap bisa mengawasi Kano. Daripada saya di dapur lalu Kano bermain di tempat lain tanpa pengawasan, saya memilih dia menemani saya, dan saya ajak "memasak". Bukan kegiatan serius. Nah, siapa sangka dia bisa begitu jago, bahkan melebihi bapaknya. Saya tersenyum dan merasa bangga.

"I do not want to spend the rest of my life in the kitchen, though." Kata Kano suatu hari ketika saya jemput.

"You can do whatever you want, Kano. It is your life and you have the right to enjoy it as you want. But, you have to decide whatever path you choose wisely." Kata saya.

"Of course. That's why I want to finish my college fast. So far I have A plus on all the classes I took. The class I am taking right now is also an A plus. I am planning to take more classes next semester." Kata Kano

"Good! Keep up the good work." Kata saya sambil tersenyum. Saya memang memberi kesempatan dan kebebasan sebanyak-banyaknya untuk dia memilih jalan hidupnya. Bekerja di restoran dan akhirnya di dining center juga merupakan pilihan dia. Saya tidak pernah ikut campur. Memang saya memberikan informasi soal lowongan. sahabat saya juga tidak menerima dia bekerja karena "koneksi" pertemanan. Keputusan menerima dia bukan hanya ditangan sahabat saya, demikian juga ketika Kano dipromosikan untuk naik pangkat.

Besok dia akan menandatangani kontrak apartemen. Akhir pekan ini dia akan mulai siap-siap untuk pindah rumah. Kamar dia sudah penuh dengan tas dan duffle bags yang penuh dengan barang-barang pribadi. Hari minggu dia akan saya temani untuk membeli meja dan perabotan rumah. Dalam beberapa hari mendatang dia akan tinggal di apartemennya sendiri. Anak ini sudah bisa mandiri, mempunyai penghasilan sendiri, tempat tinggal sendiri, kuliah dengan usaha sendiri, dan sebagainya.

"You guys raised me well!" Kata Kano

Saya mengangguk sambil tersenyum.

"Have I proven myself to be a good worker? Capable, responsible, and reliable?" Tanyanya lagi

"Yes. I am very proud of you." Kata saya

You May Also Like