Kadang jika sudah lelah kita terjebak dalam pikiran yang dangkal dan seringkali negatif, apalagi jika memang sedang menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah. Seperti sore ini saya sempat berpikir bahwa hidup saya mengalami degradasi yang sangat ekstrim.
Contoh sederhana, walau sudah saya duga sejak lama bahwa masalah air akan harus saya hadapi, walau sudah terantisipasi, saya masih harus mengalami berbagai kesulitan. Para pekerja memang terus bersemangat melakukan tugasnya, tapi kondisi sudah cukup terlambat, air saya sudah habis sehingga bertul-betul harus menghemat, saya terpaksa mandi hanya satu kali sebelum istirahat, selebihnya sepanjang hari saya harus bertahan dengan perasaan tidak segar.
"Pa Asep, nomor HP na sabaraha? Supados upami abdi peryogi cai tiasa nelepon ka Bapa. Tiasa henteu ngeusian toren abdi di luhur?" Tanya saya yang bahasa Sundanya mulai terbata-bata. Saya tidak yakin bahasa halusnya di luhur itu apa, ditonggoh? ya sudah salah sedikit tidak apa hahaha
"Tiasa pa Jo upami gaduh taraje mah." Kata pak Asep yang hari ini mengantarkan air untuk digunakan dalam pemboran. Saya lalu timbul ide, daripada saya tidak mandi, alangkah lebih baik jika saya membeli air untuk mengisi tempat penampungan air di atas. Hanya saja karena tinggi harus membutuhkan tangga.
Lalu saya timbul ide untuk memotong saluran pipa dari sumur gali menuju Toren di atas lalu saya tambahkan kombinasi sambungan dengan tambahan akses yang bisa digunakan oleh pak Asep menyalurkan air ke atas. "Mudah!" pikir saya.
Membayangkan menyegarkan tubuh tanpa harus menghitung berapa gayung yang bisa digunakan merupakan sebuah kemewahan. Hahaha.. Ini memang bukan yang terburuk yang pernah saya alami. Jaman mahasiswa ketika saya menumpang pada seseorang, saya hanya bisa menggunakan 1 gayung untuk gosok gigi. Tempat saya menumpang hanya berhasil memgumpulkan 1 ember air, saya tidak tega untuk menggunakannya. Saya sering pergi kuliah tanpa mandi! Jadi bayangkan sudah kurus kering, tidak mandi pula! Hahaha.. Biasa sepulang kuliah saya mandi sepuas-puasnya di tempat teman atau saudara. Hidup saya memang penuh petualangan!
Demikian juga kali ini. Dulu saya sempat mengambil air dari beberapa tempat. Kendaraan saya penuh dengan kontainer plastik besar berisi air. Seingat saya, tidak pernah membuang kontainer-kontainer itu, jadi pasti ada di salah satu gudang tertimbun barang-barang lainnya. Sayangnya saya sedang tidak sehat beberapa hari ini, jadi saya belum bisa membongkar gudang. Saya tidak mau kesehatan saya semakin bermasalah karena debu, saya memang sangat sensitif terhadap debu.
Mudah-mudahan air dapat segera ditemukan. Para pekerja sangat optimis. "Seueur pa cai mah, mung kedah nembus batu, tingali we dipojok, batuna tos satumpuk." Kata seorang pekerja sambil menunjuk tumpukan batu yang sudah berbentuk selongsong yang berhasil diangkat dalam proses pemboran. Memang banyak sekali. Bartu-batu itu membuat proses pencarian air sangat lambat. Tapi semuanya hanya sementara, pada saatnya semua akan terselesaikan.