Ada satu tombol di ruang tempat saya biasa menulis blog harian yang berbunyi: Add new post yang kalau tidak salah berwarna biru atau hijau. Hampir setiap hari saya menekan tombol itu lalu saya mulai menulis. Berbeda dengan malam ini, tombol itu memang saya tekan, lalu saya bertanya: but what? Hahaha.. Saya bertanya itu karena saat ini sudah sangat lelah, masih berusaha menulis tapi tidak tahu apa yang akan ditulis. Benak saya juga sudah lelah sesudah sepanjang hari bersama beberapa orang sahabat banyak berdiskusi tentang hidup.
Banyak peristiwa sekitar sahabat-sahabat saya yang kami bicarakan, bahkan karena begitu pentingnya ketika salah seorang putra dari sahabat saya menelepon dijawab:"Why dont you try to do it yourself? I am in the middle of important meeting." Lalu percakapan mereka di telepon pun berakhir.
Peristiwa hidup yang terjadi saat ini, dapat saja merupakan buntut dari serentetan kejadian sebelumnya. Saya pernah menulis tentang itu tapi sungguh pikiran saya tidak dapat difokuskan untuk berbagi apa yang saya tulis itu. Tapi saya memang pernah mengulasnya. Itu tidak penting, yang lebih penting adalah saya ingin mengatakan bahwa apapun yang terjadi saat ini merupakan buntut dari apa yang kita lakukan sebelumnya. Kejadian saat ini merupakan tanggung jawab kita.
Contoh yang bisa saya kemukakan misalnya sebagai orang tua, secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab atas karakter anak kita saat ini. Secara langsung artinya kita sebagai orang tua sudah seharusnya membimbing dan memberi contoh di rumah yang merupakan sebentuk latihan dan pembiasaan yang lambat laun akan membentuk karakter anak kita. Secara tidak langsung artinya juga kita sebagai orang tua mempunyai tanggung jawab untk mendampingi anak-anak kita di sekolah, memilih sekolah yang baik dan sebagainya. Karena walaupun di sekolah anak-anak kita dididik untuk membentuk karakter mereka yang baik, orang tua wajib memantau bahkan bekerja sama dengan sekolah demi kepentingan anak-anak kita. Memang kita sebagai orang tua tidak secara langsung mendidik anak-anak di sekolah, itu peran guru tapi kita bertanggung jawab memilih sekolah yang kita nilai cocok dan baik untuk anak kita. Begitu.
Nah, jika anak kita kemudian tidak memiliki karakter yang mulia saat ini, ita sebagai orang tua tidak bisa memalingkan wajah kita ke arah yang lain. Kita bertanggung jawab. Itu menurut saya. Bukan kesalahan anak kita semata-mata, tapi kita sebagai orang tua punya andil di dalamnya. Kalau peran yang kita contohkan kurang baik, jangan heran kalau anak kita menirunya.
Kemarin ketika saya sedang menutup pagar rumah, ada sekelompok anak SD yang sedang bermain sepak bola, menggunakan bola plastik. Permainan mereka seru, tapi ucapan-ucapan yang keluar dari mulut mereka yang membuat telinga saya panas. Dari mana anak-anak ini menggunakan kata-kata makian yang kasar? Saya hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Memang bahasa semacam itu sangat mudah saya temukan dikalangan orang dewasa, dan sepertinya itu menjadi panutan anak anak kecil. Kalau anak-anak dibawah usia 10 tahun sudah demikian, bagaimana ketika mereka dewasa nanti? Bagi saya ini merupakan contoh yang menyeramkan.
Saya sangat setuju dengan praktik yang dapat saya saksikan di Smipa. Yang belajar itu bukan hanya anak, tapi juga orang tua. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua atau menjadi pendamping anak. Tapi ada wahana yang disediakan untuk para orang tua agar dapat saling berbagi pengalaman, tapi juga ada pembekalan bagi orang tua agar mampu mendampingi anak di rumah agar pendidikan mereka menjadi selaras sesuai dengan misi yang dijalankan di sekolah. Sekali lagi karena orang tua bertanggung jawab atas segala kejadian yang dialami atau dilakukan oleh anak-anak kita saat ini.
Foto credit: flaticon.com