AES 36 Mirror, Elephant & Blind Men
joefelus
Saturday June 26 2021, 7:08 AM
AES 36 Mirror, Elephant & Blind Men

Tulisan ini saya ambil dari blog saya yang ditulis tahun 2016 di saat sebelum Kano dan saya pindah ke perantauan  dengan judul yang sama: Mirror, Elephant And Blind Men. Atas permintaan Bang Ahkam, saya titipkan saja di sini. 

 

Pernah membaca cerita dari India tentang 6 orang buta dan seekor gajah? Kalau belum atau sudah lupa aku mau ceritakan secara ringkas hanya sekedar menyegarkan ingatan. Jadi begini, diceritakan ada 6 orang buta yang ingin mengetahui rupa gajah itu seperti apa. Orang pertama memegang badannya dan berkata bahwa gajah seperti sebuah dinding yang besar, orang kedua memegang belalainya dan meyakini bahwa gajah itu seperti ular, orang ketiga memegang gadingnya dan mengumumkan bahwa gajah itu seperti tombak, sementara orang keempat yang memegang kakinya mengatakan bahwa gajah seperti sebatang pohon, orang kelima yang memegang telinga berpendapat bahwa gajah seperti kipas dan orang terakhir yang memegang ekor berani bersumpah bahwa gajah seperti tambang. Cerita tersebut seringkali dikaitkan sebagai ilustrasi mengenai toleransi, keyakinan, agama dan filsafat tentang pencipta; bagaimana orang-orang meyakini apa yang bersentuhan dengan hidup mereka tetapi tidak pernah bisa menangkap apa yang mereka yakini itu menjadi sebuah kebenaran yang utuh, menyeluruh dan benar. Semuanya hanya serpihan-serpihan kecil seperti puzzle yang seharusnya jika disusun bersama dan digabungkan akan mendapat sebuah pencerahan, enlightenment, tentang keseluruhan image yang mereka berusaha peroleh.

Berbeda dari pesan moral cerita ini, kali ini aku bukan mau membicarakan tentang agama atau hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan tentang pencipta dan semesta. Wah engga deh, walaupun itu menarik tapi aku justru mau bicara sesuatu yang lebih sederhana yaitu tentang pendidikan anakku. Kok? Ga nyambung banget deh... eitsss nanti dulu. Jangan berasumsi sebelum mulai.
Sekolah anakku menjalanankan proses pendidikan dengan konsep holistik, dimana yang digarap tidak hanya sekedar belajar untuk memperoleh nilai yang tinggi, justru bukan. Pendidikan akademis hanyalah sebagian dari serpihan puzzle yang jika disatukan dengan serpihan lainnya akan menjadi sebuah citra dari sebuah proses pendidikan yang utuh sehingga sesuai dengan konsep holistik, seluruh aspek kehidupan anak dimatangkan di sini dari mulai karakter anak tentang kesadaran terhadap dirinya, terhadap Tuhan, hubungan sosial, lingkungan, kreativitas, kemampuan motorik, perkembangan kepribadian dan banyak lagi yang oleh pendidik selama prosesnya diamati, diarahkan dan dikembangkan sesuai dengan keunikan masing-masing anak didik.

Nah cerita 6 orang buta ini aku ibaratkan sebagai bentuk bentuk masukan yang dirangkum dalam laporan perkembangan pendidikan di sekolah tentang berbagai segi karakter anakku yang kemudian bisa disatukan menjadi sebuah gambaran utuh dari perkembangan kepribadiannya. Selama hampir 6 tahun aku memperoleh masukan dari pendidik yang berbeda-beda di setiap periode tahun pendidikan. Jika di sekolah konvensional para orang tua hanya mendapat feedback dalam bentuk angka untuk penilaian akademis dan huruf A, B, C, D untuk skala sikap dan perkembangan kepribadiannya, maka aku tidak yakin para orang tua mendapatkan gambaran perkembangan karakter anak-anak mereka sama sekali. Angka dan huruf itu menurutku seolah-olah mengecilkan kondisi yang sebenarnya dan persepsi orang dalam menerjemahkan angka dan huruf sama sekali sulit dipertanggungjawabkan. Lalu apa yang sebenarnya mereka peroleh? Nilai? Oke, nilai penting tapi pendidikan tidak hanya berbicara masalah nilai. Dari pengalamanku sebagai guru, banyak diantara mereka yang nilainya biasa saja tapi justru berhasil dalam hidupnya. Kenapa? Karena mereka mempunyai karakter yang kuat, attitude yang baik, etika yang mumpuni dan etos kerja yang mengagumkan. Nah pendidikan karakter semacam ini yang yang sekarang justru memperoleh porsi lebih besar daripada hanya sekedar mengejar prestasi akademik. Pandai dalam pengetahuan sejarah, pengetahuan umum, sains, seni, dan sebagainya itu penting tetapi pendidikan yang baik tidak melulu membimbing anak dalam bidang kognitif. Seseorang yang pandai tapi tanpa karakter yang baik akan menjadi manusia seperti apa? Seorang ilmuwan tanpa bekal moral yang cukup bisa-bisa nanti salah jalan, dan seorang yang jenius tapi tidak mempunyai jiwa kepemimpinan yang handal dan tidak memiliki rasa percaya diri akan dengan mudah diatur dan dimanfaatkan orang lain. Nah di sini kita bisa melihat pentingnya pendidikan karakter.

Lalu bagaimana bentuk pelaporan perkembangan pendidikan anak dengan konsep holistik? Setiap aku memperoleh buku raport, aku bisa membaca berpuluh-puluh halaman deskripsi perkembangan anakku. Disana dipaparkan setiap aspek kepribadian yang diamati sehingga aku bisa mengetahui perkembangan karakter anak dari semester ke semester dari tahun ke tahun.
Nah sekolah bagiku seperti ruangan penuh cermin, setiap aku membaca pelaporan dari kakak (panggilan untuk guru di sekolah) aku mendapat sebuah refleksi anakku. Selama hampir 6 tahun aku memperoleh refleksi dari cermin-cermin yang berbeda karena kakak-kakak yang mengamati tidak selalu sama. Jadi bayangkan saja, berapa buah refleksi yang aku terima? Berapa serpihan puzzle yang sudah aku kumpulkan? Aku bisa membuat grafik naik turunnya minat si anak dari setiap refleksi yang aku peroleh, aku bisa mengetahui perubahan minat apa saja yang sudah terjadi dari tahun pertama hingga tahun keenam. Aku bahkan tahu dengan jelas perkembangan anakku yang dulu di tahun pertama dia histeris kalau tangannya kotor kena lem atau cat ketika berkarya hingga dia mau bermain rakit di danau yang pasti ada lumpurnya sampai basah kuyup dan belepotan di tahun ke empat. Aku juga tahu bagaimana anakku gemar berkarya 3 dimensi menggunakan balok dan kardus bekas di tahun ke dua hingga dia membuat sebuah mock up dengan detail yang baik di awal tahun ke enam. Semuanya itu terekam dengan baik di buku laporan. Nah itu baru sebagian, sebab masih banyak lagi deskripsi yang cukup detail dari perkembangan kesadaran diri, kemampuan berkomunikasi, dan sebagainya. Jadi kalau membaca raport pendidikan di sekolah konvensional kita hanya membutuhkan sekian detik karena hanya melihat angka dan apakah ada nilai merah; di buku raport anakku, aku butuh lebih dari 1 jam untuk membaca, mengerti dan mencerna apa yang telah terjadi selama ini di sekolah. Nah cermin-cermin inilah yang sangat membantuku dalam menelusuri perkembangan pendidikan anak. Apakah atau siapakah cermin-cermin itu? Ya kakak-kakak di sekolah yang sudah sedemikian uletnya membuat catatan observasi selama membimbing anak. Bukan pekerjaan yang mudah dan itu patut diapresiasi sebesar-besarnya.
Aku tidak berusaha untuk promosi pendidikan yang menggunakan konsep holistik, jenis pendidikan ini tidak selalu berjalan mulus karena tergantung pada kepiawaian pendidiknya, ketepatan konsepnya serta keakuratan eksekusinya. Seperti halnya cermin, banyak yang tidak sempurna. Jika cerminnya cenderung cembung atau cekung maka akan menghasilkan refleksi yang tidak nyata dan ukurannya juga tidak sesuai dengan aslinya, bisa lebih besar atau lebih kecil, bisa jadi lebih gemuk atau malah lebih kurus. Nah peran orang tua juga sangat diharapkan dalam bentuk pendidikan ini.

Orang tua dituntut menjadi partner yang aktif yang dapat membuat pendidikan di sekolah dan di rumah berkesinambungan. Komunikasi antara yang di rumah dan di sekolah sangat penting. Beda juga halnya dengan pendidikan di sekolah konvensional, waktu aku jadi guru jarang sekali berkomunikasi dengan orang tua, kecuali kalo anaknya badung dan bermasalah. Masalah di sekolah ya diselesaikan di sekolah sedangkan guru juga tidak mau tau urusan di rumah karena sudah terlalu padat dengan tanggung jawab di sekolah. Nah ini menjadikan proses pendidikan timpang dan tidak mulus.

Aku berbicara soal ini sebetulnya sebagai bentuk permenungan dari pengalaman selama hampir 6 tahun terlibat dalam pendidikan anak. Tahun-tahun yang menarik dan penuh pengalaman pembelajaran untukku. Karena bukan hal yang biasa, aku juga dipaksa untuk banyak belajar, membaca dan melibatkan diri secara aktif. Aku hanya ingin bersyukur telah banyak memperoleh serpihan-serpihan puzzle, memperoleh banyak "refleksi" dari cermin-cermin, dari kakak-kakak, yang selalu aku usahakan untuk dibangun menjadi sebuah image yang sempurna. Semoga sekolah anakku menjadi rumah "cermin" yang selalu dapat memberikan pantulan-pantulan yang baik, tepat dan sempurna demi membentuk sebuah karya citra yang indah. Terima kasih atas upaya yang luar biasa selama hampir 6 tahun kita bersama-sama berusaha mempersiapkan dan memberikan bekal untuk meniti masa depan Kano.***

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
Terima kasih Jo untuk tulisan ini. M Kisah si gajah ini juga sering kami gunakan untuk mengilustrasikan pendidikan holistik. Bahwa Jo ikut menuliskannya untuk kita semua menambah sudut pandang yg berbeda dan ya... menegaskan bawa pandangan kita selaras 🙏🙂👌
You May Also Like