AES 1229 Here, Not There!
joefelus
Thursday October 31 2024, 2:22 PM
AES 1229 Here, Not There!

Menghela napas panjang, merenung, atau malah melamun. Mata kosong memandang ke depan tanpa tujuan jelas. Tidak ada yang perlu diperhatikan, hanya pintu besar yang terbuka seperempat dan tirai kotor yang sudah lama tidak dibersihkan entah sudah berapa tahun.

Itu semua akan berubah. Tapi lalu apa?

Things were all good yesterday
And then the devil took your memory
And if you fell to your death today
I hope that heaven is your resting place
I heard the doctors put your chest in pain
But then that could've been the medicine
And now you're lying in the bed again
Either way, I'll cry with the rest of them

Suara Ed Sheeran menyanyikan lagu Afire Love mengingatkan saya pada perjalanan pulang di jalan bebas hambatan yang lengang. Di samping kiri membujur dari Utara ke Selatan pegunungan yang panjang menjulang sejauh 4800 kilometer dari Canada hingga New Mexico. Puncaknya hampir selalu dilapisi salju, bahkan pada musim panas karena puncaknya berada di ketinggian belasan ribu kaki dari permukaan laut. "Ah, I wish I was there!" gumam saya. Tapi saya ada di sini dan bukan di sana.

Barusan saya ngobrol dengan Kano yang saat itu sedang menggunakan skateboardnya pulang dari tempat kerja. Saat itu masih gerimis, dan mulai berubah menjadi salju. Atap kendaraan yang dia lalui mulai terlihat putih walau di tanah tidak berbekas apa-apa karena es dan salju langsung mencair.

"My hands are freezing. Look!" Kata Kano.

"You should have worn your gloves." Kata saya.

"I know, I was planning to but I left them at home by accident." Katanya

"It's very cold. But it's ok. I am almost home." Sambungnya.

Jarak apartemennya dan tempat kerja memang sangat dekat. Jika Kano menggunakan skateboard, perjalanan tidak lebih dari 2 atau 3 menit. Jika jalan kaki mungkin sedikit lebih dari 5 menit.

"Be careful skating on an icy road." Kata saya.

Saya tahu dia selalu berhati-hati, tapi sebagai orang tua, saya tidak tahan untuk mengatakan itu. Kenapa ya? Saya tahu dia adalah anak yang sangat bertanggung jawab, saya tahu dia selalu berhati-hati, bukan lagi seperti anak SD atau SMP yang harus selalu diingatkan dan diawasi, kini dia sudah tinggal sendiri, mandiri, menghidupi diri sendiri dan mengatur jadwal sendiri, kapan dia bisa bermain, kapan dia harus bekerja dan kapan dia harus belajar semua dia lakukan sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.

"I know, Dad. You don't have to tell me." Katanya

Oops! Kata saya dalam hati. Saya sudah melewati batas. Dari komentarnya saya tahu itu. Dulu ini sering jadi penyebab argumen antara dia dan saya, dan sepertinya saya masih harus membiasakan diri sebagai "teman" bukan lagi terus-menerus menjadi orang tua. Dia seringkali hanya membutuhkan saya untuk ada di sana, tidak membutuhkan nasihat maupun pendapat. Berada di sana saja seringkali sudah cukup. Kebiasaan selama 19 tahun itu tidak mudah ditinggalkan. Sekali menjadi orang tua, akan selalu menjadi orang tua, hanya saja sekarang saya harus belajar lebih mendengarkan daripada berbicara. Memberikan dia ruang daripada ikut campur.

"I still want to be there, though. Walking next to him in the cold, in the icy road, in the snow! It's okay even if I need to be quiet all the time. I just don't want to be here when he is over there" Kata saya dalam hati. Penuh kesedihan, dan merasa sepi.

Foto credit: linkedin.com

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
I feel you Joe 🙏🏼
joefelus
@joefelus   2 years ago
Ah betul sekali. Kita senasib! :)