Hari sudah sore, menjelang magrib. Saya sudah mulai duduk-duduk beristirahat sambil ngobrol tentang pemilu di Amerika yang hasilnya lumayan mengejutkan dibandingkan dengan polling menjelang pemilu. Tiba-tiba ada pesan masuk dari kak Andy.
"Joe. Tadi ada Kang Wawan mampir dan ngobrol-ngobrol soal menulis esai.." Pesan kak Andy
Kak Andy dan kak Ine sepertinya cerita bahwa saya rajin menulis esai sejak lebih dari 3 tahun yang lalu dan menurut kak Andy, Kang Wawan merasa terkesan.
Wah saya merasa sangat tersanjung. Apalagi Kang Wawan itu, walaupun saya belum pernah berjumpa dengan beliau, sudah dianggap sebagai salah seorang sesepuh Smipa karena beliau seingat saya memiliki hubungan yang erat dengan Kak Andy dan mungkin para sesepuh Smipa.
Saya sama sekali tidak mengenal Kang Wawan, hanya tahu dari cerita dari esai kak Andy tentang beliau. Yang membuat saya terharu dan merasa tersanjung adalah karena Kang Wawan meminta buku kumpulan esai saya yang oleh Smipa dicetak. Wah, dalam hati, apa sih spesialnya tulisan-tulisan saya itu? Saking penasarannya, sebelum tidur tadi malam saya ambil buku itu dan mulai lagi baca-baca tulisan sendiri. Hahaha..
Perasaan tersanjung itu tidak berhenti sampai di situ. Ternyata kak Andy juga merekam pesan yang diucapkan oleh Kang Wawan untuk saya. Pesan beliau ini memang lucu, intinya memuji bahwa saya bisa konsisten menulis selama 3 tahun hampir tanpa henti dan menginspirasi beliau, tapi yang menurut saya lucu adalah karena cara yang beliau gunakan untuk mengungkapkan pesan itu yang luar biasa dan dari situ saya merasa beliau adalah seorang yang unik, nyentrik dan mungkin saja tubuhnya dialiri oleh darah seni yang kental. Mudah-mudhan saja suatu waktu nanti saya dapat berjumpa dengan beliau, saya sungguh ingin banyak belajar dari para sesepuh ini sebab belajar dari membaca belum tentu sesempurna dibanding dengan belajar langsung dari para tokoh yang sudah mengalaminya! Semoga.
Foto credit: @kak-andy