AES 1336 Talenan
joefelus
Tuesday February 18 2025, 10:09 AM
AES 1336 Talenan

"Yakin kamu berani?" Tanya saya pada Nina kemarin.

"Berani lah!" Jawabnya.

Mendapat respons begitu, saya langsung mengarahkan kendaraan dari tempat parkir pasar Kosambi menuju Simpang Lima. Saya mengemudi sambil mengumbar banyak senyum karena bahagia akhirnya saya berkesempatan blusukan ke pasar tradisional. Walau sudah lama saya tidak ke pasar Kosambi, saya masih hapal lorong-lorong di dalam, walau sudah tidak ada satupun yang saya kenal. Bagi saya pasar tradisional jauh lebih menarik daripada mall. Bau daging mentah, bau hanyir makanan laut bahkan bau-bau lainnya, bagi saya jauh lebih menarik daripada bau harum bo'ongan di mall, hahahaha.

Saya tahu dimana deretan penjual daging, termasuk daging spesial di paling ujung di sudut. Kalau pernah ke pasar Kosambi pasti tahu daging apa yang saya maksud. Hampir semua pasar tradisional mempunyai lokasi daging spesial dan selalu terpencil di ujung dan di sudut. Seperti pasar Cihapit maupun Pamoyanan. Yang berbeda adalah pasar di Astana Anyar karena konsumennya juga berbeda.

Eniwei, tidak banyak perubahan yang saya lihat sesudah sekian tahun tidak saya kunjungi. Saya butuh peralatan untuk kumpul-kumpul di kompleks akhir pekan ini, dan Nina ingin membeli berbagai kudapan, cemilan untuk teman nonton filem di rumah pada saat beristirahat. Itu tujuan sebenarnya ke pasar Kosambi.

Kendaraan tiba di Simpang Lima lalu berbelok ke Kanan ke jalan Sunda. Saya hanya mengemudi 2 blok kecil lalu masuk ke pelataran parkir yang masih belum ramai dan, saya lihat gerobak penjual makanan langganan kami sejak entah kapan. Sejak kami masih muda pokoknya.

"Aiiih kamarana wae bapa sareng ibu? Tos lami pisan henteu kadieu." Kata si penjual yang sangat ramah.

"Muhun kang, lami teu di Bandung. Ayeuna mah tos di dieu deui. Sono, tos lami henteu nyobian kupat tahu!" Kata saya

Mas penjual kupat tahu ini masih seperti dahulu, hampir tidak ada bedanya. Kecuali satu hal, talenan tempat dia memotong-motong tahu di atas penggorengan memiliki bentuk yang luar biasa antik. Seolah-olah ada 2 mangkok karena kayu talenan yang tebal itu semakin terkikis sehingga bergelombang dan bentuknya sangat aneh. Saya dan Nina tertawa-tawa dan tidak tahan untuk tidak mengabadikannya.

Ada 4 lokasi sarapan favorit kami berdua. 3 diantaranya entah sudah menghilang kemana. Yang pertama saya senang makan ketan yang diberi kelapa parut lalu ditemani gorengan seperti tempe atau bala-bala. Lokasinya di jalan Bahureksa yang kemudian warung itu tergusur karena gedung di sekitar situ dibangun. Saya sempat patah hati. Kedua, ada sebuah warung di Kairo, itu sebutan saya di sekitar jalan Mangga dan jalan Nanas, suami istri yang sudah lanjut mengelola warung itu. Saya senang makan nasi, ayam goreng, tumis sayuran dan sering minta disiram kuah gulai. Jaman muda, saya pemakan segala dan tidak ada rasa takut. Kami pindah ke Hawaii dan warung itu berganti pemilik. Saya sempat dirundung kesedihan. Yang ketiga adalah gerobak soto Madura seputaran ITB dan Salman. Anak muda yang sangat ramah dan yang pasti sotonya sangat enak. Saya tidak tahu dia pindah ke mana. Yang ke-4, yang masih ada, adalah kupat tahu petis yang kami kunjungi hingga sekarang.

Sarapan memang selalu memiliki tempat tersendiri yang sangat spesial bagi saya. Banyak tempat-tempat istimewa yang tidak pernah saya lupakan. Seingat saya, sudah pernah bercerita sekitar akhir tahun 2016 ketika mulai menulis di Lingkaran Blogger Smipa. Sarapan bagi saya tidak harus yang "wah" atau mewah. Yang sederhana pun seringkali menjadi momen yang sangat berharga. Bayangkan saja, duduk di bangku butut di sebuah warung yang terletak di atas solokan menikmati ketan panas dengan topping parutan kelapa sudah dapat membuat saya begitu gembira. Memang saya juga senang duduk di sebuah cafe yang menyajikan menu sarapan ala Perancis, atau menikmati telur setengah matang dengan potongan bacon yang krispi dan beberapa buah pancake yang empuk di musim dingin di kota New York, itu semua merupakan pengalaman yang tak terlupakan apalagi saat itu ditemani sepasang sahabat. Saya dapat menceritakan kota-kota yang menarik yang selalu saya ingat karena menyajikan menu sarapan yang luar biasa. Kadang bukan makanannya yang saya ingat, tapi suasana dan teman mapun sahabat yang menemani yang memberikan kegembiraan tersendiri. Seperti kemarin, mungkin banyak tempat yang menyajikan sarapan kupat tahu petis yang jauh lebih enak, tapi saya tetap kembali ke tempat yang sama karena saya suka akan keramahan mas yang menjualnya. Kedua, tempat itu mengingatkan saya pada masa-masa yang menyenangkan bersama Nina. Ketiga, pemandangan talenan yang antik itu yang tidak akan pernah terlupakan! Hahahaha..