Entah sejak kapan saya bermimpi mempunyai sebuah alat dapur yang mampu mengolah adonan roti. Sepertinya sudah sangat lama sekali. Selama ini jika akan membuat roti saya melakukannya secara manual, tanpa menggunakan alat. Misalnya saya mengaduk semua bahan seperti tepung, ragi, garam, gula, dan sebagainya di sebuah mangkuk baru kemudian di uleni di permukaan datar. Waktu Kano kecil saya haya mampu membuat counter top di dapur menggunakan keramik yang besar. Baru sampai situ dan belum mampu membeli stand mixer yang besar dan kuat yang mampu mengaduk adonan roti.
Harga stand mixer yang kuat dan bagus memang sangat mahal, yang saya inginkan dan impikan harganya diatas 10 juta. Saat itu belum ada yang abal-bala buatan China atau Vietnam seperti sekarang. Yang baru mampu saya beli hanya hand mixer dengan tambahan stand ala-ala yang sama sekali tidak kuat jika digunakan untuk mengaduk adonan berat.
Belum lama ini saya iseng mencari di toko online dan begitu terkejut ketika menjumpai bahwa sekarang banyak sekali alat yang saya impikan itu dengan harga sangat terjangkau dari berbagai merk. Ada yang sudah lama saya kenal dan banyak yang belum saya ketahui sebelumnya. Namanya online saya harus berhati-hati dan sabar. Saya pernah tertipu dan tidak mau kejadian semacam itu berulang. Banyak review yang "aneh" yang saya jumpai. Masa komentar yang saya temui untuk produk tertentu berbunyi "good Luck" atau "sukses selalu"? Ini mah seperti ucapan seseorang ketika sahabat atau temannya membuka usaha baru! Hahaha..
Saya banyak melakukan riset, melihat kualitas barang dan melihat pendapat orang-orang tentang barang yang saya minati. Beberapa hari yang lalu akhirnya saya berani memutuskan untuk mencoba memesan sebuah stand mixer dengan ukuran 7 liter. Ini cukup besar untuk mengolah adonan seberat 2kg. Untuk membuat roti yang dikonsumsi Nina dan saya, ini sudah lebih dari cukup.
Nina dan saya sangat menyukai roti Focaccia, yaitu semacam flat bread ala Italia yang biasanya kami nikmati sesudah dibuat roti lapis. Adonan untuk roti ini seharusnya sangat mudah. Saya sering melihat para chef membuat focaccia di Bakeshop tempat dulu saya bekerja. Waktu itu saya menyampaikan keinginan saya untuk belajar. Mereka menyatakan kesediaannya untuk menunjukkan serta mengajari saya, tapi entah mengapa kesempatan itu tidak pernah tiba sehingga seringkali saya hanya menonton mereka melakukan tugasnya.
Sore ini, kebetulan saya tidak mempunyai rencana untuk keluar rumah. Pagi hari saya sibuk menyiapkan makan siang dan makan malam, sesudah itu sibuk dengan tanaman anggrek yang barusan saya peroleh. Ada 25 tanaman semuanya dan sekarang sudah memenuhi bidang-bidang di halaman rumah yang menggunakan bekas teralis jendela rumah yang sudah tidak saya pergunakan lagi. Teralis ini saya pasang di dinding dan sekarang dijadikan bidang untuk menggantung tanaman anggrek. Nah karena siang tidak punya acara, maka saya memutuskan untuk mencoba membuat garlic rosemary focaccia bread.
Saya menemukan sebuah resep dan mulai mengumpulkan bahan-bahannya. Saya punya banyak bawang putih, rosemary tinggal petik di halaman, tepung juga banyak dan saya juga mempunyai ragi. Bahan untuk membuat focaccia memang sederhana dan tidak banyak. Jadi akhirnya saya menyibukan diri. Ini proses yang sangat mudah sebab memiliki alat yang memadai. Tuangkan ke mangkuk mixer, pasang hook nya dan biarkan alat ini bekerja. Keluarkan ke bidang datar lalu diuleni sebentar hingga kalis dan diamkan di tempat tertutup hingga mengembang. Ketika siap, adonan diberi minyak, tekan-tekan dengan jari untuk mengeluarkan gelembung udara, dan dipanggang selama 20 menit.
Ada banyak variasi roti focaccia ini, ada yang mengunakan banyak rempah seperti italian seasoning, atau menggunakan irisan olive, sun dried tomatoes, dapat menggunakan bawang putih seperti yang saya buat hari ini dicampur rosemary cincang, dan juga kalau suka, bisa menggunakan keju seperti parmesan, Romano Reggiano, dan lain sebagainya.
Roti ini biasanya kemudian dijadikan sandiwich atau roti lapis. Dulu di CSU saya sering makan siang dengan menu roti ini, yang paling sering saya minta diberi roast beef yang diiris tipis, diberi pepper jack cheese dan dipanaskan hingga meleleh, lalu diberi saos chipotle, daun bayam dan pepperoncini (irisan cabe berwarna kuning yang sudah dibuat acar). Entah sudah berapa ratus kali saya menikmati ini. Nah karena sekarang saya bisa membuatnya sendiri dan hasilnya ternyata sangat enak dan harum, saya akan mulai mencari isian roti lapis yang mungkin dapat saya jumpai di Bandung atau bahkan mencoba membuat sendiri.