Entah mengapa akhir-akhir ini saya sama sekali tidak bergairah untuk menulis. 3 bulan terakhir saya hampir tidak produktif. Bulan Juni saya hanya menulis 15 atau 16 essay saja, bulan juli lebih parah, kurang dari 10 sementara bulan Agustus juga seperti bulan Juni, hanya 16. Ini tidak menunjukkan kebiasaan saya selama 4 tahun terakhir ini. Jangan salah, keinginan saya selalu ada, hampir setiap saat, tapi entah mengapa ada keengganan untuk membuka laptop dan mencurahkan pikiran atau perasaan. Saya lebih memilih kegiatan yang tidak menimbulkan keresahan, saya menghindari nonton atau membaca berita karena membuat saya terganggu bahkan marah. Media yang menyampaikan berita mayoritas menyiarkan hal-hal negatif dan saat ini hal negatif adalah hal terakhir yang saya inginkan.
Hal yang tidak menyenangkan bermunculan terus menerus. Ada sahabat yang tiada, berita sekeluarga dihilangkan nyawanya karena entah motif keserakahan atau motif lain, berita politik yang mencekam di seluruh Indonesia, penjarahan serta hal-hal bodoh yang terjadi di negara dimana Kano sekarang bermukim. Semuanya bagi saya sangat tidak menyenangkan.
Saya akhinya lebih mencari kegiatan yang jauh dari pikiran atau perasaan sedih atau yang negatif lainnya. Membersihkan akun google saya misalnya. Karena hampir setiap hari saya mulai "terancam" tidak akan menerima email lagi karena jatah saya 15 giga byte sudah terlampaui. Foto-foto akhirnya saya sortir, saya pindahkan ke lokasi lain sambil menikmati berbagai kenangan ketika menyaksikan foto-foto maupun video yang sudah sama buat selama sekian tahun.
2 hari lalu ketika saya membersihkan akun, saya menemukan sejumlah video. Hari itu 2 tahun yang lalu saya mengantar Kano ke tempat kerja dalam kondisi badai salju. Beberapa saat kemudian kampus ditutup karena pihak universitas menetapkan hari itu sebagai snow day, artinya semua kegiatan dibatalkan karena berbahaya bagi kesehatan. Salju sangat deras, jalanan licin dan suhu ekstrim dapat sangat membahayakan. Dari kantor saya disuruh pulang sesudah semua pekerjaan selesai. Entah ide gila dari mana, saya malah memutuskan mengemudi keliling kota dan ke pinggir kota untuk menyaksikan bendungan disaat turun salju.
Saya sungguh sangat bersyukur telah mengikuti keinginan dari ide gila itu sebab saat ini saya dapat kembali menikmati kembali video itu. Saya memiliki semacam tripod yang dapat diletakkan di dasbor mobil. Nah saya hanya mengemudi perlahan-lahan sambil "ngobrol" dengan diri sendiri menyaksikan kesibukan di tengah kota. Orang-orang sibuk membersihkan jalan, pemilik rumah membersihkan halaman dan trotoar didepan rumah dari salju, lalu saya berkeliling ke pinggir kota menyaksikan bendungan yang sekelilingnya penuh ditutupi salju dan kabut. Luar biasa indah. Itu jadi salah satu keseruan yang pernah saya lakukan. Nah itu kegiatan yang menyenangkan daripada merasa terganggu karena kondisi sekitar saya saat ini.
Memang saya sempat menulis juga minggu lalu tentang kondisi semrawut di Indonesia yang menurut saya merupakan akibat dari kemampuan terbatas masyarakat dalam memilih tokoh-tokoh yang dijadikan wakil mereka di parlemen. Jangan salah, itu terjadi dimana-mana tidak hanya di negara kita. Beberapa bulan terakhir di Amerika pun banyak perwakilan rakyat yang diomeli masyarakat karena mereka gagal mewakili suara mereka. Para wakil rakyat itu mengabaikan aspirasi masyarakat dan membuat keputusan politik demi kepentingan diri sendiri, partai maupun pemimpin yang mereka "turuti" atau bahkan "takuti" daripada mewakili suara masyarakat. Nah itu terjadi di mana-mana. Politik memang, maaf, berengsek! Bukan karena politiknya sebenarnya, tapi karena oknumnya.
Nah ini salah satu hal yang saya hindari, merasa jengkel sekaligus putus asa menyaksikan kondisi yang saya perhatikan akhir-akhir ini. Itu alasan saya enggan menulis karena seperti tulisan ini, tetap berakhir dengan menyuarakan keprihatinan yang saya rasakan saat ini. Mudah-mudahan saja masyarakat sekarang sadar bahwa memilih wakil mereka harus benar-benar cermat. Jangan hanya tahu nama, atau bahkan karena mereka terkenal. Pelawak belum tentu mengerti politik, artis belum tentu bisa dijadikan wakil masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Masyarakat harus mampu memilih yang kompeten dan berkualitas.
Oke, saya cukupkan saja omelan ini. Saya lebih memilih kembali membersihkan akun saya. 15 giga itu banyak, ada ribuan foto dan puluhan mungkin ratusan video yang harus saya pindahkan dan rapihkan.