"How am I going to tell my parents?" Kata seorang mahasiswi kepada temannya yang duduk disampingnya sambil menangis.
"Hmm.." gumam saya sambil cepat-cepat berlalu.
Itu kejadian bertahun-tahun yang lalu ketika saya sedang melintas di seputaran kampus dalam perjalanan ke salah satu kantor. Kampus memang penuh drama, penuh hormon dan penuh keseruan, jika tidak mau dikatakan kekacauan. Pernah salah satu waktu asrama kebanjiran karena beberapa orang mahasiswa bermain bola di lorong dan bola mengenai water sprinkler sehingga seluruh bangunan basah karena ketika salah satu outlet water sprinkler tertrigger maka semua bagian gedung akan memancurkan air termasuk kamar-kamar. Entah berapa ribu dollar uang yang dihabiskan untuk membersihkan gedung, belum termasuk kerusakan-kerusakan benda-benda yang terkena air.
Anak-anak remaja memang selalu penuh dengan dinamika. Mereka sering membuat keputusan yang bagi orang-orang dewasa agak konyol dan berani. Saya juga dulu mungkin begitu. Ketika membuat keputusan cenderung berani, emosional dan berdasarkan pemikiran yang belum matang karena belum memiliki banyak pengalaman, risiko masih belum termasuk berat karena belum memiliki tanggungjawab yang besar.
Kedekatan dengan orang tua menurut saya sangat penting karena figur panutan ada pada mereka. Memang remaja seringkali mengidolakan tokoh tertentu, tapi dalam bertindak seringkali, berdasarkan pengalaman saya, terdorong oleh contoh yang diberikan orang tua. Mimicking atau apalah istilahnya pada saat itu sangat dominan. Siapa lagi yang bisa dicontoh? Orang tua, orang-orang yang dijadikan contoh panutan, pemuka agama, guru? Ya mereka-mereka itu. Walau seringkali seolah-olah tidak mendengarkan pada saat diberi wejangan, remaja tetap memperhatikan bahkan ketika sikap mereka terlihat acuh tak acuh. Jika diingat-ingat saya juga begitu. Ada rasa gengsi yang besar ketika orang dewasa menasihati. Sebagai seorang remaja, harga diri ketika dinasihati berontak, apalagi jika dilakukan di depan orang lain. Ada rasa tersinggung yang besar, sehingga saya juga sering bersikap menantang, pura-pura tidak mendengarkan walau dalam hati kecil dan otak di kepala, saya tahu yang dikatakan orang tua seringkali banyak benarnya.
Nah, jadi orang dewasa juga sulit ketika menghadapi remaja yang bertingkah rebellious. Orang dewasa merasa disepelekan, kurang dihormati, sehingga ketika ada sikap menantang dari remaja, orang dewasa mulai meninggikan volume suara karena ada semacam hasrat untuk menuntut agar dihormati dan didengarkan. Ada juga urge untuk merasa lebih superior, menguasai seperti alfa dalam kawanan serigala. Lalu tidak jarang ketika usaha itu tidak berhasil dan mendapat tantangan yang lebih kuat mulai bermain fisik. Ini memang tindakan primitif yang dilakukan oleh binatang.
Perkembangan otak pada kaum remaja masih belum selesai sehingga katanya prefrontal cortex yang bertanggung jawab dalam membuat keputusan masih menjadi semacam kendala apalagi ditambah faktor emosi yang ada pada amygdala pada saat itu semakin aktif. Ketidak seimbangan ini cenderung mengarah pada keputusan yang impulsif dan lebih terfokus pada emosi daripada keputusan logis. Selain faktor perkembangan otak, remaja juga terpengaruh oleh faktor sosial seperti pengaruh kelompok bermain mereka atau peer group dan validasi sosial seperti misalnya mereka melakukan tindakan agar diterima orang-orang sekitarnya terlepas dari nilai-nilai prinsipil yang mereka miliki.
Pada saat yang sama para remaja memiliki keinginan kuat untuk mandiri, mulai mencoba-coba melanggar batas-batas nilai, trial dan error, dan sebagainya. Ini semacam proses eksplorasi yang semakin mereka bertambah usia risikonya juga semakin besar. Ketika mereka kecil, mungkin lebih pada risiko fisik, jatuh, luka-luka dan sebagainya ketika mencoba memanjat pagar misalnya, tapi para remaja sudah muai mencoba hal-hal yang lebih riskan. Masalah lain adalah kurangnya pengalaman hidup serta masalah hormonal. Nah, percakapan yang mengawali obrolan hari ini salah satu contohnya. Saya tidak berasumsi apa-apa, mungkin saja mahasiswi itu menangis karena tidak lulus mata kuliah, atau dompetnya hilang, siapa tahu, bukan?
Eniwei, saya banyak memikirkan ini. Bukan apa-apa, kekhawatiran saya terjadi karena kami orang tua tinggal sangat berjauhan. Saya memang merasa sudah membekali sebaik mungkin. Banyak nilai-nilai moral, etika dan kelayakan dalam bermasyarakat kami contohkan. Saya juga tahu Kano adalah sosok yang cerdas, bertanggung jawab, punya integritas yang baik. Tapi saya juga mengerti bahwa dia masih hijau sementara masalah pergaulan di Amerika tidak sama dengan kebiasaan di Indonesia yang peran masyarakat masih sangat kuat dalam memonitor tingkah laku anak-anak muda. Di Amerika tidak demikian. Kehidupan kampus tidak se-naive, yang orang-orang dewasa kira, apalagi bagi mereka yang mayoritas hidupnya di Timur.
Satu hal yang membuat saya selalu merasa beruntung adalah komunikasi kami sangat baik. Frekuensi kami berbincang juga sangat kerap. Tapi kekhawatiran selalu ada. Yang pasti kami tidak jarang bertukar pikiran, dan berdiskusi dalam hal-hal yang menyangkut nilai-nilai. Saya juga tahu para anak muda banyak belajar dari kesalahan yang mereka buat, mudah-mudahan saja kesalahan-kesalahan itu bukan yang fatal hahaha.. Semua itu memang merupakan proses alami yang terjadi pada semua orang termasuk saya.
Foto credit: thesuccessfulparent.com