Seorang pria, masih sangat muda, memasuki bus antarkota yang masih lengang, menunggu penumpang-penumpang lain untuk masuk. Pria itu memandang ke dalam bus sambil mengendong jualannya. Saya tidak ingat apa yang dia jual. Yang menarik perhatian saya adalah wajahnya yang putih, bersih, tapi dengan sorot mata yang aneh, seperti berada di dunia lain. Hanya saja dia tetap tersenyum sambil menyanyikan entah lagu apa. Saya mengenal pria itu dan membuat dada saya terasa sangat berat dan sedih karena tahu perjalanan hidupnya.
Anaknya masih muda, katanya masih SMP walaupun usia dia seharusnya sudah hampir lulus SMA. Entah bagaimana cerita pengalaman hidupnya, masa lalunya bagi saya tidak menarik dan tidak memiliki keinginan untuk mengetahuinya sebab saya yakin itu masa-masa awal hidup dia yang tidak menyenangkan. Untungnya, anak ini menyentuh hati seorang biarawati sehingga dipungut dari masa lalu yang kelam dan diharapkan sesudah pindah ke kota besar nasibnya akan berubah. Dia tinggal di samping biara dan membantu mengurus kebun sambil meneruskan pendidikannya. Saat itu umurnya masih belasan. Saya sendiri saat itu sudah duduk di bangku kuliah.
"Do! Apa kabar? Gimana anak dan istrimu?" Sapa saya.
"Eh kak Jo! Ya beginilah kak. Istri baik-baik saja dan anak sehat." Katanya.
Hanya itu percakapan yang saya ingat. Yang terpateri dalam benak saya adalah pandangan kosongnya, seolah-olah dia dapat melihat dimensi dunia lain sehingga dia tidak benar-benar berpijak pada realitas. Sebuah pertemuan yang tidak terduga dan di tempat yang sama sekali tidak saya sangka-sangka. Di terminal bus, di dalam bus antarkota ketika saya akan pergi mengunjungi orang tua di kampung dan dia sedang mengais rezeki menjajakan sesuatu sambil tersenyum, bernyanyi-nyanyi kecil seakan-akan tidak ada beban hidup yang berat. Mungkin dengan cara demikian dia dapat melalui hari-harinya.
Pikiran saya beralih pada istrinya, yang juga masih sangat muda, dengan seorang bayi mungil. Entah di mana mereka tinggal. Sesudah dia hamil, pindah dari asrama dan diboyong pasangannya entah tinggal di mana. Saya tidak pernah berjumpa lagi hingga saat ini, di terminal bus. Berita yang sempat saya terima: pria ini, sesudah akhirnya resmi menikah, jatuh sakit dan sempat masuk rumah sakit jiwa di Jalan Riau 11. Saya berjumpa dengan mereka terakhir kali ketika menjenguk biarawati yang memungut mereka dari kampung di rumah sakit.
Pagi ini entah mengapa saya bermimpi tentang pria ini. Sama seperti dulu ketika di terminal. Bernyanyi-nyanyi kecil, putih, penuh senyuman dan tetap hidup di dunia lain. Pagi ini saya diliputi kesedihan. Bertanya kepada Nina jika pernah mendengar berita tentang mereka. Tapi yang Nina ketahui tidak lebih dari saya.
"Udah 35 tahun yang lalu, Jo. Anaknya sudah dewasa. Khan hamilnya juga tahun 90-an." Kata Nina berusaha menenangkan kesedihan saya.
Dalam hati saya membenarkan apa yang Nina katakan. Tapi pikiran saya tidak bisa beralih ke hal yang jauh lebih menarik. Memikirkan nasib, memikirkan hidup, memikirkan kesedihan dan kesulitan dalam menjalani kehidupan. Mengapa manusia harus menghadapi berbagai rintangan yang sangat berat dalam hidup? Mengapa banyak di antara kita yang sulit memaafkan kesalahan? Tidak hanya memaafkan orang lain, tetapi juga memaafkan diri sendiri? Jika orang tua mereka dapat memaafkan pasangan ini, mungkin, sekali lagi, mungkin saja, pria kenalan saya ini tidak perlu tinggal di rumah sakit jiwa sementara istrinya yang masih belasan tahun harus mengurus bayi sendirian. Manusia memang tidak lepas dari kesalahan. Sangat wajar manusia membuat pilihan yang tidak tepat, apalagi jika sangat minim pengalaman hidup. Pilihan selalu berakhir dengan konsekuensi. I was wondering how they are now and how they are doing. Ini yang ada dalam pikiran saya sepanjang pagi.
Saya banyak menyaksikan kehidupan yang penuh dengan cerita perjuangan. Seorang wanita yang membesarkan anak-anaknya sendirian memiliki tiga pekerjaan untuk membiayai hidupnya beserta tiga orang anak. Mereka semua sehat dan berkembang dengan baik menghadapi berbagai rintangan dan berhasil menempuh pendidikan tinggi. Jika bertanya kepada wanita ini, saya yakin beliau akan berkata dengan bangga bahwa perjuangan dalam meraih harapan dan keinginan, ditambah dengan potensi dan talenta yang dia miliki, merupakan pengalaman sebagai orang tua yang terbaik dan sangat luar biasa. Tapi hidup tidak semuanya berakhir dengan gemilang seperti wanita ini. Kenalan saya punya cerita yang berbeda.
Perjuangan memang merupakan hal yang integral dalam kita menjalani kehidupan. Tidak ada seorang pun manusia yang tidak pernah menghadapi berbagai rintangan hidup. Orang-orang yang berhasil dalam hidup mereka pasti telah melalui berbagai perjuangan hidup. Seorang peraih medali emas Olimpiade musim dingin baru-baru ini, misalnya, tentunya juga telah melalui berbagai tempaan, berlatih tanpa lelah dengan jadwal yang luar biasa yang mungkin bagi kita orang awam sulit untuk menghadapinya. Seorang sahabat Kano, yang mendapat beasiswa sebagai atlet, harus berlatih siang dan malam. Untuk dapat bertahan, tubuhnya menuntut untuk mengonsumsi makanan lebih dari 5000 kalori sehari.
"I was about to throw up because of eating too much, but he was still enjoying some bread pudding! On the way home, he asked me to stop at McDonald's to get some hamburgers for a midnight snack!' Katanya
Perjuangan adalah bagian integral dari pengalaman hidup manusia agar dapat membantu tetap fokus pada hal-hal terpenting dan berusaha meraih tujuan yang spesifik. Itu kata seorang psikolog. Manusia berjuang untuk meraih sesuatu yang bermakna baginya. Walaupun perjuangan itu tidak pernah mudah, pada akhirnya akan sangat setimpal dan membantu kita membentuk nilai-nilai dan prioritas hidup yang kita harapkan.
Tampaknya, seperti yang sudah beberapa kali saya renungkan dan tulis, bukan semata-mata tujuan yang terpenting dalam hidup, tapi perjalanannya! Peraih medali emas hanya naik ke panggung sekian menit, merayakan keberhasilan hanyalah sementara, tapi yang lebih berarti, jika kita sempat menanyakan pada mereka, saya yakin mereka akan berkata bahwa bukan medalinya yang penting, tapi perjalanan dalam meraihnya. Sama seperti yang saya rasakan ketika meraih sarjana, apakah acara wisudanya yang kita kenang? Saya tidak, justru keseruan masa-masa ketika kuliahnya yang selalu saya ingat.
Sudah 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan saja perjalanan dan perjuangan hidup pasangan yang saya kenal ini telah berhasil menemukan makna kehidupan yang sangat berarti bagi mereka.