Akhir-akhir ini saya sedang mengalami kesulitan dalam menulis. Bolong-bolongnya tidak kira-kira, dan arus ide juga mandeg serta keinginan mencurahkan pikiran juga sangat tersendat. Memang ada masa-masa seperti ini yang saya alami sejak saya mulai senang menulis setiap hari, tapi tidak seperti sekarang.
Pagi ini sedikit berbeda. Saya biasa melakukan kegiatan normal di pagi hari. Kebetulan saat ini sudah memasuki masa liburan Lebaran sehingga tidak perlu bangun terlalu pagi dan berjuang melawan lalu lintas. Masa puasa ini memang lalu lintas di pagi hari lebih lengang, tapi selama sebulan ini saya hampir tidak bisa tidur nyenyak karena lingkungan saya sangat ramai. Setiap tengah malam saya terbangun karena anak-anak yang membangunkan masyarakat untuk makan sahur. Mereka berkeliling dengan bunyi-bunyian yang sangat amat keras sebab menggunakan mikrofon dan sound system. Jangankan saya yang mendengarannya masih terhitung baik, yang mungkin mulai berurang pun pasti terbangun saking kerasnya. Mereka tidak hanya berteriak-teriak, tapi juga berhenti agak lama di dekat rumah sambil tertawa-tawa ramai dan ngobrol. Sering kali saya kembali tertidur setelah menutup lubang telinga dengan jari, tanpa itu saya masih mendengar mereka. Yah, itu serunya tinggal di dekat perkampungan padat. Dinmikanya luar biasa hahahaha..
Eniwei, pagi ini kembali saya menyaksikan sebuah potongan filem pendek tentang seorang anak yang berjalan-jalan keliling kota hingga ke sebuah taman untuk mencari Tuhan. Filem ini sudah beberapa kali saya saksikan, nongol begitu saja di salah satu media sosial.
"Where are you off to?" tanya seorang ibu ke anak kecil yang sibuk mengambil beberapa kantong Twinkies (bolu dengan krim, khas jajanan Amerika) dan 2 botol jus apel.
"I am going to find God." Jawab anak itu pendek
"Ah, I see. Well dinner at 6, don't be late." Kata ibunya.
Aank itu lalu berjalan kaki di kota New York, naik subway hingga tiba di sebuah taman. Dia mencari tempat duduk di bangku taman dan duduk di sebelah seorang wanita tua gelandangan. Dia membuka ranselnya dan mengambil twinkies, membuka kemasan plastiknya dan mengambil sebuah. Ketika melihat wanita tua itu memandanginya, dia sodorkan sebuah ke wanita itu yang kemudian diterima dengan senyuman lebar. Mereka lalu makan berdua sambil berbincang-bincang. Selesai makan twinkies, anak itu menyodorkan sebotol jus apel lalu mereka minum berdua. Beberapa saat kemudian anak itu bangkit untuk pulang, memeluk wanita itu dan kemudian melambaikan tangan menguapkan selamat tinggal ke wanita tua itu dari kejauhan.
"Ah, did you find Him?" Kata ibunya ketika anak itu sampai di rumah.
"God is a woman, mom. And she has the most beautiful smile, I have ever seen." Jawab anak itu.
Sementara di tempat lain, wanita gelandangan itu berjalan kaki sambil terus tersenyum dan duduk di samping temannya yang sedang meminta-minta di tepi jalan dengan selembar karton.
"Why are you in such a good mood?" tanya temannya.
"I just ate twinkies in the park with God. He's much younger than I expected" Jawabnya
Entah sudah berapa kali saya menyaksikan filem pendek ini dan selalu merasa terharu. Hal yang sederhana tampak begitu indah di mata saya dan dalam sekejap saya menyadari bahwa seringkali hal-hal yang sederhana dan indah semacam ini terlewatkan dalam keseharian yang saya jalani. Saya membayangkan berapa banyak saya telah menyia-nyiakan anugerah semacam ini, menyia-nyiakan kehadiran Tuhan dalam berbagai bentuk yang hampir sering tidak tertangkap karena pandangan saya terselubungi banyak hal yang tidak penting.
Manusia, saya rasa, banyak terpukau pada hal-hal yang muluk-muluk. Saya bisa saja salah, tapi kalau diperhatikan dengan baik, berapa seringnya kita hanya selalu memandang dan mengejar hal-hal yang besar dalam hidup? Seolah-olah kita sedang mencari Tuhan di hal-hal yang luar biasa. Keberhasilan dalam karir, misalnya, sering kita jadikan patokan sebagai anugerah luar biasa dari Tuhan. Perolehan materi dianggap sebuah anugerah, keberhasilan mencapai tujuan-tujuan tertentu, kemenangan dan lain sebagainya menjadi tujuan yang seolah-olah mengelabui kita dalam mendekatkan diri dengan semesta. Bukan begitu? Padahal kalau kita perhatikan baik-baik, keindahan itu bisa kita jumpai pada hal-hal yang paling sederhana.
Saya tidak bermaksud berkhotbah, hahaha.. Hanya berbagi renungan yang saya lakukan pagi ini dari menonton filem pendek. Saya merasa kembali diingatkan bahwa semesta menyediakan diri dimana-mana, dari hal-hal yang paling sederhana. Pagi ini saya menemukan bahwa Tuhan atau semesta atau terminologi apalah yang biasa kita gunakan, hadir dalam keindahan. Seandainya saja kita bisa selalu meresapi keindahan dalam semua hal, maka saya merasa hidup kita sudah menyatu dengan erat bersama semesta, bersama Yang Ilahi.
Sering kali saya begitu iri dengan para seniman, para artis, para sutradara yang dapat membuat sesuatu yang sangat sederhana menjadi begitu indah. Lihat saja di filem-filem drama, misalnya. Bagaimana para penonton merasa terharu biru ketika dua lakon yang berusaha memegang tangan yang lain dengan penuh perasaan cinta, bagaimana hanya dari pandangan mata mereka berdua membuat para penonton merasa berbunga-bunga. Sederhana, bukan? Tapi mengapa kita sendiri yang menjadi lelakon dalam dunia nyata tidak mempu menghadirkan itu? Jika kita ingin menemukan Tuhan dalam hal-hal sederhana, mungkin salah satu caranya adalah dengan menemukan keindahan dalam hal-hal yang sangat sederhana dalam hidup. Apakah begitu?
Foto credit: nypost.com