Seorang komposer asal Hungaria yang bernama György Kurtág pernah berkata: “Consciously, I am certainly an atheist. But if I look at Bach, I cannot be an atheist.”
Akhir-akhir ini saya sedang terpukau dengan keindahan dan sedang berusaha mengenali seluk-beluknya. Kemarin saya menulis tentang menemukan Tuhan dalam keindahan. Kali ini saya ingin berusaha ngobrol tentang keindahan sebagai suatu wahana, sebagai suatu cara berkomunikasi, sebagai bahasa.
Kapan saya pernah merasa begitu terbuai dan terlarut dalam keindahan? Yang saya ingat ada beberapa pengalaman hidup yang masih terus teringat sampai saat ini. Mungkin saya dapat mengatakannya sebagai pengalaman spiritual, di mana pada saat-saat itu seluruh indera saya terpaku pada sebuah keajaiban yang sulit dijabarkan dengan kata-kata, di mana saya seolah-olah untuk sejenak melepaskan diri dari perangkap badani dan melayang entah ke mana.
Momen pertama yang saya ingat adalah ketika sedang berbaring terlentang di atas sebuah perahu tengah malam menghadap langit di tengah lautan, menikmati keheningan yang sangat magis beratapkan langit yang penuh dengan jutaan bintang serta ayunan ombak yang tenang. Pada saat itu, permukaan air laut seperti fosfor bersinar hijau ketika ada binatang laut yang berenang ke sana-kemari. Saya merasa bagaikan makhluk yang sangat kecil dikelilingi oleh keajaiban semesta yang sulit dimengerti. Saat itu saya masih berusia awal belasan, masih SMP.
Kedua saya berada di puncak Gunung Haleakala, di Pulau Maui, di mana puncaknya berada lebih tinggi dari awan, berdiri dengan jaket tebal dan tubuh menggigil kedinginan menghadap ke timur, di mana warna oranye yang mulai memburai mengawali kemunculan matahari yang luar biasa indah. Awan putih yang berada di bawah saya seolah-olah seperti lautan kapas dengan warna yang sangat menakjubkan karena dari bawahnya terpancar sinar matahari yang semakin lama semakin jelas dan terang. Kalau saya ingin membandingkan, saya seolah-olah sedang menghadapi sebuah nebula yang membuat semua pori-pori saya terbuka, membuat bulu kuduk saya berdiri, membuat semua indera saya bereaksi terhadap suasana yang menakjubkan.
Keindahan yang tak terlupakan yang berikutnya terjadi dua kali, berselang 20 tahun, ketika saya mengemudi dari Los Angeles menuju San Francisco melalui Pacific Coast Highway. Dimulai dengan pantai-pantai yang terlihat sangat indah, diselingi oleh winery yang dapat dijumpai di mana-mana dengan hamparan kebun anggurnya yang menawan. Tapi bukan itu yang membuat hati saya terperangkap, melainkan perjalanan setelah saya singgah di sebuah biara tua di Carmel, lalu 3 mil kemudian memasuki area yang dinamakan 17-Mile Drive. Kalau teman-teman perhatikan foto yang saya pakai di awal obrolan ini, itu adalah Lone Cypress, sebatang pohon yang tumbuh di atas bebatuan dengan tebing curam yang bersentuhan dengan pesisir pantai Samudra Pasifik. Ini adalah salah satu pemandangan yang luar biasa indah, diiringi dengan debur ombak dan suara burung-burung camar yang ramai. Cypress adalah sejenis pohon cedar yang harum dan selalu hijau, tidak lekang ditempa berbagai musim. Perjalanan yang berliku-liku sejauh 17 miles menyajikan tebing-tebing yang sangat menawan, pantai dengan pasir putih seperti salju jika diperhatikan dari atas, hutan-hutan yang magis, bahkan sentuhan-sentuhan modern seperti padang untuk bermain golf seolah-olah menyatu bagaikan hamparan yang indah melebihi lukisan apa pun. Saya bahkan sempat berhenti di sebuah tikungan lookout yang diberi nama Point Joe. Iseng karena mirip dengan nama saya, saya berhenti dan menunjuk ke papan nama itu. Lucunya, 20 tahun sebelumnya saya berdiri di tempat yang sama dan mengabadikan diri dengan pose yang persis sama hahaha…
Keindahan adalah sesuatu yang abstrak, sulit untuk dijelaskan, tapi sungguh berbentuk dan dapat kita nikmati, tidak hanya dengan mata, tapi juga seluruh indera dan hati. Ketika sudah menyentuh hati, kita tanpa sadar mendekat, bahkan kalbu menyatu dengan segala hal yang berada di luar diri kita. Menyatu dengan semesta melalui keindahan. Keindahan mengajak kita untuk mendekat, sebuah bahasa yang tidak berbentuk dengan kata maupun ucapan.
Keindahan adalah bahasa yang digunakan oleh semesta agar kita mendekat lalu menjadi satu, menjadi sebuah kesatuan utuh, dan kita menjadi bagian di dalamnya. Mungkin itu yang saya rasakan, seperti sebuah pengalaman spiritual yang sulit untuk dilupakan.
Yang saya yakini adalah bahwa kita mengalami berbagai segi estetis di dunia sebagai bentuk gema dari Pencipta. Melalui keindahan semesta berusaha menarik manusia untuk mengabadikan, mengagumi bahkan memuja. Puncak gunung yang indah, bunga-bunga dan keindahan-keindahan lainnya mengilustrasikan keagungan, keluarbiasaan dan keistimewaan semesta. C.S. Lewis dalam tulisannya "The Weight of Glory" mengatakan: "Buku-buku atau musik yang kita pikir di mana keindahan itu berada akan mengkhianati kita jika kita mempercayainya, bukan ada di situ, melainkan datang melaluinya. Hal-hal ini, yakni keindahan—kenangan masa-masa lalu kita—, adalah gambaran yang baik akan hal-hal yang kita inginkan; namun jika kita salah mengartikannya, hal itu akan menjerumuskan kita ke dalam pemujaan yang bodoh dan akan mengecewakan para pemujanya. Karena sebenarnya bukan itu, hal itu hanyalah bagaikan keharuman bunga yang belum kita temukan, atau gema musik yang belum pernah kita dengar.
Kasarnya, jika saya tidak salah tangkap, keindahan itu bukan semesta, tapi semesta melalui keindahan berusaha berbicara kepada kita agar kita mendekat dan bersatu dengannya. Keindahan hanyalah wahana, hanyalah bahasa yang mengajak berkomunikasi.
Foto credit: Lone Cypress, wallpapercave.com
Tulisan ini keren banget. Terima kasih banyak Joe. Seringkali kita berhadapan dengan keindahan, tapi luput mengendapkannya ke dalam diri. Padahal lewat hal-hal itu semesta sedang berbicara dengan manusia. 🙏🏼🤗