Satu hal yang saya rasakan dalam usaha mentuntaskan kegiatan menulis setiap hari adalah berusaha untuk selalu jeli melihat segala sesuatu, melatih kepekaan, dan selalu berusaha terbuka menyerap banyak hal. Ini sama sekali tidak mudah! Sama seperti fotografer, tidak semua orang punya bakat untuk "melihat" sesuatu yang sangat menarik untuk diabadikan! Itu baru step pertama loh, masih ada step-step lainnya yang harus dilakukan untuk berhasil menciptakan produk akhir.
Saya bukan penulis! Mata pelajaran bahasa Indonesia dulu ketika masih di sekolah juga bukan pelajaran favorit dan paling sebal jika mendapat tugas mengarang. Pertama harus mencurahkan semua imajinasi dalam bentuk tulisan, dan menulis itu bukan kegiatan menyenangkan karena menghabiskan waktu bermain saya dan membuat jari-jari pegal dan sakit.
Saya senang berimajinasi, senang menghayal dan senang berandai-andai, tapi jika kemudian semuanya itu disalurkan dalam bentuk tulisan maka saya merasa imajinasi, khayalan dan lamunan saya itu menjadi sangat dangkal, sagat miskin dan jauh tidak semenarik jika semua hal itu hanya dalam bentuk "narasi" di dalam otak. Hmmm... susah juga menjelaskannya. Bayangkan saja sebuah gambar dalam otak kemudian harus digoreskan dengan pensil di sebuah bidang di atas kertas, hasilnya jauh dari yang dibayangkan dalam otak bukan? nah seperti itu maksud saya.
Yang berikutnya yang menjadi kendala adalah kecepatan! Coba bayangkan ada seseorang yang mengedipkan sebelah mata dengan cara yang sangat cantik sambil tersenyum jenaka. Lalu coba gambarkan peristiwa yang hanya 1 atau 2 detik itu dalam sebuah narasi setepat dan segamblang peristiwa aslinya ditambah dengan reaksi orang yang menerima kedipan itu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menggambarkan peristiwa sekilas itu? Belum tentu tulisan itu semenarik peristiwa aslinya lalu pada saat kita selesai menggambarkan peristiwa itu momen-momen lainnya sudah terlewat terlepas dari jangkauan!

Selanjutnya adalah kemampuan untuk menguraikan semua yang ingin diceritakan dalam bentuk yang menarik, runtun serta tepat seperti gambaran yang ingin diungkapkan. Ini adalah step yang tidak mudah dan seringkali dalam prosesnya berhenti ditengah jalan lalu akhirnya kehilangan mood dan masuk tempat sampah padahal sebelumnya idenya sangat baik, momen nya sangat indah untuk diabadikan. Sama halnya seperti foto. Yang kita lihat begitu indah tetapi karena keterbatasan alat seperti lensanya kurang wide, tidak memiliki filter UV atau polarizer, pixel kamera nya rendah, atau F number lensanya tidak memadai, maka yang kita lihat dengan lensa mata ciptaan Tuhan ini tidak mampu ditangkap oleh lensa kamera ciptaan manusia. Belum lagi keahlian tukang fotonya! Sudutnya tidak tepat, komposisinya tidak baik ditambah kreatifitas serta kejelian mata untuk memilih objek yang terbatas. Satu lagi, yang tidak kalah penting juga adalah kesabaran! Pernah terpikir berapa lama seorang fotografer National Geography harus mengendap-endap, kemping dan lain-lain untuk menangkap sebuah gambar seekor satwa liar?
Ya, menulis itu tidak mudah tapi kalau tidak dimulai maka tidak akan pernah terjadi. Seperti sebuah pribahasa Cina, A journey of a thousand miles always starts with the first step, maka ini cocok juga untuk diterapkan dalam kegiatan menulis, sebuah kisah yang sangat indah selalu diawali dengan sebuah kata! Benar tidak? Nah kalau tidak mulai dengan sebuah kata maka sebuah kisah yang sangat precious, sangat indah dan spesial akan terlupakan begitu saja.
Saya sering tidak mempunyai ide untuk menulis sama sekali. Salah satu trik yang saya lakukan adalah dengan bercerita bahwa saya tidak punya ide (hahaha) lalu dimulai dengan 1 kata diikuti dengan kata yang lain, dalam perjalanannya biasanya justru ide keluar begitu saja. Seperti kali ini saya cuma punya 1 kalimat bahwa "menulis itu susah" dan terus sambung menyambung dari 1 kalimat yang didukung dengan kalimat-kalimat lain beserta penjelasannya. Akhirnya berhasil juga menciptakan sesuatu tulisan. Lalu sesudah itu saya mulai membaca secara keseluruhan, diedit, dibuang dan ditambahkan sana sini dan kadang juga ada ide lain yang muncul sebagai pendukung. Ya begitulah.
Pendek kata, mulailah dengan sebuah kata, lalu diikuti dengan kata-kata lainnya! Then at the end you will have a precious thing that you will never forget!***
Waaah deskripsi yg asik tentang proses penulisan plus juga pemaknaannya. Nuhuun...
Muanteb tenan. Intinya setiap orang punya kisah, pemikiran, atau pengalaman yang bisa dituliskan ya, Pak Jo. Tinggal berlatih menuangkannya.
Waduh Pak Jo yang jago cerita masih merasa susah banget menarasikan yang ada di benak ya.. apalagi saya pak.. belum pernah berhasil bikin cerita tuh pak.. huaaa
hahaha kak Ine bisa aja. Ini sekarang sepagian saya cuma bengong ga tau mau ngapain atau nulis apa hahaha