Rabu kemarin, tim Smipa mulai dengan guliran di tahun perjalanan yang ke 22. Sesuatu yang tentunya disyukuri. Proses belajar yang tanpa henti - dan kalau diimajinasikan betapa banyak proses pembelajaran yang sudah berjalan dan dialami. Bukan belajar seperti yang dulu kita alami seperti belajar dari buku paket atau diktat kuliah - tapi belajar yang lebih mendalam. Belajar yang lebih bermakna - dan mudah-mudahan lebih berkesadaran.
John Dewey bilang, Education is Life itself. Dengan demikian pembelajaran juga harus melebur dengan proses kehidupan. Harus sedekat itu... Kenapa? Supaya manusianya dengan demikian juga tidak menjadi berjarak dengan kehidupan. Ia menyadari dirinya, lingkungan dan tujuan hidupnya - sebagaimana Sang Kuasa menciptakan dirinya. Kurang lebih demikianlah kami memaknai pendidikan holistik.
Seperti biasa kami membuka proses dengan waktu hening - menyadari sepenuhnya diri dan lingkungan kami. Pagi itu kami duduk di teater Semi Palar dan duduk dalam hening. Menyadari nafas, menyadari hembusan angin, cuitan burung-burung dan desiran dedaunan. Asap dari sesuatu yang dibakar juga menyeruak masuk ke dalam panca indera kami. Kami hadir di Semi Palar lagi setelah berjeda dari proses kami di TP21 - beberapa minggu silam.
Pagi kemarin saya berusaha membawa kakak untuk memahami kembali esensi pendidikan holistik yang kita terus upayakan penerapannya di Rumah Belajar Semi Palar. Belajar holistik untuk membantu teman-teman bertumbuh kembang menjadi manusia seutuhnya bukan perkara sederhana - karena kita sendiri juga semestinya menyadari kompleksitas diri kita sebagai seorang manusia - sebagai individu yang mendapatkan anugerah kehidupan dengan segala keunikannya - sekaligus menjadi satu-satunya makhluk ciptaanNya yang memiliki anugerah kesadaran.
Ada dimensi yang sangat abstrak, sulit tergambarkan dan tidak terdefinisikan yang menjadikan kesejatian seorang manusia yang berkesadaran. Inilah yang menjadikan pendidikan holistik sesuatu yang punya tantangan besar untuk diselenggarakan. Apapun itu, hal ini perlu disadari penuh dan kesadaran ini bagi Semi Palar sudah menjadi langkah awal untuk memfasilitasi proses yang berjalan di dalam diri setiap individu anak-anak kita.
Pendidikan holistik bukan sekedar mengenai olah pikir. Karena kerja pikiran dan ruang kesadaran hadir dan bekerja dengan cara yang bertentangan. Sederhananya satu adalah mengenai olah pikir - sementara di ruang kesadaran, yang bekerja adalah olah rasa. Rasa adalah 'bahasa' yang hadir di ruang batin. Sesuatu yang erat dengan bagaimana jiwa manusia hadir dan mengambil tempat sebagai latar di dalam laku kehidupan manusia. Entitas yang selalu hadir dalam diam dan menanti manusia menyadari dan membuka diri untuk mengijinkannya hadir. Sehalus itu, sehening itu sifatnya. Karena olah rasa ini erat dengan jiwa sebagai hakikat kedirian manusia, sesakral itu jugalah keberadaannya.
Sejak kita duduk di bangku sekolah, mulai di TK, SD, SMP dan kemudian SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kita kuliah - tapi setiap prosesnya didominasi oleh olah pikir. Hampir tidak pernah guru-guru kita memberikan perhatian pada olah rasa - untuk menyentuh dan masuk ke lapisan terdalam kedirian kita. Inilah sebabnya pendidikan kita hanya menghasilkan orang-orang pintar yang jiwanya hampa. Manusia yang kebingungan dengan identitas dan tidak mengenal dirinya yang sejati. Manusia inilah yang kemudian dengan segala kepintarannya kemudian mengeksploitasi alam bahkan manusia lain untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Berusaha menemukan kebahagiaan tanpa bisa menemukannya. Semata-mata karena jiwa mereka tidak pernah mendapatkan perhatian dan menjadi senantiasa gelisah, gelisah dan gelisah.
Video di bawah ini kami jadikan pemantik untuk mulai memahami dimensi rasa yang sangat abstrak dan sejatinya tidak terdefinisikan lewat kata-kata. Di dalam tradisi masyarakat jawa, olah rasa ini ternyata jadi bagian penting dari kehidupan manusianya. Sebetulnya kita tidak perlu lari jauh. Kita tinggal kembali ke kearifan masyarakat kita sendiri, pitutur leluhur yang mungkin kehidupannya lebih sederhana tetapi penuh makna dan bahagia...
Dengan kesadaran inilah kita memasuki guliran TP22 di Rumah Belajar Semi Palar, Sadar Kembali ke Akar. Frasa terakhir kami pinjam dari judul paparan mas Faisal beberapa waktu lalu di Pertemuan Orangtua Semi Palar. Pertemuan yang mengingatkan bahwa kita tidak perlu pergi jauh mencari ke mana-mana. Kita perlu hanya perlu kembali ke akar, ke masyarakat tradisi, ke keluarga dan ke dalam diri sendiri. Di sanalah jawaban tentang banyak pertanyaan bisa ditemukan... Semoga.