AES 132 Satu Kalimat
leoamurist
Wednesday October 6 2021, 5:45 AM
AES 132 Satu Kalimat

The dislike was still there. It hadn’t gone away, but it wasn’t getting in the way. What you are aware of you are in control of; what you are not aware of is in control of you. You are always a slave to what you’re not aware of. When you’re aware of it, you’re free from it. It’s there, but you’re not affected by it. You’re not controlled by it; you’re not affected by it. That’s the difference. ~Anthony de Mello

Mungkin ini seperti waktu sebal dengan situasi dimana satu pihak melepas narasi panjang lebar luas keliling tinggi isi, yang membuat kita malah mengerti geometri padahal yang dibahas ekonomi. Kalau kita gak sadar, bisa jadi menggerutu lalu pergi atau menginterupsi dengan narasi lagi. Kalau sadar, kita mendengarkan; bukan mendengarkan racauan itu, justru mendengarkan isi pikiran sendiri.

Bisa juga seperti waktu sebal dengan situasi saat satu pihak begitu menginginkan instruksi jelas yang tinggal dipergunakan, sambil ia mempertanyakan sejarah instruksi yang tidak sesuai seleranya dan memanfaatkan yang sesuai seleranya. Begitu diminta terlibat dalam inovasi lanjutan, ia sibuk mengalihkan dan malah memotong pembicaraan dengan panjang lebar luas keliling tinggi isi itu tadi.

Kalau kita gak sadar, bisa jadi menggerutu lalu pergi atau menginterupsi dengan narasi lagi. Kalau sadar, kita mendengarkan; bukan mendengarkan racauan itu, justru mendengarkan isi pikiran sendiri.

Kebayang, kalau kita sadar maka kita semakin mengerti apa yang terjadi dalam pikiran kita dan menguasai semua pemikiran-pemikiran yang muncul di dalam pikiran sendiri. Jadinya diam, berbeda dengan diam yang kosong, berbeda dengan diam yang menghakimi diam-diam, berbeda dengan diam yang mengalihkan perhatian. Diamnya adalah merangkai satu kalimat yang akan terwujud kemudian.

Jadi, semua racauan dari luar yang menerpa kita tidak memiliki kendali atas kita. Malahan itu semua jadi pemicu terangkainya keselarasan pemikiran dan perasaan dalam diri kita. Sehingga kita memegang kendali atas kesadaran diri sendiri. Tidak heran kalau tiba-tiba bisa melihat ke masa depan sekaligus melilhat ke masa lalu, di saat bersamaan di saat itu juga.

Selesai keriuhan racauan badai kata-kata, kita dengan ringan menyebutkan satu kalimat yang telah terangkai itu tadi. Satu kalimat yang tepat, tepat. TIdak terlalu tepat, tidak kurang tepat. Yang membuat semua orang di ruangan terdiam. Karena rasanya benar, walaupun belum masuk akal.

Selesai kah situasi ini? Tentu tidak! Justru ini baru dimulai lagi ronde selanjutnya. Yang adalah : baca lagi dari paragraf kedua ya 😋