AES 1562 Untung Ada Baklava
joefelus
Saturday January 31 2026, 3:32 AM
AES 1562 Untung Ada Baklava

Hujan deras mengguyur kota Istanbul ketika kami mendarat dengan pesawat no TK0202.Tubuh saya sangat lelah setelah selama 12 jam tidak nyaman tidur di dalam pesawat yang setengah kosong. Sayangnya di deretan saya duduk ada seseorang yang memilih di jendela, jika tidak, deretan 3 kursi ini akan menjadi milik saya sendirian, seperti Nina yang duduk di deretan bagian tengah. Nina dapat berbaring mengambil seluruh 3 kursi seperti banyak penumpang yang lain. Ini adalah kali kedua saya duduk di pesawat Turkish airline yang kosong. Pertamakali adalah satu setengah bulan yang lalu dari Istanbul menuju Denver, kursi disamping saya duduk kosong jadi saya dengan leluasa dapat menaruh barang bawaan yang sebenarnya termasuk banyak dan berat. Sekarang malah menurut saya lebih parah lagi, mungkin pesawat hanya terisi setengahnya. Wajar saja jika ketika Nina dan saya check in barang bawaan, hampir tidak ada antrian. Apakah mungkin jumlah wisatawan tujuan Amerika sekarang berkurang, saya tidak tahu, menurut data statistik katanya sekitar 30% wisatawan menghindari perjalanan dengan tujuan Amerika. Masuk akal sekali jika mengamati situasi politik yang sedang hangat. Saya tidak mau berbicara banyak sebab bagi saya yang sering mondar-mandir ke negara ini karena Kano adalah warganegara Amerika, sangat berbahaya. Sekarang imigrasi melacak sosial media. Banyak Visa ditolak gara-gara sosial media, padahal negara ini selalu menggembar-gemborkan kebebasan berpendapat. Praktiknya ternyata tidak selalu begitu.

Nina dan saya bergantian menikmati kursi-kursi kosong ini. Jika saya tidak sedang tidur, banyak filem-filem baru yang bisa saya pilih untuk ditonton di dalam pesawat. Walau 3 kursi bisa kami manfaatkan untuk tidur dengan lebih nyaman daripada duduk di kursi yang sudah di-reclined, tetap saja berbeda dengan tidur di pembaringan. Tubuh saya terasa pegal-pegal dan tidak dapat tidur dengan nyenyak. Apalagi tubuh saya kebingungan karena perbedaan waktu yang ekstrim. Bayangkan saja, tidak lama sesudah kami masuk pesawat dari Denver, makan malam langsung disajikan. Saya yang orangnya hitung-hitungan kalau bayar mahal (hehehe) tidak mau rugi ketika ditawari makanan dan minuman, wine dan beer adalah pilihan utama daripada pepsi atau jus jeruk. Makanan juga tidak mau yang vegetarian melainkan yang "lebih mahal", malam ini makan malam kami adalah moutabal yaitu semacam baba ghannuj yang dibuat dari terong dihaluskan dengan tahini atau pasta yang dibuat dari biji wijen. Ini jenis dip yang sangat saya sukai karena ada aroma bawang putih, rasa asam dari air jeruk lemon dan minyak zaitun yang harum. Moutabel ini ditemani dengan selada, grilled cod fillet dengan tumisan sayuran dan puree kentang yang sangat enak, lalu ditutup dengan brownie raspberry. Saya dapat menghela napas panjang sambil mengelus-elus perut yang menggembung kekenyangan serta kepala agak terasa ringan sesudah menghabiskan 2 gelas wine.

Jam biologi saya kacau balau dan tubuh kebingungan sebab 10 jam kemudian di hadapan saya ada sarapan berupa potongan kentang panggang, scrambled eggs, dinner roll dengan mentega dan selai, beberapa potong keju yang menurut saya sangat enak tapi begitu kuat rasanya, cocok ditemani sekerat tomat dan timun. Sarapan selesai, jendela dibuka dan cahaya matahari sore menerangi seluruh pesawat. 1 jam kemudian kami mendarat dan hari sudah petang! Saya sarapan pada saat menjelang magrib! Saya akhirnya mengerti kenapa pihak maskapai tidak menyebutnya dengan sarapan, tapi santapan menjelang mendarat, before landing! Karena penerbangan kami berpacu dengan matahari, dari Barat ke Timur sehingga perjalanan melalui perbedaan waktu yang membuat orientasi, body clock kacau balau. Tubuh saya kebingungan.

Entah karena memang tubuh terlalu lelah atau kebingungan seperti yang barusan saya katakan, Nina dan saya ketinggalan acara tour keliling kota. Entah mengapa kami beranggapan tour akan dimulai pukul 8:30 malam, ternyata ketika kami tiba di booth pendaftaran, tour sudah berangkat dan kami terlambat 30 menit. Dengan kecewa terpaksa kami harus kembali memasuki bandara, check in melalui security, kembali melewati imigrasi berjubel-jubel dengan banyak orang Timur Tengah dan Eropa Timur yang beberapa diantara mereka senang menyerobot.

"Excuse me.. Excuse me.. time problem.. time problem!" Katanya.

"What time is your flight?" Tanya saya galak

"prfh pusss.." Itu yang saya dengar, tidak jelas dia mengatakan apa. Beberapa orang disamping saya ikutan jengkel.

"Show me your ticket!" Kata orang lainnya

"Everybody has the same problem!"

"Stay in line!"

Orang-orang mulai ngomel dan saya juga tidak bergeser dari antrian. Saya ingat pernah mengalami ini hampir 2 tahun yang lalu karena tertinggal pesawat gara-gara pesawat yang saya tumpangi tertunda 3 jam. Saat ini saya sedang lelah, jengkel karena kebodohan salah melihat jadwal sehingga tertinggal tour keliling kota dan makan malam di restoran tanpa dipungut biaya. Saya semakin kecewa karena tahu bahwa tour di malam hari menuju beberapa tempat terkenal di Istanbul tidak menjadi kenyataan. Saya marah karena sekarang harus ngantri imigrasi berjubel dengan banyak orang dan saya sebal karena saya harus merogoh dompet untuk makan malam yang seharusnya tidak terjadi jika sedikit lebih teliti.

Antri di security dan imigrasi bukan hal yang menyenangkan. Perasaan terintimidasi karena harus berhadapan dengan petugas tidak dapat dihindari. Lucunya di Turkiye para petugas imigrasi sangat hemat kata-kata. 4 kali saya berhadapan dengan mereka, saya merasa berhadapan dengan artis pantomim sebab tidak ada kata-kata, hanya gerakan tangan! Hahaha.. Tadi petugas menyuruh saya melepaskan kaca mata dengan gerakan tangan! Lucu tapi efisien.. Daripada segerombolan orang-orang yang tidak mau antri dan berteriak-teriak time problem.. time problem dan menjawab "prfff pusss" ketika ditanya jam penerbangan mereka tapi begitu lewat antrian mereka hanya berjalan dengan gontai.. dalam hati saya memaki "Sontoloyo!" Tapi ya sudah.. Yang saya sadari adalah saat ini saya sedang lelah dan kecewa.

Makan malam lagi-lagi saya terkecoh. Memilih ayam Popeyes karena melihat harganya hanya belasan saja dibanding dengan Doner Kebab yang ribuan Lyra. Ternyata begitu saya bayar, tagihan kartu kredit diatas $53, ternyata harga yang mereka gunakan adalah mata uang Euro!!! Logo Euro dan Lyra kalau benar-benar teliti tentunya bisa dibedakan. Saya sedang lelah jadi teledor. Ketika makan, saya sangat kecewa karena menu Popeyes di sini tidak seenak yang biasa saya nikmati di Colorado. Sandwich nya penuh dengan olesan mayonais tebal, juga coleslaw-nya seolah-olah mayo diberi toping sayuran. Nugetnya seperti potongan tetelan ayam, seolah-olah sisa-sisa potongan ayam yang tak terpakai. Daripada makan itu, lebih baik saya makan Doner Kebab dengan harga setara tapi sudah ditambah dengan baklava dan kopi Turki! Lagi-lagi saya kecewa. Menyesal karena keteledoran yang sebenarnya dapat dihindari. Terpaksa saya menyalahkan tubuh yang bingung dan kelelahan sehingga kurang teliti hahaha.. Bayangkan saja, 894 ribu rupiah bisa untuk makan nasi Padang berapa kali? Yang saya dapat hanya sandwich ayam, nuggets, french fries yang sudah loyo dan tidak krispi dan segelas pepsi! Huek.. Nasi Padang rasanya 100x lebih enak dan lebih memuaskan! dan 894 ribu bisa untuk berapa porsi??? Grrrr...

Saya masih harus menunggu berjam-jam lagi. Pesawat berikutnya baru akan siap 2 jam sesudah tengah malam dan terbang selama 12 jam lagi hingga tiba di Jakarta. Saya butuh tambahan penyemangat yang dapat menanggulangi kelelahan serta kekecewaan. Jawabannya sederhana, karena saya ada di Turkiye, maka tidak dapat tidak saya harus menikmati kopi Turki dan baklava. Sepertinya ini adalah satu-satunya hal yang menyenangkan malam ini, meskipun harus mengeluarkan uang 250 ribu Rupiah untuk secangkir keciiiiil kopi Turki dan 2 kerat sebesar ibu jari baklava!