AES 029 Enam dari Tujuh, Ego
leoamurist
Wednesday October 13 2021, 10:30 PM

Egois dengan egosentris itu berbeda. Sa pu pemikiran. Seperti berpikir positif dengan berpikir optimis itu berbeda. Berpikir optimis semacam berorientasi kepada suatu pemenuhan yang akan tercapai pada waktu yang paling pantas selayak usaha yang diberikan. Lawannya kan pesimis.

Berfikir positif bisa jadi adalah Perluasan area pandangan seiring dengan bertambahnya sudut pandang. Positif menyimbolkan penambahan, negatif menyimbolkan pengurangan. Atau penyempitan. Kalau seperti ini, berpikir positif adalah meluaskan pemikiran, mencakup yang tadinya tidak tercakup. Lawannya, menyempitkan pemikiran.

Oh ya pikiran dan pemikiran juga berbeda lho.

Egois, seperti berpikir positif. Bermula dari diri sendiri lalu meluas keluar semakin luas semakin mencakupi semakin besar ego sampai menyatakan bahwa diri adalah semuanya ini. Jadi inget Gandhi, egonya seluas India bahkan dunia kali ya. Ego sentris, kebalikannya. Semacam, dari aku oleh aku untuk aku. Sadar gak sadar. Disadari gak disadari.

Hambatan dari ajna salah satu yang paling hit adalah kesempitan wawasan. Kenapa?

Memang sempit pandangan dan wawasannya. Jadi apapun keluasan yang ada di hadapan selalu terlihat sebagai garis lurus memanjang saja. Perluasan jelas merepotkan, seperti proses pelebaran di pemukiman padat. Hampir tidak mungkin.

Menolak keluasan setelah melihat sisi kiri kanan. Jadi walaupun sudah mengenali tetap menolaki, justru karena sudah melihat makanya bisa menolak sih. Perluasan jelas merepotkan, seperti memaksa kucing untuk mandi. Bukan berarti tidak kenal air, justru karena kenal air. Menolak.

Tersesat oleh keluasan setelah melihat semua, mengingini semua, masuk ke semua, tidak bisa membawa semua jadinya ambil satu saja yang paling lekat di pandangan saat itu juga. Perluasan pun merepotkan karena semuanya habis dilahap, keluarannya jadi tidak relevan. Lagipula yang dibutuhkan arahan. Sudah luas kan.

Kesempitan membawa keterpisahan.

Keterpisahan yang satu, memaksakan kesempitannya kepada lingkungan dan orang lain. Kesempitan yang nol, diam menarik diri (beda dengan membatasi diri) memegang delusi sendiri lalu menyeleksi berdasar selera pribadi melindungi kesempitannya.

Eh, apa tadi kesempitan itu? Bukan sodara kembarnya kesempatan kan.
Kesempitan tuh dari aku oleh aku untuk aku. Kalau kesempatan, itu jarak yang bisa ditempuh dalam jangka waktu tertentu.

Kecepatan woy itu.

Oiya...

You May Also Like