Matraman 2015, di antara dua pilihan. Lanjut bertualang ke daerah rawan bencana berpenduduk rentan, kolaborasi pelatihan. Atau pulang bandung mulai dari awal, jadi penduduk yang tenang. (Pilihan kedua lebih mengerikan sih.)
Sambil jalan dan ngopi, (ngopinya gak sambil jalan juga, tumpah nanti kan), bikin tulisan. (beneran dah ini tumpah kopinya, udah jalan, ngopi, nulis pula)
_
Kami penduduk pun petualang, mengetahui pengalaman dan mengalami pengetahuan. Bukankah kalian membawanya kepada kami, dengan perjalanan dan perhentian dimana kita berjumpa dan berbincang.
Sebotol air minum dan sepiring makanan menjadi saksi. Bahkan kita berfoto bersama, dengan latar belakang alam indah yang kalian puji, itu rumah kami.
Kalian tidak menganggap kami sekadar objek foto bukan, seperti alam yang kalian definisikan indah itu. Karena kalau begitu, kalian terlalu memuja kami, padahal kita setara.
Kami penduduk pun petualang, kalau perjalanan itu mengenai pengetahuan, pengalaman, untuk kebijaksanaan. Bedanya kalian melalui perjalanan sedangkan kami dilalui perjalanan.
–
Kami pejalan adalah petualang, mengalami pengetahuan dan mengetahui pengalaman. Kalian menunjukkannya, di perhentian saat kami beristirahat sejenak, bahkan di perhentian tujuan, kami memungutnya.
Pengetahuan yang terduduk diam itu kalian berikan melalui perbincangan bersama alam dan kebudayaan setempat yang tetap. Sepiring makanan dan sebotol air, bahkan foto-foto di kamera kami menjadi bukti.
Pengertian kami melalui perjalanan sedangkan kalian dilalui perjalanan. Perjalanan memang tentang pengetahuan, pengalaman, untuk kebijaksanaan.
–
Sebagai bagian dari perjalanan, menemukan pengetahuan dan mengalami kebijaksanaan, kemudian sama-sama membawanya pulang. Sang pejalan memungut pengetahuan yang diletakkan penduduk, sang penduduk menerima pengetahuan yang dibawa-bawa pejalan.
Keduanya petualang. Kalau bukan, darimana pengetahuan masing-masing sebagai bahan tukar dalam perjumpaan.
_
Sebagai perjalanan itu sendiri, membawa pulang hal baru, meletakan pengalamannya, mengerti kebijaksanaannya, lalu paham bahwa tidak ada yang baru dan semuanya sama bahkan satu.
Kemudian membuangnya, semua.
Sukarela.
Bebas.
Selain daripada ini; adalah laku koleksi yang bikin ketagihan.
Itu pun perjalanan, untuk kembali membawa pulang lagi dan bertemu pilihan lagi;
bebas atau ketagihan.
Pikiran yang orisinil bukanlah pikiran yang melihat hal baru, melainkan yang menemukan hal-hal yang niscaya ada dari hal-hal yang dianggap baru oleh zaman. -F. Nietzsche-.