Adalah frasa yang paling saya hindari, dalam arti minimalisasi penggunaannya. Karena rasanya seperti mengucapkan mantra penuh kesia-siaan, seperti makan nasi goreng yang sudah tinggal beberapa butir baru menemukan kerupuknya tertinggal dalam bungkusan. Jadinya kesisa-sisaan, makan kerupuk pakai butiran nasi goreng.
Kata jangan seringkali menutup saluran pendengaran, sehingga setelah kata ini terdengar, kata selanjutnya tak didengarkan. Jangan hujan-hujanan! Jadinya?
Jangan lupa! Jadinya?
Bukan berarti hujan-hujanan & lupa dilakukan untuk melawan, atau menolak, atau menyangkal. Bukan!
Kata kedua kan sudah tidak terdengarkan, jadinya tidak ada hubungan. Yang dilakukan bukan perlawanan, yang dilakukan hanya kebiasaan seperti biasanya seakan tidak ada apa-apa.
Kalau memang kesukaannya hujan-hujanan ya, jadi hujan-hujanan. Kalau gak suka hujan-hujanan, tidak akan. Bedanya, yang tidak hujan-hujanan kita beri label mendengarkan sedangkan yang hujan-hujanan kita beri label bebal. Padahal keduanya sudah menutup saluran mendengarkan kata kedua, oleh penempatan jangan di awalan.
Mereka hanya melakukan yang sudah jadi kesukaan & kebiasaan. Kita memberi penilaian dan label karena merasa telah turut jadi bagian. Padahal enggak.
Tanpa kata jangan pun pola kebiasaan selalu berulang, dengan kata jangan malah semakin dapat dipastikan.
Jadi, siapa yang sebenarnya bebal? Yang tetap mengulang-ulang frasa jangan lupa, atau yang selalu lupa.
Jangan lupa. Bagaimana kalau diganti dengan, ingat.
Jangan lupa makan, jadi ingat makan.
Jangan lupa cuci piring, jadi ingat cuci piring.
Jangan lupa-kan aku, jadi ingat aku.
Sepertinya lebih enak pakai ingat, lebih ngirit kata jadi ga panjang ngetiknya & gak abis napas ngucapinnya.
Ingat, jangan lupa ya.
kak Leo, esai yang ini carikan ilustrasinya dong. 🙏🏼
Bukan kelupaan kan ya?