Pertama adalah otentisitas. Terasa jelas mana yang otentik dan mana yang imitasi; yah walaupun kebijaksanaan imitasi pun tetap adalah kebijaksanaan, tidak menafikan bahwa itupun tetap saja adalah imitasi. Sosok yang masih terasa bimbang, ketakutan, dan mengandalkan suruhan jelas tidak terasa dapat dipercaya. Seperti ketika seratus pandangan selalu dibantah, dengan cara seratus kali mengulang-katakan satu kalimat instruksi yang dipercayai sebagai paling aman.
Kedua adalah logika. Ya, ini soal kecanggihan logika. Terlalu canggih sampai tidak bisa diikuti oleh orang-orang, tidak bisa dipercaya. Terlalu sederhana sampai terlalu bisa diikuti oleh orang-orang bahkan terbaca sampai ke tulang dan lebih dalam lagi, tidak bisa dipercaya. Semacam yang terlalu pintar atau terlalu bodoh itu tidak bisa dipercaya; pun demikian untuk yang terlalu bodoh ada bonus rasa sebal, karena seratus opini dibalas dengan satu kalimat yang diulang seratus kali.
Terakhir adalah kepedulian. Salah satu indikasinya bisa dilihat saat berfoto, swafoto kah, foto bersama kah, apapun lah yang ada hubungan dengan gaya saat berfoto. Yang auranya narsis dan terlalu ekspresif, menghasilkan rasa tidak dapat dipercaya; terlebih yang ekspresinya pakai ekstra melankolis. Karena kepedulian terbesar adalah soal dirinya sendiri, saja. Ini jelas tidak valid ya, levelnya hanya di indikasi tataran permukaan dan sekilas pada umumnya. Cukup diketahui saja ke-tidak valid-annya, karena impresi pertama kan selalu dari ekspresi muka yak.