Perjuangan Ekonomi Banten Melawan Covid
Virus COVID-19 ini sudah masuk Indonesia sejak bulan Maret 2020, memberi banyak sekali dampak buruk terhadap banyak faktor seperti kesehatan, pendidikan, sampai ekonomi.
Sudah banyak sekali korban yang dirugikan oleh virus ini. Di provinsi Banten sudah tercatat ada sampai 7.593 kasus penularan virus COVID-19, dan kasus ini bisa bertambah seiring berjalannya waktu.
Jadi kali ini kita akan membahas tentang aspek ekonomi yang menjadi salah satu faktor penting di pandemi ini. Mengapa aspek ekonomi ini penting? Karena pastinya laju keuangan semua ada di ekonomi, apalagi roda ekonomi yang menurun drastis karena pandemi.
Gegara pandemi, bukan hanya korban terpaparnya virus ini, namun pekerjaan juga terpengaruh. Merosotnya roda ekonomi di Banten, menimbulkan pengaruh terhadap angka kemiskinan yang diprediksi akan bertambah/naik dikarenakan banyak orang yang menganggur, tidak punya pekerjaan, dll. Alhasil banyak sekali warga yang kesusahan bertahan hidup.
Banyak perusahaan yang bangkrut juga. Diduga karena beberapa faktor, di antaranya penerapan PSBB, sulitnya mencari bahan baku, rusaknya perputaran uang dari pemilik toko/perusahaan, dan masih banyak lagi. Menurut data statistik, tercatat bahwa dalam segi produksi di Banten, kemerosotan itu didorong oleh banyak sekali perusahaan. Dengan rekor terendah dicapai oleh perusahaan transportasi dan pergudangan di angka minus 47,00%.
Total Net Ekspor juga merosot jauh hingga menyentuh angka minus 49,12%. Selain itu, lapangan usaha lainnya yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif seperti perusahaan listrik dan gas mendapat penurunan sampai menyentuh angka minus 18,45 % dan kemudian jasa lainnya yang menurun sampai menyentuh angka minus 11,76 %.
Meski demikian, menurut data yang saya dapatkan, tidak semua pertumbuhan ekonomi di Banten negatif. Ada juga perusahaan yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang positif, seperti jasa kesehatan dan kegiatan sosial meraih angka 3,43 %. Selain itu hasil tani, kebun, dan juga hasil dari laut mengalami kenaikan hingga 3,92 %. Perusahaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang naik sebesar 5,80%, hingga yang mengalami kenaikan paling besar yaitu usaha telekomunikasi yang mencapai angka sebesar 9,74 %.
Sebuah artikel yang berjudul “Ekonomi Banten Tumbuh di Atas Rerata Nasional” yang dilansir oleh Media Indonesia | Referensi Bangsa, menyebutkan bahwa “Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten tembus mencapai 8,7 persen. Jika dilihat dari data, hal itu di atas rata-rata nasional.” Hal ini disampaikan Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) ketika menjadi keynote speaker pada webinar yang bertajuk "Kebangkitan Ekonomi Banten di Tengah Pandemi" Selasa (28/9). Bahkan Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan pertumbuhan investasi di Banten menduduki nomor 4 nasional dengan realisasi investasi di Provinsi Banten pada semester I 2021 yang mencapai Rp31,423 triliun atau 61,24% dari target tahun 2021 sebesar Rp51,30 triliun. "Untuk semester 2 tahun 2021 telah mencapai Rp62 triliun," ujar Wahidin.
Padahal, sebelumnya saat pandemi COVID-19 menyerang, ekonomi Banten sedang di atas angin. Tapi sekarang Banten mengalami nasib yang malang. Salah satunya adalah kas daerah yang tidak bisa dicairkan sebesar Rp1,9 triliun yang tersimpan di Bank Banten. Akhirnya Pemerintah Banten dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) mensosialisasikan manfaat dari rancangan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) karena pandemi COVID-19.
Rancangan ini diatur oleh UU Nomor 2 tahun 2020 yang menjelaskan tentang kebijakan dan stabilitas keuangan untuk penanganan di masa pandemi. Sampai akhirnya Gubernur Banten telah resmi menandatangani kesepakatan peminjaman modal kepada PT. Sarana Multi Infrastruktur. Pinjaman dana tersebut senilai Rp 851,7 miliar, ini termasuk pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi COVID-19.
Jadi kesimpulan dari semua data yang didapatkan, belum pasti apakah Banten sekarang mengalami pertumbuhan ekonominya yang positif atau negatif. Yang pasti ada perusahaan/lapangan kerja yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif dan negatif. Jadi mungkin setelah adanya program PEN yang direncanakan ekonomi Indonesia bisa pulih lagi, agar roda ekonominya berjalan lancar lagi.
DAFTAR PUSTAKA