AES48 Gitu aja kok Repot!
matheusaribowo
Tuesday July 11 2023, 6:05 PM
AES48 Gitu aja kok Repot!

Saya menemukan 2 kutipan terkait Line 3 dalam hasil tes Human Design saya. Pertama, "Semakin berbeda, kita semakin menarik." dari Salamatahari. Kedua, "Jika tak ingin dibatasi, jangan membatasi!" sebuah kutipan dari Gus Dur.

Berangkat dari kutipan pertama. Entah berapa banyak orang yang tidak "merdeka" menjadi diri sendiri. Yang jika dilihat dari kacamata Human Design, sejatinya setiap kita sangat menarik. Narasi tentang setiap manusia itu berbeda dan istimewa itu terjelaskan adanya. Mungkin kamu salah satunya? Tetapi di sini, di ruang ini, di Rumah Belajar Semi Palar, semakin kamu menjadi dirimu sendiri, semakin berbeda dari siapapun, semakin menariklah kamu. Seorang kawan bernama Eben pernah menulis, "aku bisa menjadi apapun dan siapapun, namun siapapun tidak bisa menjadi aku." Aku bisa menjadi apapun dan siapapun, itu hanyalah sebuah bayangan. Tetapi siapapun tidak bisa menjadi aku, itulah true self

Kutipan kedua dari Gus Dur sang idola. Bersama kutipan ini saya setuju dengan pernyataan kak Leo bahwa pendidikan itu alat kebebasan. Pendidikan membuat kita menjadi bebas mengakses apa yang hendak diakses. Sebuah cara mendapat kemerdekaan, lebarasi. Tak hanya tentang batas-membatasi, tentu kita semua ingat dan sangat familiar dengan ungkapan Gus Dur, "Gitu aja kok repot!" Ya, gitu aja kok repot. Pernah bahkan sering terlintas di benak saya untuk meminjamkan kondisi batin saya kepada beberapa teman yang kudengar cerita atau curhatannya. Sebab saya merasa, orang-orang seringkali khawatir dan takut pada hal-hal yang tak seharusnya ditakuti. Sebaliknya, tidak takut atau khawatir pada hal-hal yang seharusnya dikhawatirkan. Di dunia pendidikan ada perbandingan yang sering saya dengar, "di negara maju mah guru-guru lebih khawatir siswanya tidak bisa antre daripada tidak bisa matematika." Sederhana sekali tetapi amat penting. Menyoal budaya antri, ternyata erat kaitannya dengan kesadaran ruang. Hal yang selalu menjadi perhatian khusus di Smipa sejak jenjang terdini. Namun, di luar sana justru disepelekan dan dianggap hal remeh. "Ah, gitu aja kok repot!"