Perjalanan pulang dari Cibanteng menuju Cileunyi saya isi dengan mendengarkan sesi paparan ilmu dari Bapak Fahruddin Faiz yang juga sering dilabeli dan disebut dengan ngaji filsafat. Ada satu bagian di mana beliau mengutip salah seorang filsuf (saya lupa namanya) yang menyatakan manusia adalah makhluk multidimensi. Seorang pencuri bisa jadi jahat di satu momen ketika ia melakukan aksinya, namun ketika pulang bermain dengan anaknya ia bisa berubah menjadi manusia yang baik.
Begitu pula dengan "wartawan jahat" yang datang ke sekolah saya. Seorang pria yang tiba-tiba marah karena sekolah sudah kosong di pukul 2 sore padahal memang jam pembelajaran sudah selesai, terlebih lagi di hari itu sedang ada perayaan Hari Pramuka Nasional. Kemarahannya tidak berhenti di situ, ia melihat ruang kelas yang memang oleh guru sengaja dibebaskan agar murid bisa melukisnya dengan gambar-gambar yang mereka sukai. Ia bahkan melabeli murid sekolah kami murid-murid nakal karena perihal ini.
Untungnya ketika itu saya dan guru-guru memang sedang tidak ada di sekolah berkenaan dengan Hari Pramuka tadi, kalau kami ada sudah habis itu wartawan kami tanya tentang surat tugasnya dan filosofi pembelajaraan kurikulum merdeka. Dikarenakan yang ia hadapi adalah penjaga sekolah, maka wartawan ini berubah seakan-akan ia lebih superior dari beliau dan berhak marah-marah. Pada akhirnya penjaga sekolah memberikan nomor telepon Wakasek Sarana dan ternyata wartawan ini pun berani menelepon.
Wakasek Sarana di sekolah saya adalah orang yang cukup berpengalaman menghadapi "wartawan jahat". Ketika sang wartawan mengancam akan meliput sekolah kami, jawaban beliau cukup sederhana "silakan saja liput, sekalian biar orang-orang tahu ada sekolah yang kekurangan seperti kami." Setelah jawaban ini sang wartawan seperti tidak puas dan membalas bahwa kalau meliput ia butuh konfirmasi dulu ke Kepala Sekolah dan akan datang lagi nanti. Ini dibaca oleh Wakasek sebagai aksi pemerasan dan kode "kalau tidak mau diliput silakan bayar!"
Aksi nekat dan gila ini ternyata sang wartawan lancarkan ke beberapa sekolah. Kami berkesimpulan sepertinya beliau memang sedang dalam keadaan terjepit dan ekonominya sedang sulit untuk menghidupi keluarganya. Maka beliau sedang menjadi makhluk multidimensi yang punya niat baik untuk menghidupi keluarganya, namun di lain sisi menjalankan perilaku buruk untuk memenuhinya.
Apakah para pejabat juga seperti ini? yang paling bahaya sih kalau ternyata mereka adalah makhluk satu dimensi, punya niat buruk untuk negara ini atau kepentingan pribadinya, dan menjalankan ambisinya dengan cara yang buruk pula. Hanya Tuhan Yang mengetahui kebenaran sesungguhnya.