Rintik - rintik hujan berjatuhan ke tanah, berdansa seakan berpesta. Hari itu sangat gelap, udara dingin yang menusuk. Kau bahkan tidak bisa melihat tanganmu sendiri. Seakan kegelapan telah meliputi seluruh bumi. "Kita butuh lebih banyak kayu." katanya sambil melempar batang kayu terakhir ke dalam perapian. Jason hidup bersama ayahnya. Mereka tinggal di gubuk tua didekat sungai, kayu nya sudah lapuk dan berlumut. Mereka dulunya hidup di kota indah yang terletak dekat bukit tinggi. Hidup Jason normal sampai dia kelas 3. Dia dengan tidak sengaja jatuh dari tangga di sekolah saat balik dari istirahat dan menangis. Itu biasa, hampir semua anak SD yang jatuh akan menangis. Tapi, tepat saat air mata Jason menyentuh tanah, langit mengelap dan bergemuruh, seakan marah. Hujan tiba-tiba turun dari langit, seakan seorang dewa mencucurkan air matanya. Petir dan angin pun bertiup dan menyambar-nyambar.
Semua murid berlarian kesana kemari, dan guru guru mencoba menenangkan Jason yang masih kelak menangis ditengah badai. Sejak hari itu, Jason selalu terkenal sebagai anak yang memanggil badai setiap kali air matanya menyentuh tanah. Akan tetapi badai yang "diciptakan" oleh Jason seolah mempunyai pemikiran nya sendiri. Muncul tanpa peringatan dan sebab. Bahkan tanpa air mata nya menyentuh tanah. Mungkin sebuah tanda? Tapi tetap, Jason lah yang di tanggung jawabkan atas kerusakan akibat badai badai yang berdatangan ke kota. Ayah Jason sudah berusaha untuk meyakinkan warga sekitar bahwa Jason bukan penyebab datang nya "kutukan". Ia bahkan membayar kebanyakan kerusakan bangunan di kota, yang membuat hidup keluarga sengsara. Ia harus keluar banyak uang setiap hari untuk memperbaiki kerusakan.
Ibu Jason yang sudah tidak kuat lagi, akhirnya meninggalkan Jason dan ayahnya. Jason merasa bersalah, tetapi ia tau bahwa badai datang bukan oleh karena nya.