Guyonan Kak Robert waktu di Semipa Co Op terngiang di kepala kala aku hingga saat tulisan ini dibuat menjawab pertanyaan “Wih pecinta alam nih” lalu balasan lain dari kakak Robert maksud bilang “Nah kalau alam tidak mencintai kita bagaimana?”
Memikirkan ini bahwa alam mencintai manusia balik dengan memberikan segala yang dimilikinya. Cuaca misalnya sesuai waktunya saat waktunya alam itu kemarau ia akan tepat waktu kemarau, dan jika waktunya musim hujan ia akan tepat waktu masuk musim hujan.
Atau hal lainnya misalnya seperti bagaimana ketika di gunung kita mendapatkan udara yang sejuk dan dingin. Kita merasakan langsung dari alam rasa cintanya mereka kepada kita. Pepohonan menyerap karbondioksida yang dikeluarkan oleh pohon sementara pohon mengeluarkan oksigen. Serta mata air yang tersedia dari sumber mata airnya juga merupakan anugrah dari cintanya alam ke manusia.
Alam terlihat marah dalam hal memberikan banjir, longsor, gempa, badai, dan lain-lain. Kehancuran yang terlihat karena manusia juga tidak sayang dengan alam. Bangunan dibangun di atas tanah tanpa perencanaan yang matang membuat alam semrawut. Yang diberikan alam kepada manusia malah dibalas sangat serampangan. Tubuh alam disakiti sehingga alam tidak punya kesempatan untuk memperbaharui tubuhnya sendiri.
Tubuh alam yang demikian rupa tidak mudah untuk memperbaharui tubuhnya kembali. Regenerasi tubuh manusia dengan alam sangatlah berbeda. Alam butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan diri. Sehingga ketika bencana seolah alam yang memberikan hukuman kepada kita. Seolah alam memberikan racun (cinta yang beracun) kepada kita. Padahal nyatanya cinta kita lah yang beracun kepada alam.