Akhir pekan kemarin saya mendapat email dari sekolah Kano yang menginformasikan bahwa minggu ini adalah minggu ujian. Ujian yang akan diselenggarakan adalah SAT, ini adalah Scholastic Aptitude Test yang merupakan test standar yang biasa dilakukan di jenjang SMA yang hasilnya nanti akan diperhitungkan ketika akan memasuki jenjang universitas.
Yang menarik dari email yang saya terima itu adalah di akhir email, ditulis dengan huruf kapital: SOCK IT TO THE TEST POUDRE! Apa ini? Penasaran saya baca ulang email itu dan ternyata ada yang saya lewatkan, di situ di tulis: Spirit sock on here! See school casheer and pick up a pair. All proceeds go back towards school events... dan seterusnya.
Iseng-iseng saya berusaha mencari tahu, apa itu spirit socks. Ternyata memang kaus kaki lucu dan menurut saya sih bagus, dengan lambang impala, maskot sekolah dengan tanduk yang khas. Kemudian saya mulai berpikir, kenapa sampai ada kaus kaki spesial segala sih? Ini khan test yang selalu dilakukan setiap tahun bagi semua murid yang akan menyelesaikan jenjang SMA dan akan mulai memasuki jenjang perkuliahan.
SAT memang big deal! Tidak sembarangan, khususnya untuk mereka yang memang berencana untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Semakin baik hasil SAT semakin mudah memasuki universitas yang diinginkan. Hanya saja tidak semua murid SMA di sini mengambil SAT karena mereka tidak berencana akan memasuki pendidikan jenjang yang lebih tinggi. Berbeda sekali dengan di Indonesia.
Di Indonesia kuliah itu menjadi penting karena masa depan tergantung dari tingkat pendidikan. Dengan jumlah penduduk yang begitu besar dan tingkat persaingan untuk memperoleh pekerjaan yang sangat terbatas dan ketat, maka jenjang pendidikan menjadi sangat penting. Jika tidak, maka akan lebih sulit bersaing. Sarjana saja sangat sulit mencari pekerjaan, apalagi jika memiliki tingkat pendidikan terbatas? Ya, itu adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri. Umumnya memang begitu. Berbeda dengan di tempat saya tinggal sekarang. Selama memiliki skill yang dibutuhkan di dunia pekerjaan, tingkat pendidikan menjadi tidak terlalu penting. Memang banyak pekerjaan yang jauh lebih baik, lebih bergengsi dan lebih menjajikan karir yang gemilang jika memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Tapi untuk hidup, pekerja kasar saja sudah dapat jaminan yang cukup. Jadi wajar saja jika banyak murid SMA yang memilih untuk langsung bekerja, bahkan kelas 12 sebagian besar murid sudah memiliki pekerjaan di luar jam sekolah dengan jam kerja terbatas tentunya.
Contoh sederhana soal pekerjaan. Di kampus tempat saya bekerja, karena sistem yang sudah sangat mapan, pekerja kasar seperti petugas kebersihan, sudah memperoleh penghasilan yang lumayan, minimal 30 ribu dollar/tahun. Setelah bekerja selama 30 tahun, maka yang bersangkutan bisa pensiun dan menerima gaji pensiun sampai akhir hidupnya sebesar gaji terakhir. Jadi banyak memang pekerja hanya lulusan SMA bahkan banyak yang tidak selesai SMA. Anggap saja mulai bekerja dari usia 18 tahun, lalu bekerja selama 30 tahun. Pada usia 48 tahun yang bersangkutan jika menginginkan dapat pensiun dan terus menerima gaji hingga akhir hayatnya sebesar gaji terakhir yang diterima sebelum pensiun. Kebanyakan mereka memang pensiun dan mengambil kerja part time. Jadi disamping dapat gaji penuh dari dana pensiun, dia bisa mendapat gaji tambahan sebagai pekerja paruh waktu. Jangan salah bekerja paruh waktu itu bukan artinya bekerja hanya separuh, tapi bisa tetap bekerja 40 jam seminggu tapi bukan pekerja tetap dan masih memperoleh gaji sesuai jam, yang jumlahnya sangat lumayan. Bayangkan saja misalnya bekerja di restoran bisa memperoleh $16/jam, mendapat benefit berupa asuransi kesehatan dan sebagainya. Jika kerja 40 jam seminggu, maka penghasilan kotor bisa mencapai $2500/ bulan sebagai tambahan dari gaji pensiun!
Kembali ke kaus kaki (hehehe) Saya agak heran juga kenapa kok sampai ramai digembar-gemborkan soal kaus kaki menjelang ujian. Ternyata sesudah saya baca-baca, banyak hal-hal kecil yang dilakukan untuk memberikan semacam encouragement, semacam dorongan yang memompa semangat para murid. SAT itu bukan hal main-main sehingga butuh kerja keras apalagi jika mereka ingin memasuki universitas favorit, maka butuh hasil yang tinggi agar mampu bersaing. Dengan adanya pernik-pernik yang berusaha difasilitasi oleh sekolah, para murid merasa ada kebersamaan, mereka menanggung beban berat ini bersama-sama rekan-rekan yang lain. Dengan menggunakan atribut yang seragam (karena di sini sekolah tidak pakai seragam), maka ada rasa sepenanggungan. Ada rasa antusias yang dialami bersama. Ada perasaan terlibat dalam komunitas yang terbentuk dengan adanya keseragaman. Jadi beban yang mereka sedang tanggung seolah-oleh tidak dijalani sendirian. Misery loves company bukan? Kalau ini dianggap sebagai misery tentunya hahahaha.. Pada intinya ini bukan hal cliché yang dilakukan demi keuntungan finansial, toh keuntungannya akan disalurkan untuk kegiatan sekolah, tapi ada efek psikologis yang positif bagi para peserta ujian. Itu saja. Menarik ternyata ya.***