Tulisan pagi ini terpantik dari komentar Wibi di Wag ortu K-7, katanya aku udah mulai produktif nulis di AES. Aku jadi berefleksi, memang benar sih.. Dulu, meski selalu ada dorongan untuk menuliskan apapun, tapi aku selalu berakhir tidak menulis apa-apa. Bukan karena gak ada yg bisa/mau dituliskan, tapi kadang justru terlalu banyak. Kepalaku penuh. Padat. Kayak jalanan macet pas jam pulang kantor. Semua ide tabrak-tabrakan, bikin pusing sendiri. Tapi kini aku belajar untuk ngga mengandalkan kepala.
Terlalu lama aku selalu hidup di kepala, kini saatnya turun ke tubuh dan hati, dan biarkan aku menjadi saluran bagi apapun yang ingin muncul. Makanya tulisanku mungkin raw dan gak terstruktur. Niat mau bahas apa, tapi ke mana-mana dulu. Tadinya mau aku sunting jadi lebih padat, kan gampang tinggal lempar ke chatGPT, tapi jadi banyak detil yang hilang yang mungkin menambah rasa. Kayak rambutku yang susah rapi. Kadang aku jengkel, kadang malah sayang. Karena justru di kusut dan ikalnya, aku bisa lihat diriku sendiri seapaadanya. Tapi kalau kapan-kapan ingin tampil dengan “rambut lurus rapi” gapapa juga. Tapi di sini, aku ingin jujur apa adanya.
Lalu ada lagi soal teknis. Bagiku membuka ririungan itu agak ribet. Mungkin karena terbiasa pakai aplikasi yang serba mudah, jadi suka males kalau mesti buka di web. Pernah membuat akun lalu blas lupa username, password dsb. Jadi tambah males deh. Akhirnya aku bikin ulang password, lalu tempel shortcut-nya di home screen. Sekarang tinggal klik. Berasa aplikasi.
Selanjutnya adalah teknis posting tulisan. Tentu saja aku tersesat ketika coba-coba sendiri, karena aku malah buka sheet list AES di google drive, kupikir itu harus input manual. Untung gak aku apa2in. Tutup lagi aja. Dan tentu saja batal posting. Sampai akhirnya aku dibantu Mega step by stepnya. Oh ternyata mudah ya… hehe.
Tapi hambatan yang paling dasar untukku adalah rasa tidak layak, rasa tidak percaya diri, rasa tidak aman membuka diri dan terlihat rentan. Aku biasanya menulis jika ada tuntutan dari luar. Waktu belajar ttg Home Education Charlotte Mason selama 6 bulan, tiap minggu ada tugas membuat narasi, ya aku buat. Bisa… tapi kalau disuruh aja. Ini kebiasaan khas anak sekolah. Melakukan sesuatu karena disuruh aja. Sebagai tugas.
Dulu waktu kecil, (hampir) semua anak punya diary. Termasuk aku. Menurutku kebiasaan menulis di diary sangat baik untuk anak-anak, karena mereka jadi terbiasa menulis dan mengenal dirinya. Tapi aku merasa tidak nyaman menuliskan tentang perasaanku. Rasanya ini terjadi sejak diaryku yang kusembunyikan, dibaca oleh kakakku. Rasanya malu bukan main. Di rumahku memang kami tidak terbiasa mengekspresikan perasaan secara terbuka. Aku ingat waktu kelas 1 SD aku main sepak bola bersama teman-teman cowok, lalu aku terjatuh dan terluka. Rasanya sakit sekali dan ingin menangis, tapi aku pantang nangis di depan orang-orang, dan masuk ke mobilku yg parkir. Kalau nonton film yang mengharukan bareng orangtuaku, aku berusaha menutupi rasa haru dan air mata yang meleleh di pipi. Begitu juga dengan rasa marah, selalu ditekan dengan bayang-bayang menjadi anak durhaka. Mungkin hanya orangtua saja yang boleh marah, kepada anaknya. Aku terlatih untuk nggak jujur dengan diri sendiri, untuk menekan emosiku. Tentu saja itu bagian dari kontrak jiwa. Tak ada yg perlu disesali. Karena ketika aku beranjak dewasa dan “punya hak” untuk menentukan jalan hidupku sendiri, aku belajar banyak dari pengalaman itu. Dan nggak ada berhentinya, karena selalu ada hal baru yang kupelajari.
Tapi mungkin ini sebabnya aku suka ngerasa ngga nyaman setelah menulis. Kayak ngga nyaman dengan diri sendiri. Misal malam aku nulis, paginya aku baca lagi dan langsung “meh”, trus aku buang deh. Apalagi kalau tulisan jujur melibatkan perasaan. Aku pernah berpikir, menulis itu harus masuk akal, harus punya struktur. Makanya yang keluar ya tulisan ilmiah terus. Kaku. Datar. Aman. Padahal aku gak suka gaya seperti itu.
Setelah aku berproses cukup lama dengan diriku dan mulai bisa menerima diri, semua terasa beda. Mulai dengan nulis jurnal. Aku juga ga rajin, tapi memulainya.
Dan ternyata, proses menerima tulisanku sendiri itu mirip banget dengan pengalaman lamaku soal suara. Dulu aku suka nyanyi, tapi pas denger rekaman suaraku, rasanya ‘yuck’ banget. Sampe gak sanggup denger. Padahal orang lain bilang baik2 aja, malah punya ciri. Nyanyi di smule adalah jalan ninjaku untuk menerima suaraku sendiri. Suaraku memang bukan tipe yang merdu dan jernih sih, tapi aku menyadari, kalau aku nyanyi dengan kehadiran sepenuh jiwa, ketidaksempurnaan, parau, dan retakan itu jadi punya rasa sendiri. Ngga usah takut untuk ngga sempurna.
Jadi kalau sekarang kamu ngerasa stuck, susah berekspresi, mungkin emang ada lapisan-lapisan ilusi yang pelan-pelan minta dilihat. Gak harus dibongkar semua sekaligus. Satu retakan kecil aja cukup buat cahaya masuk.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7690/aes015-duduk-bersama-emosi
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7684/aes013-cara-mengaktifkan-vagus-nerve
Keren refleksinya ini Dini. Terima kasih sudah berbagi. 🙏🏼😊