Lima belas tahun yang lalu, aku ikut membantu Sony (waktu itu kami belum menikah) dalam pembuatan film pendek semi dokumenter untuk program literasi media The Habibie Center yang bertema perdamaian dan toleransi. Judulnya Fighting for Nothing. Film ini dibuat sebagai materi edukasi bagi remaja dan pelajar di daerah konflik, di mana pertikaian dan tawuran antarwarga sering pecah akibat berita yang simpang siur. Banyak pelajar terlibat karena minimnya literasi media.
Tokoh utama film ini seorang remaja SMA yang terlibat langsung dalam tawuran. Kami buat animasi 2D sederhana agar bisa menampilkan adegan tawuran tanpa harus syuting live action. Di sela-sela film, kami selipkan wawancara dengan beberapa remaja, mereka berbagi pandangan tentang toleransi dan pengalaman terkait keterlibatan tawuran. Di akhir film, tokoh utama mengalami sendiri bahwa tak ada beda antara dia dan “musuhnya” ketika menjadi korban dalam tawuran tersebut. Ketika film pendek ini diputar di daerah konflik seperti Ambon dan Poso, banyak penonton menangis. Mereka merasa tersentuh karena cerita itu begitu dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Kami berangkat dari pemaknaan tentang Bhinneka Tunggal Ika, semboyan negara kita yang seringkali hanya menjadi hafalan di sekolah, tidak benar-benar dimaknai dan dihidupi dalam keseharian. Semua anak Indonesia pasti tahu artinya: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Tapi jujur saja, banyak dari kita yang fasih mengucapkan tanpa sungguh menghayati. Saat sekolah, mungkin keperluan kita hanya sebatas menjawab soal ulangan saja. Nyatanya, masyarakat kita masih sering bertikai karena perbedaan suku, perbedaan agama, bahkan perbedaan pilihan politik. Polarisasi terasa semakin kuat sejak 2014. Selama orang masih melihat perbedaan sebagai ancaman, atau merasa kebenaran miliknya paling benar, di sanalah semboyan itu berhenti di kata-kata. Hanya bunyi tanpa jiwa.
Beberapa waktu lalu aku menonton ulang film tersebut, dan kusadari ada lapisan makna baru muncul dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam perspektif kebangsaan, maknanya adalah berbeda-beda namun sama-sama manusia Indonesia. Dalam konteks film, maknanya adalah kita sama-sama manusia. Namun jika ditarik lebih dalam, makna semboyan itu bisa melampaui batas kebangsaan, menyentuh kesadaran yang universal. Bahwa segala yang nampak berbeda di muka bumi ini: manusia, hewan, tumbuhan, alam, semesta—semuanya adalah ekspresi dari satu kesadaran yang sama. Seperti ombak-ombak yang nampak terpisah, tapi sesungguhnya berasal dari satu lautan yang sama. Ini adalah sudut pandang non-dualitas. Tauhid yang sejati.
Pandangan ini selaras dengan pemikiran Mpu Tantular, seorang pujangga dari masa kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Dalam Kakawin Sutasoma pupuh 139 bait 5 beliau menulis “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Dari sinilah para pendiri bangsa mengadaptasi frasa Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan NKRI. Arti kalimat di atas adalah "Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecahbelahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.”
Saat itu, Mpu Tantular menulisnya untuk merangkul perbedaan antara ajaran Siwa dan Buddha pada masa itu, yang sering jadi pertikaian. Namun di kedalaman Mpu Tantular tahu bahwa meskipun dua keyakinan besar itu tampak berbeda dalam bentuk ibadah dan filsafat, tapi keduanya bersumber dari kebenaran yang sama. Sejak awal, semboyan ini lahir dari kedalaman spiritual. Ia berbicara tentang kebenaran yang tak terbelah, yang melihat keberagaman sebagai pantulan dari satu sumber yang tunggal, seperti cahaya putih yang terbias menjadi banyak warna.
Namun manusia sering terjebak dalam ilusi keterpisahan. Kita merasa Tuhanku berbeda dengan Tuhanmu, jalanku paling benar, yang lain belum tentu. Kita membayangkan Tuhan sebagai sosok di luar diri, yang mengawasi dari atas sana. Baik theis maupun atheis, masih berbicara dari ruang kepercayaan, bukan pengalaman. Padahal spiritualitas sejati adalah tentang mengalami, bukan sekedar percaya.
Bagi seseorang yang belum pernah mengenal buah pisang, ia hanya akan sebatas percaya bahwa buah pisang itu warnanya kuning, bentuknya lonjong dan rasanya manis. Mungkin dari cerita orang-orang yang sudah pernah memakannya. Dia tentu saja bisa menceritakan ulang kepada orang lain bahwa buah pisang itu begini begini. Ada juga orang yang tidak percaya ada buah seperti pisang, karena dia memang belum pernah menemukannya. Namun bagi yang sudah pernah melihat dan memakannya, tak ada lagi ruang bagi kepercayaan, karena ia telah mengalami.
Begitu pula dengan Ketuhanan. Semua agama, semua jalan, sejatinya adalah cara untuk mengalami kesatuan dengan yang Ilahi. Dalam pengalaman itu, tak ada lagi jarak, karena yang menyembah dan yang disembah menyatu dalam satu kesadaran. Saat itu, segalanya menjadi doa tanpa kata. Begitulah aku memaknai Bhinneka Tunggal Ika, bahwa keberagaman hanyalah cara Sang Tunggal menatap dirinya melalui mata yang tak terhitung jumlahnya. We are spiritual beings having a human experience. ❤️