Sudah tiga hari kami menetap di Sumba.
Setiap pagi kami awali dengan berdoa, lalu berjalan-jalan ke sekitar untuk menyongsong sang fajar. Dan kami belum terbiasa mendapatkan keindahan sepagi ini.
Siang hari disini memang terik, bisa ku bayangkan bila aku berdiam diri di tengah lapangan 30 menit saja, sepertinya aku akan goyah. Namun, untungnya masih banyak pohon rindang yang menaungi kami dari terik itu, juga angin sepoi-sepoi yang senantiasa memberikan kesegaran.
Malam hari selalu kami tutup dengan evaluasi lalu menikmati ratusan bintang yang rasanya menyapa kami dari kejauhan.
Bintang-bintang yang tidak tampak di Bandung karena ulah kami sendiri, yang terlalu banyak memasang cahaya sehingga bintang kehilangan maknanya.
Disini, kami dibatasi untuk hal-hal yang sangat melimpah di Bandung, sinyal misalnya. Namun sebagai gantinya kami disuguhi pemandangan indang tanpa henti, tanpa usaha. Bahkan sekedar membuka pintu saja sudah bisa kami lihat langit bingu bersama awan-awannya.
Begitulah “Sepenggal cerita perjalanan Sumba Ep. 00”