Apa itu keadilan? Ada yang mendefinisikan keadilan? atau keadilan itu hanyalah sebuah kata-kata dan bahkan mitos, entahlah. Keresahanku berkutat disana, perihal konsep keadilan, mengapa harus ada yang lebih kurang dan lebih sekali?, mengapa semuanya tidak sama rata saja?. Semua pertanyaan itu mungkin akan dihembuskan oleh angin dan entah kapan jawabannya akan nampak. Mungkin keadilan hanya ada di langit, dan aku terlalu lama memijaki bumi. Segala kecemburuan, dari si miskin dan kurang puasnya si kaya, terus saja berputar disana seperti ruminasi yang tidak berkesudahan. Aristoteles mendefinisikan keadilan sebagai keseimbangan yang dicapai melalui kesamaan numerik dan proporsional. Keadilan merupakan keutamaan yang sempurna dan lebih baik daripada keutamaan lainnya. Kesamaan numerik dan proporsional dan merupakan keutamaan yang sempurna dari keutamaan lainnya, tapi yang kulihat keutamaan di negeri ini hanyalah keserakahan dan kepentingan beberapa golongan. Apakah suara kita akan di dengar? oleh para pejabat-pejabat yang dengan antengnya duduk sambil memegang cawan kemenangan. Pernyataan Aristoteles sangat ideal bagiku, keadilan memang keutamaan yang harus didapatkan oleh manusia, dan bahkan di pancasila pun keadilan disebutkan di sila ke-5. Namun penerapannya tak lebih dari khayalan siang bolong belaka, realitasnya kita masih mencari definisi dari keadilan.
Harus berapa banyak tokoh-tokoh yang mati karena menyuarakan keadilan?, harus berapa banyak lagi tokoh-tokoh yang hilang tak ada kabar karena menyuarakan kebenaran. Apa salahnya manusia memperjuangkan hak manusia, apakah salah sekarang menjadi manusia yang manusia, sepertinya menjadi manusia bagi manusia adalah masalah buat manusia. Ayolah, apakah ada keadilan itu? apakah terselip diantara tiang listrik? atau dibawah jalan aspal?, atau diantara serakan paku dipinggir jalan? atau bahkan dibawah meja warteg? mungkin ada dibalik kursi becak?. Maksudnya kenapa makin susah gitu toh, untuk setidaknya menikmati keadilan. Seni hadir sebagai alat untuk menyuarakan kebenaran, tapi malah dibungkam. Apakah jaman sekarang menyuarakan pendapat menjadi sebuah kesalahan? Apa yang terjadi di negeri ini sih?
Linimasa sosial media kini penuh dengan berita-berita negatif tentang negeri ini, beberapa kebijakan yang merugikan, memangkas dana dari aspek yang paling penting di negeri ini yaitu pendidikan. Jepang di bom oleh Amerika, mereka hancur lembur, lalu langkah pertama yang mereka lakukan adalah mencari guru, dan membangun pendidikan. Karena pendidikan menjadi fondasi yang paling utama. Lantas dimana letak keadilannya, jika sekarang untuk merasakan pendidikan yang ideal harus mengeluarkan dana yang lebih. Bukankah pendidikan itu hak semua bangsa?.
Pada akhirnya keresahanku ini tidak lebih penting dari apapun, sebenarnya aku hanya sedih saja, melihat negaraku kini berjalan pincang, dan sayap garudak telah lama patah, sang saka merah putih telah lama lusuh. Semoga semua rakyat Indonesia ada dalam lindungan Allah Swt.