Seperti biasa hari sabtu adalah hari bersantai. Melepas lelah setelah berkegiatan pada hari-hari sebelumnya. Hari yang pas untuk meluruskan badan, mengisi perut dengan nyaman tanpa terburu-buru. Menikmati berdiam diri di rumah yang fungsinya lebih mirip vila dibandingkan dengan rumah, hanya kami gunakan untuk tidur dan bersantai saat weekend. Itu pun tidak setiap weekend. Maafkan kami rumah.
Hari ini pun sama kami berniat untuk hanya bersantai di rumah karena minggu-minggu sebelumnya kami pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum terpotong libur lebaran. Hari ini kami ingin memasak bersama dan menikmati rumah.
Suara adzan berkumandang, kami berbuka dengan rasa sukacita. Memasak tuna krispi sambal rica dan tumis buncis jagung muda sudah cukup membuat kami bahagia sampai menghabiskan nasi jatah sahur. Cendol dan pir potong pun tersingkir sebagai menu takjil menjadi menu penutup. Ah weekend di rumah memang menyenangkan tidak perlu bergelut dengan kemacetan dan kehebohan restoran yang menjadi tempat buka bersama belum lagi perlu menyetir setelah kenyang, siapa yang mau? hahaha
Setelah beberapa saat kami menonton film bersama, aku ingat aku sudah menyiapkan teh susu kesukaanku dalam termos insulasi berisi es! Suara es batu yang menyenggol dinding gelas menambah semangatku untuk mencicipinya. Rasanya segar dan tidak terlalu manis, aku suka sekali ternyata anak-anak pun sama mereka menyukainya dan membawa termos itu ke ruang TV.
Disinilah keseruan dimulai. Aku sudah mewanti-wanti mereka untuk menutup dengan rapat termos itu nyatanya mereka menghiraukannya beberapa menit kemudian 1.5L termos berisi minuman manis itu tumpah. Wajah mereka berubah instan seperti warna teh susu itu, pucat dan buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil lap. Celakanya tumpahan teh susu itu menyebar kedalam retakan lantai vinyl. Situasi horor menyebar keseluruh ruangan.
Area TV bersebelahan dengan taman indoor, setelah beberapa tahun hal itu membuat lantai vinyl lembab dan rusak. Kami memang menutup mata atas kerusakan lantai itu, nanti akan diperbaiki, nanti sampai hari ini. Kejadian ini membuat kami perlu 'membereskannya'. Membongkar lantai vinyl, membersihkan rembesan minuman yang menyebar kedalamnya, kerja bakti dadakan. Baru setengah beres adik menumpahkan lagi minuman itu dari gelasnya. Hahahaha rupanya makan enak barusan adalah sumber tenaga lahir batin kami sebelum dikuras untuk membereskan kekacauan ini.
Tak terasa sudah pukul 10 malam, anak-anak sudah naik duluan untuk tidur. Aku dan Fajrin kemudian menepi ke taman luar untuk mencari angin, hanya duduk dan memandang langit.
Fajrin menepuk pundakku, sambil tertawa. What a day. Katanya selalu ada waktu jatuh tempo untuk menyelesaikan tugas yang ditunda-tunda. Seperti hari ini kami dipaksa untuk membereskan lantai vinyl yang lapuk. Hanya saja anak-anaklah yang jadi pencetusnya. Keterpaksaan membawa kami semua untuk membereskannya. Katanya mungkin si rumah sudah tidak tahan dengan itu jadi dia memanggil anak-anak untuk menumpahkan sesuatu yang manis dan itu adalah minuman favoritmu jadi kamu yang marah akan melampiaskan energimu untuk membereskannya.
Aku hanya bisa tertawa mendengarnya, rasanya memang sedikit berkurang beban itu tapi aku bilang energiku belum habis, besok aku akan melanjutkan membereskan rumah lagi mumpung masih ada hari. Mengindahkan keinginan si rumah yang belum selesai.
Hahahaha... mirip cerita saya kemarin, gara-gara kaki kram jadi tahu toren kosong :D