Subuh-subuh aku sudah terbangun jam 5 pagi, dan rasa cape bekas latihan dance semalam masih sangat terasa. Tapi, aku harus tetap memaksakan diri demi tujuan utamaku hari ini, yang sampai membuatku izin pulang duluan dari kegiatan penjelajahan. Setelah bersiap-siap, aku dan keluargaku langsung menuju ke pool travel Bandung - Jakarta sekitar jam 6 lebih karena travel kami dijadwalkan berangkat jam 07.00. Begitu masuk ke travel dan perjalanan dimulai, aku akhirnya bisa melanjutkan tidur yang singkat tadi.
Kami tiba di Jakarta sekitar jam 09.30 dan turun di Mangga Dua Square. Lokasi lomba sebenarnya di Mall Gajah Mada Plaza yang berjarak sekitar 7 km, atau harusnya hanya memakan waktu 19 menit aja. Namun, drama dimulai saat kami naik taksi. Di sepanjang jalan ternyata sedang ada proyek pembangunan MRT yang membuat banyak akses jalan ditutup. Alhasil, supir taksi harus putar balik jauh banget. Supir taksinya bahkan sampai ngomel, “Aduh, ini ga tau sampai kapan beresnya… bisa-bisa 2039 baru beres,” kata beliau. Menurutku pun pembangunan ini memang cukup mengganggu akses menuju mall dan jalanan di sekitarnya karena perjalanan yang harusnya singkat malah membengkak jadi setengah jam.
Setelah melewati drama kemacetan, kami akhirnya sampai di tujuan sekitar jam 10an. Karena jadwal lomba pertamaku baru jam 4 sore, waktunya masih terbilang sangat panjang. Aku pun memutuskan untuk meminta MUA mendahulukan hairdo saja. Kebetulan untuk lomba kali ini aku memakai jasa MUA karena detail make up dan hairdo nya cukup rumit, sampai-sampai mami menyerah dan lebih memilih untuk bayar orang saja. Pertimbanganku mendahulukan rambut adalah agar nanti saat makan siang, makeup yang sudah full tidak rusak atau luntur, jadi tidak perlu repot touch-up lagi. Selesai ditata rambutnya, aku jalan-jalan di mall bareng teman-teman, beli Tomoro, menonton penampilan anak-anak dari divisi lain yang mendapat jadwal tanding siang, sekaligus berkenalan dengan guru-guru Rockstar dari cabang lain. Setelah puas berkeliling, aku menikmati makan siang ramen yang merupakan salah satu makanan favoritku, baru setelah itu aku masuk ke sesi makeup.
Mulai jam 3 sore, aku bergegas berganti kostum untuk kategori lomba Duo. Aku dan temanku, Elvina, memutuskan untuk mendengarkan lagu koreo kami lewat earphone masing-masing sambil sedikit sedikit menggerakan koreo kami secara mandiri terlebih dahulu. Baru setelah jam menunjukkan pukul 15.30, kami mulai latihan bersama. Proses registrasi ulang berjalan lancar dan kami mendapatkan nomor urut 5. Sembari menunggu giliran di ruang antrian, aku terus menanamkan mindset untuk memberikan penampilan terbaik, meskipun sebenarnya ada banyak hal yang mengganjal di hati.
Jujur, tim kami seperti diberikan lagu yang "seadanya" oleh guru kami. Karena beliau tidak hanya melatih kami tetapi juga melatih tim lain, sangat terlihat kalau lagu dan koreografi tim yang lain itu tim B jauh lebih bagus dan matang. Aku sendiri sebenarnya sudah sempat komplain mengenai masalah pemilihan lagu ini kemarin, tapi sayangnya aku hanya dikacangin begitu saja. Ditambah lagi dengan kostum kami yang terkesan disiapkan seadanya. Rasanya seolah-olah guru kami memang lebih memihak dan menginginkan tim B sebagai pemenang. Hal itu sempat membuatku agak sedih sih, tapi karena sudah terlalu mepet untuk mengganti lagu, aku hanya bisa mengikhlaskan keadaan dan tetap fokus memberikan yang terbaik. Pada kenyataannya, prediksiku terbukti benar. Tim B yang dilatih oleh guru yang sama berhasil meraih peringkat kedua, sedangkan tim kami sama sekali tidak mendapatkan peringkat. Ini sudah bisa ku prediksi dari pengalamanku selama tiga tahun menjadi murid dance di bawah bimbingannya. Beliau menganakemaskan murid tertentu secara terang-terangan.
Cerita berlanjut ke kompetisi untuk kategori divisi tim. Tim kami bernama “Skilled” yang beranggotakan 12 orang. Walaupun dalam waktu dekat akan berkurang menjadi 11 orang karena aku sudah memantapkan diri untuk keluar dari Rockstar dengan banyak pertimbangan. Setelah semua anggota siap dengan makeup, hairdo, dan kostum, kami mendapat nomor urut pertama di divisi kami. Berdasarkan jadwal, kami naik ke atas panggung jam 19.55. Syukurnya, semua trik dan koreografi yang kami bawakan berjalan dengan sangat lancar. Begitu turun panggung, kami langsung minum dan kembali ke area penonton untuk menyaksikan penampilan tim-tim setelah kami.
Pada saat menonton ini, tiba-tiba aku kembali merasakan rasa kesalku terkait sikap guru kami yang pilih kasih. Anak berinisial D, dia selalu ditaruh di posisi tengah 90% dari keseluruhan koreografi. Menurutku pribadi, penempatan formasi itu sebenarnya sah-sah saja sebagai bagian dari strategi jika alasannya untuk menutupi anak-anak yang dancenya secara skill dan jam terbang belum sebagus yang lain. Tapi secara individual tiap anggota di tim ini, itu mayoritas bagus. Masalahnya, si D ini memang sering kelas privat dengan guru tersebut. Bahkan setiap kali perlombaan selesai, orang tua si D sering tiba-tiba menghampiri guru kami untuk memberikan amplop atau bukti transfer senilai 5-6 juta sebagai tanda terima kasih. Di mataku, tindakan itu pada dasarnya sama saja dengan menyogok agar posisi anaknya tetap aman di tengah. Aku sendiri tahu kalau orang tua D pernah dijuluki sebagai “Warren Buffett”nya Bandung dalam sebuah seminar yang pernah dibintanginya. Tapi tetap saja, dalam sebuah kompetisi harusnya semua berjalan adil tanpa ada campur tangan uang. Aku merasa coach kami sudah dibutakan oleh uang, sehingga D akan selalu menjadi murid nomor satu di mana pun dan kapan pun. Ya, beginilah realitanya, dunia adalah tempat uang menjadi kuasa dan sulit untuk dikontrol.
Tapi ya sudahlah, aku rasa inilah gambaran dunia nyata yang harus dihadapi. Paling tidak, aku tetap bersyukur karena pada akhirnya tim Skilled berhasil membawa pulang peringkat kedua, dan aku bisa langsung pulang setelah seluruh jadwal acara selesai. Kompetisi kali ini benar-benar membuka mataku tentang sisi gelap di dalam tim ini. Itulah alasan kuat mengapa aku memutuskan untuk keluar. aku sudah tidak tahan lagi menghadapi ketidakadilan yang terus berulang selama setahun lebih ini tanpa adanya tanda-tanda perbaikan di masa depan.