AES001 Benarkah... Kita Jadi Gak Sabaran dan Jahat karena Kapitalisme??
Vhania
Monday June 8 2026, 12:33 PM
AES001 Benarkah... Kita Jadi Gak Sabaran dan Jahat karena Kapitalisme??

Kalau dipikir-pikir, ada masa di mana hidup kita sebagai manusia belum disetir total oleh logika kapitalisme. Dulu, masyarakat praindustri kalau bikin kerajinan, masak, bertani, atau bangun rumah dilakukan sebagai bagian dari keseharian aja. Pekerjaan belum sepenuhnya dipisahkan dari keseharian manusia dan tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas untuk memenuhi tuntutan pasar. Mereka kerja karena ada dorongan alami manusia untuk mencipta, bereksperimen dan memberi bentuk pada pengalaman hidup.

Sayangnya, makin ke sini, logika serba duit itu perlahan menggeser cara kita memandang segalanya. Sadar atau ga, banyak kelelahan yang kita rasain tiap hari itu bukan melulu soal masalah pribadi. Stres, gampang kepancing emosi, atau merasa dikejar waktu terus-terusan—itu semua adalah efek samping dari sistem yang nuntut kita buat gerak terus tanpa jeda. Kita dicuci otak untuk percaya bahwa berhenti sebentar adalah kesalahan dan bentuk kegagalan diri. Dalam banyak hal, kita lebih sering melayani kebutuhan sistem daripada kebutuhan diri sendiri.

Begitu kita sadar, ujung-ujungnya kita bakal mentok di pertanyaan: "Sistem ini udah jalan ratusan tahun…terus mau diapain?" Hmmm mungkin benar bahwa kapitalisme adalah sistem yang saat ini paling mampu menggerakkan ekonomi dalam skala global. Namun menerima keberadaannya tidak harus berarti menerima seluruh konsekuensinya. Masih ada ruang untuk bertanya bagaimana kita bisa hidup dengan lebih manusiawi di dalamnya. 

Saya menemukan gambaran kecil tentang apa yang saya cari dalam pengalaman magang dua bulan terakhir di Co-op. Koperasi—yang selama ini mungkin hanya saya kenal sebagai konsep dalam buku pelajaran—ternyata persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Aktivitas ekonomi tidak selalu harus berpusat pada keuntungan semata. Ada perhatian pada relasi, ada upaya untuk saling mendukung, dan ada kesadaran bahwa sebuah komunitas hanya bisa bertahan jika orang-orang di dalamnya ikut bertumbuh berbagi ruang, nilai, dan kepedulian yang sama. Saya mulai memahami bahwa masih ada upaya-upaya kecil untuk membayangkan cara hidup yang berbeda.

Mungkin kita memang tidak bisa mengubah arah ekonomi global begitu saja. Tetapi mengetahui bahwa masih ada ruang yang berusaha menempatkan manusia di atas angka, relasi di atas akumulasi memberi saya alasan untuk tetap berharap. Di situasi dunia yang seperti ini, sepertinya optimisme dan keyakinan bahwa hal kecil itu berarti sudah jadi bentuk resistensi tersendiri.